ANIMO MASYARAKAT KEMBANGKAN KERAJINAN RENDAH

Muntok, Bangka Barat, 13/10 (ANTARA) - Animo masyarakat Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung, mengembangkan usaha kerajinan masih rendah karena dinilai kurang menguntungkan dibandingkan sektor pertambangan dan perkebunan.

"Biaya dan waktu produksi bidang usaha kerajinan tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh, mengakibatkan para perajin memilih profesi lain seperti menambang timah dan berkebun," ujar Kepala Seksi Industri Kerajinan pada Disperindagkop Bangka Barat, Rusila Jaya di Muntok, Kamis.

Ia menjelaskan, kerajinan hanya sebagai usaha sampingan dan dikerjakan setelah para perajin selesai berkebun dan mengisi waktu luang, karena produk mereka kurang laku di pasaran dan tidak ada pesanan.

Menurut dia, belum ada pihak swasta yang berminat mengembangkan dan bekerja sama dengan para perajin untuk memasarkan produk kerajinannya ke luar daerah yang menyebabkan kerajinan tidak berkembang.

"Untuk jumlah perajin secara akurat kami tidak tahu karena belum pernah dilakukan pendataan, namun setiap kecamatan ada beberapa perajin yang masih aktif," ujarnya.

Ia menjelaskan, beberapa tahun lalu di Kecamatan Muntok terdapat puluhan perajin tenun, namun kini sudah tidak ditemukan lagi karena permintaan pasar kurang dan perajin tidak dapat menutup biaya produksi yang tinggi.

Ia mengatakan, banyak perajin yang beralih profesi menjadi penambang bijih timah atau pedagang karena hasilnya lebih banyak dan langsung mandapatkan uang.

Namun seiring menipisnya kandungan timah yang ada di Pulau Bangka, ia yakin, suatu saat industri kerajinan akan diminati masyarakat seiring perkembangan sektor pariwisata dan meningkatknya jumlah wisatawan luar daerah dan mancanegara datang ke Bangka.

"Industri kerajinan berhubungan erat dengan sektor pariwisata, karena biasanya pembeli sebagian besar adalah pendatang yang ingin mendapatkan sesuatu yang khas untuk oleh-oleh," ujarnya.

Menurut dia, bentuk khas kerajinan Bangka seperti kopiah resam, motif cual dan kerajinan akar bahar sebaiknya dipertahankan dan jika memungkinkan ditingkatkan karena produk tersebut memiliki kekhasan dan layak menjadi ikon daerah.

"Kami akui untuk harga kain cual dan kopiah resam masih terlalu tinggi karena belum ditemukan metode yang mempermudah proses praduksinya, tetapi seiring perkembangan tehnologi dan kebiasaan perajin tentu suatu saat harganya akan tejangkau masyarakat," ujarnya.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News