60 PUSKESMAS BERPARTISIPASI DALAM SAINTIFIKASI EMPAT JAMU

         Jakarta, 30/4 (ANTARA) - Sebanyak 60 pusat kesehatan masyarakat  berpartisipasi dalam uji coba saintifikasi empat jenis jamu yaitu untuk antihipertensi, antidiabetes, antikolesterolinia, dan formula antilipidemia yang hasilnya diharapkan sudah didapat pada Desember 2012.

        "Setelah mencapai jumlah (pasien) tertentu dan terbukti ampuh, baru akan digunakan secara luas. Akhir tahun ini akan diumumkan hasilnya," ujar Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Tradisional, Alternatif, dan Komplementer Kementerian Kesehatan Abidinsyah Siregar di Jakarta, Senin.

        Kementerian Kesehatan telah melakukan saintifikasi terhadap empat jamu yaitu antihipertensi, antidiabetes, antikolesterolinia dan formula antilipidemia menggunakan ramuan tradisional yang telah dikenal sejak ribuan tahun silam.

        "Sekarang baru diujicobakan, tapi nanti jika telah dinilai ampuh, izin peredaran tetap harus diberikan oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan terlebih dulu," ujarnya.

        Penelitian terhadap kualitas obat tradisional menjadi salah satu prioritas bagi Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Kesehatan, sebagai dukungan terhadap kebijakan untuk mengintegrasikan pengobatan tradisional tersebut ke dalam sistem layanan kesehatan.

        Saat ini, sebanyak 36 RS telah menyediakan layanan pengobatan alternatif dan komplementer, 30 Puskesmas yang telah menyediakan layanan akupressur serta 42 Puskesmas menyediakan obat ramuan.

        Jumlah RS yang melengkapi layanannya dengan pengobatan tradisional diharapkan bertambah hingga 46 RS pada 2012 dan 56 RS pada 2013 serta 70 RS pada 2014.

        Untuk obat tradisional yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji pra-klinik dan uji klinik atau disebut fitofarmaka, tercatat ada 38 merek yang telah beredar.

        Abidin menyebutkan, kebanyakan obat tradisional itu dibutuhkan untuk kondisi promotif dan preventif dibandingkan kuratif (pengobatan).

        "Secara statistik, orang sakit hanya sekitar 3-5 persen di masyarakat, 95 persen sisanya dalam kondisi promotif/preventif," ujarnya.

        Jamu sendiri telah dikenal luas oleh masyarakat dimana Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 80 persen penduduk Asia dan Afrika bergantung pada obat tradisional untuk perawatan kesehatan primer.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News