BANGKA BARAT BUTUH ENERGI GUNA KELOLA SDA

         Muntok, 1/6 (ANTARA) - Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung membutuhkan energi yang berlimpah untuk mengelola sumber daya alam (SDA) dan mineral, agar memiliki nilai jual lebih tinggi sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru.

        "Setelah tersedia energi berlimpah, daerah ini juga membutuhkan tehnologi tingkat tinggi agar mampu mengelola potensi mineral tambang yang ada dan terbentuk banyak industri baru yang mampu mengurangi pengangguran di daerah itu," ujar Bupati Bangka Barat Zuhri M Syazali di Muntok, Jumat.

        Menurut berbagai penelitian yang telah dilakukan, Bangka Barat memiliki potensi mineral luar biasa, namun sayang sampai saat ini belum dikelola dengan baik.

        Oleh karena itu investor enggan masuk ke daerah itu dengan alasan minimnya ketersediaan energi untuk mengolah berbagai mineral tersebut.

        "Untuk saat ini para investor enggan masuk ke Bangka Barat karena energi yang disediakan PT PLN tidak mampu mendukung industri tersebut. Untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga warga Kota Muntok saja, listrik yang ada 'hidup segan, mati tiap hari'," ujarnya.

        Ia mencontohkan, China mampu mengelola timah Sn 50-an atau yang biasa disebut warga sebagai 'timah tai bebek' menjadi timah kualitas nomor satu, sementara Indonesia yang memiliki timah Sn-70 ke atas tidak mampu membuat menjadi nomor satu.

        Selain itu, selama ini Indonesia hanya bisa menjual mineral ikutan atau 'tin slug' yang memiliki kandungan mineral tanah jarang dan bernilai tinggi dalam bentuk bahan baku, karena belum memiliki tehnologi untuk mengolah menjadi barang setengah jadi, apalagi barang jadi.

        "Sungguh, ini sangat disayangkan hanya karena kurang energi, kita tidak bisa menjadi nomor satu, untuk itu kami minta warga menyadari kita masih sangat kekurangan energi untuk mengembangkan hal tersebut," ujarnya.

        Selain potensi timah, masih banyak potensi pertambangan lain yang sampai saat ini masih dijual dalam bentuk bahan baku seperti thorium, zircon dan berbagai mineral ikutan lain yang ada di daerah itu.  
   Ia mengatakan, rencana PT PLN Persero membangun PLTU di kawasan Batu Berani, Muntok belum cukup untuk memenuhi kebutuhan industri tersebut karena hanya memiliki kapasitas 2X7 megawatt.

        "Untuk mencukupi kebutuhan industri pengolahan mineral tanah jarang yang melimpah di Bangka Barat, membutuhkan energi alternatif lain, namun sekali lagi ini jangan 'dipelintir', mari sama-sama bicara kepentingan pembangunan daerah jauh ke depan," ujarnya.

        Ia mengajak warganya sadar bahwa tanah yang dipijak saat ini memiliki kandungan mineral melimpah dan tidak akan habis sampai kapanpun, karena daerah itu memang kaya mineral dan memiliki nilai ekonomis tinggi.

        "Kami ingatkan kepada masyarakat Bangka Barat, bijih timah pasti akan habis dalam waktu tidak terlalu lama, namun selain timah daerah ini memiliki kandungan mineral yang jauh lebih berharga dibanding timah yang belum bisa dikelola karena keterbatasan energi dan tehnologi," ujarnya.

        Ia meminta seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membuka pikiran, proporsional dan profesional menanggapi permasalahan energi dan tehnologi tersebut, jangan sampai terhasut pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang hanya ingin memperkeruh suasana.

        "Jangan asal bicara, mari kita jaga situasi kondusif dan jika ada persoalan mari dibahas bersama-sama untuk mencari jalan keluar, jangan asal ngomong karena itu tidak menyelesaikan masalah. Mari berbuat untuk kemajuan daerah demi kepentingan bersama dan keturunan kita," ujarnya.

Sumber: 
Antara
Penulis: 
Antara