Bangka Barat akan bentuk KIM di setiap desa

Muntok, Bangka Barat (ANTARA) - Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan membantu terbentuknya Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di setiap desa untuk menjembatani penyebaran informasi yang bermanfaat.

"Keterbatasan penyebaran informasi dari pemerintah daerah ke masyarakat menjadi salah satu kendala kurang maksimalnya gerak pembangunan, dengan adanya KIMĀ diharapkan mampu menjembatani kendala tersebut," kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bangka Barat, M Kaidi di Muntok, Senin.

Sampai saat ini di Kabupaten Bangka Barat sudah terbentuk sebanyak 11 KIM dan telah mendapatkan legalitas dari pemkab setempat.

Sebanyak 11 kelompok itu terdapat di Kecamatan Kelapa tiga kelompok, Muntok dua kelompok, Jebus satu kelompok, Parittiga dua kelompok dan di Kecamatan Simpangteritip tiga kelompok.

"Kami targetkan di seluruh 64 desa/kelurahan nantinya berdiri KIM yang digerakkan para pemuda agar kelompok itu aktif dan memberi manfaat bagi warga di sekitarnya," ujarnya.

Menurut dia, agar KIM yang sudah terbentuk di beberapa desa mampu menjadi jembatan informasi baik dari pemerintah ke masyarakat maupun sebaliknya, dibutuhkan pengelola yang aktif, peduli dan memiliki keinginan untuk maju dan memajukan desanya.

"Pengelola KIM perlu ditangani para pemuda, toh saat ini sudah banyak warga desa yang sarjana dan diploma, mereka perlu digerakkan karena cukup potensial untuk menjadi penggerak pembangunan desa," katanya.

Dengan adanya KIM diyakini akan memudahkan dalam penyebaran berbagai informasi yang dibutuhkan masyarakat, seperti berbagai program dan kegiatan pemerintah daerah yang menyentuh langsung ke masyarakat.

Selain menyebarkan informasi dari pemerintah, KIM juga menjadi wadah untuk mengelola berbagai informasi potensi desa masing-masing sehingga mendukung upaya promosi berbagai produk unggulan warga di lingkungan desa.

Untuk memudahkan penyebaran informasi, pihaknya sudah membekali para pengelola dengan berbagai pelatihan, seperti penulisan informasi dengan kalimat sederhana, pengunggahan gambar, foto dan infografis yang berkualitas.

Selain itu, para pengelola juga dibekali pemahaman mengakses informasi yang benar untuk mencegah kemungkinan terjadinya penyebaran berita bohong atau hoaks.

Sumber: 
babel.antaranews.com
Penulis: 
Donatus Dasapurna Putranta