BANJIR DI BANGKA BARAT: SAATNYA KITA PEDULI

Hujan deras yang terjadi pada tanggal 7-9 Februari 2016 menyisakan banyak keprihatinan bagi masyarakat di Pulau Bangka umumnya. Di wilayah Bangka Barat banjir terjadi akibat meluapnya air sungai. Badan air sungai sudah sama tingginya dengan badan jalan (bahkan lebih dari itu), sehingga tak dapat lagi dibedakan mana jalan mana sungai. Ditambah lagi arus yang deras dari aliran sungai sehingga masyarakat tidak berani mengendarai kendaraannya untuk melewati arus. Pemandangan seperti sampah yang terbawa air sungai yang kotor dan berlumpur tentu saja menurunkan nilai estetika dari lingkungan kita.

Akibat dari banjir tersebut banyak kerugian yang dialami oleh masyarakat Kabupaten Bangka Barat. Informasi yang didapat dari media online setempat, sekitar 150 an hektare sawah yang baru dipanen 50 persen di Desa Beruas Kecamatan Kelapa terendam banjir setinggi tiga meter. Di Dusun Sungkai Desa Tugang Kecamatan Kelapa Kabupaten Bangka Barat sebanyak 14 tiang listrik PLN roboh, yang mana dua diantaranya menimpa rumah warga, sehingga mengakibatkan PLN padam. Satu truk tangki BBM yang sedang melintasi ruas jalan raya provinsi di Dusun Sungkai Desa Tugang Kecamatan Kelapa terseret arus banjir dan terbalik ke tepi jalan setempat. Jembatan yang menghubung Dusun Kamat-Luing Desa Simpang Yul dengan Dusun Lingkun-Air Nangka Desa Penyampak Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, juga ambruk akibat diterjang banjir. Sementara itu, saat melintas di jembatan Lambur Desa Berang Kecamatan Simpang Teritip, sebuah minibus yang berisi penumpang dengan tujuan Bandara Depati Amir Pangkalpinang terseret arus, meskipun tidak menimbulkan korban jiwa. Empat rumah di Desa Sinar Manik Kecamatan Jebus Kabupaten Bangka Barat, juga ambrol diterjang banjir. Sementara di Desa Teluk Limau Kecamatan Parittiga, sejumlah perahu nelayan dan ponton-ponton TI juga hancur akibat diterjang ombak. Di Kecamatan Parittiga dan Jebus, terdapat tujuh titik dengan ketinggian air antara 50 cm hingga satu meter yang mengakibatkan sejumlah rumah tergenang air dan kondisi jalan menjadi rusak atau terputus. Tujuh lokasi yang selama ini menjadi langganan banjir tahunan masih saja mengalami hal sama dengan tahun-tahun sebelumnya, seperti di ruas jalan raya Desa Jebus tepatnya di sekitar jembatan dekat Masjid Jebus, Jalan Parit4 Desa Puput, Kecamatan Parittiga, Jalan Airkuang tepatnya di sekitar SPBU Airkuang, Jalan Puput atas, Desa Puput, Jalan Kimjung atau depan SPBU Kimjung, Desa Puput, Jalan raya Bakit wilayah Dusun Jompong, Desa Kapit, Kecamatan Parittiga dan Dusun Petar, Desa Tumbakpetar, Kecamatan Jebus.

Lokasi banjir di Desa Beruas Kecamatan Kelapa

 

Lokasi banjir di pusat perekonomian di Kecamatan Parittiga

 

Lokasi banjir di sekitar Kampung Ulu Kecamatan Muntok

Musim penghujan seperti ini menjadi momok tersendiri bagi masyarakat Kabupaten Bangka Barat karena memberikan dampak negatif. Kita pun tak bisa menyalahkan Sang Pencipta atas musibah yang telah menimpa kita. Lingkungan yang seharusnya kita jaga dan kita rawat dengan sebaik-baiknya, sadarkah kita pada kenyataannya kita telah merusaknya? Contoh kecil saja, kebiasaan mencemari lingkungan dengan membuang sampah di sembarang tempat, masih belum bisa kita hilangkan. Masih banyak kita temukan sampah berserakan di sekitar halaman rumah dan di lingkungan sekitar kita. Bahkan masih ada yang membuang sampahnya di tepi sungai. Selokan-selokan yang telah dibangun oleh pemerintah juga tidak pernah dirawat, sehingga tanah yang terdapat di dalam selokan sudah penuh tetapi tidak ada warga yang mau bergotong-royong membersihkannya. Pada saat banjir datang, selokan tersebut tidak mampu menampung air sehingga meluap ke jalan dan merusaknya. Sungai-sungai telah banyak yang rusak akibat aktivitas tambang ilegal yang dilakukan oleh masyarakat. Tanah yang tergerus dan kehilangan unsur haranya akibat ditebang dan pembakaran hutan sehingga tidak dapat lagi mengikat air serta meninggalkan lubang-lubang bekas tambang yang menganga dan tersebar di hampir seluruh Pulau Bangka, dan tidak pernah dilakukan penutupan, juga tak dapat menampung air ketika curah hujan sedang meningkat. Pepohonan yang akarnya berfungsi untuk menyerap air telah banyak ditebang untuk membuka lahan ladang dan kebun.  Tentu saja, akibat dari seluruh aktivitas manusia ini menjadi penyebab dari banjir.

Banjir merupakan salah satu dampak dari perubahan iklim yang terjadi secara global di bumi kita. Perubahan iklim adalah iklim yang berubah akibat suhu global rata-rata meningkat. Peningkatan emisi gas rumah kaca tersebut di atmosfer, khususnya CO2, telah memerangkap suhu panas di atmosfer bumi. Hal tersebut berdampak pada sistem cuaca global yang menyebabkan segala sesuatu mulai dari curah hujan yang tak terduga hingga gelombang panas yang ekstrim. Tuntutan pertumbuhan populasi telah menyebabkan deforestasi, pembakaran bahan bakar fosil, dan pertanian yang meluas. Kegiatan ini semua menghasilkan gas rumah kaca di atmosfer kita - gas seperti karbondioksida, nitrogenoksida dan metana. Gas rumah kaca menahan panas dari matahari dan tidak terpantulkan kembali ke angkasa. Hal ini menyebabkan atmosfer bumi memanas, yang dikenal sebagai efek rumah kaca.

Perubahan iklim inilah yang menyebabkan pada saat musim kemarau, kita selalu mengeluh merasa kepanasan dan sumber-sumber air mengering, sehingga harus membeli air untuk bisa melakukan tugas sehari-hari seperti mandi, memasak, dan mencuci. Bahkan polusi udara pun tak bisa dielakkan dikarenakan pembakaran lahan untuk membuka ladang baru. Pada saat musim penghujan, musibah banjir tidak dapat terelakkan sehingga menimbulkan banyak kerugian, dan berbagai penyakit pun mulai mengintai masyarakat seperti diare, typhus, dan korella. Pada saat pergantian musim, nyamuk mulai bertelur di tempat-tempat yang menampung air, seperti kaleng-kaleng bekas yang berserakan di tempat sampah. Seperti yang kita ketahui, nyamuk merupakan vektor penyakit malaria dan demam berdarah, dan akhir-akhir ini juga menyebabkan penyebaran virus Zika. Hal ini tentu saja menambah panjang daftar dampak negatif akibat lingkungan yang tidak kita rawat kebersihannya.

Akan tetapi, sadarkah kita akan aktivitas kita sendirilah yang sebenarnya tidak ramah lingkungan sehingga membuat kondisi lingkungan kita menjadi rusak? Mungkin banyak yang menyadarinya, tetapi sulit untuk berubah karena malas dan sudah terbiasa dengan perilaku hidup yang sejak lama dilakukan secara terus menerus (misalnya membuang sampah ke sungai). Seharusnya, sebagai warga negara Indonesia yang cinta tanah air dan bangga akan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara ini, kita wajib untuk menjaga, merawat, dan melestarikan lingkungan kita. Hal ini sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup pasal 67 yang berbunyi setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.

Kepedulian kita selaku warga negara Indonesia khususnya di Kabupaten Bangka Barat ini sangat dibutuhkan dalam rangka membantu menyelamatkan bumi dari kerusakan yang lebih parah akibat dari perubahan iklim yang telah terjadi.  Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk berpartisipasi dalam rangka menjaga, merawat, dan melestarikan lingkungan hidup kita. Berikut adalah beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mencegah banjir di Kabupaten Bangka Barat :

  1. Penangan masalah sampah yang efektif. Upaya ini dapat dilakukan dengan pemilahan sampah (organik dan anorganik). Sampah organik dapat dibuat menjadi kompos, sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Hanya sampah yang benar-benar tak mempunyai manfaat lagi yang dibuang ke TPA. Bank Sampah perlu didirikan jika memang diperlukan oleh masyarakat sebagai wadah untuk menampung sampah (terutama sampah anorganik).
  2. Membuat fungsi selokan dapat bekerja dengan baik. Selokan adalah tempat aliran air sehingga jangan sampai tercemari dengan sampah atau menjadi tempat pembuangan sampah yang akhirnya menyebabkan selokan menjadi tersumbat. Apabila terdapat tanah/ lumpur yang tebal dalam selokan, segera dicangkul/ dikorek.
  3. Penanaman kembali (reboisasi). Upaya ini dapat dilakukan oleh seluruh masyarakat. Pohon yang digunakan sebaiknya pohon yang mampu menyerap air dengan cepat.
  4. Memelihara hutan. Upaya ini dapat dilakukan dapat dilakukan dengan cara bertanam kembali di lahan yang dijadikan kebun oleh masyarakat dan tidak mengganggu hutan yang lain sehingga diharapkan tanah tetap mampu menyerap air hujan.
  5. Pengembangan Pertanian Hidroponik. Sistem pertanian hidroponik yang tengah menjadi trend saat ini sangat dianjurkan untuk dilakukan, karena dapat dilakukan di lahan sempit dan sangat sedikit menggunakan air. Berbagai jenis sayuran dan buah-buahan yang jenis batangnya tumbuh merambat sangat cocok dikembangkan dengan sistem hidroponik.
  6. Pengembangan Pertanian organik. Sistem pertanian seperti ini juga sangat dianjurkan bagi petani, karena tidak menggunakan pupuk kimiawi untuk menyuburkan tanamannya, yang tentu saja selain mengandung nutrisi yang lebih sehat bagi tubuh manusia, juga bebas dari pemicu efek Gas Rumah Kaca.
  7. Pendalaman sungai dan pembuatan/ peninggian talud. Hal ini cukup efektif dilakukan untuk mengatasi sungai yang mengalami pendangkalan akibat lumpur yang mengalir dari hulu sungai (terutama dari sungai yang dijadikan tempat aktivitas tambang ilegal oleh masyarakat).
  8. Perbaikan akses jalan.  Upaya ini mutlak dilakukan karena masih terdapat banyak jalan yang rusak dan berlubang yang belum diperbaiki oleh pemerintah.
  9. Membuat lubang resapan BIOPORI sebanyak mungkin. Biopori merupakan suatu lubang dengan diameter ± 3” berkedalaman antara 80 – 100 cm yang berguna untuk lubang resapan air hujan, biopori juga bisa difungsikan sebagai lubang kompos dari bahan sampah daun kering, maupun sampah basah. Beberapa sekolah di Kabupaten Bangka Barat telah melakukan pembuatan biopori ini untuk mencegah halaman sekolah tergenang air pada musim penghujan.
  10. Perbaikan tata ruang dan adanya ketegasan untuk mengikuti kaidah peraturan lingkungan yang berlaku. Upaya ini akan berjalan sesuai dengan harapan apabila dilakukan dengan komitmen dari seluruh jajaran aparat pemerintah dan lapisan masyarakat.

Dari keseluruhan cara pencegahan banjir yang telah diuraikan, ada hal yang paling penting dan mendasar yang perlu ada dalam setiap diri masyarakat, yaitu KESADARAN akan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Dengan demikian, diharapkan akan muncul kepedulian dari dalam diri kita untuk menjaga lingkungan kita sehingga dapat terselamatkan dari dampak perubahan iklim yang telah berlangsung secara global. Upaya-upaya tersebut harus dilakukan dengan komitmen untuk menjaga keamanan dan kelestarian lingkungan hidup kita demi kelangsungan hidup generasi yang akan datang.

Penulis: 
ELFRISKA DAMAYANTI, S.Si | NIP. 19820425 200903 2 003 | FUNGSIONAL PENGENDALI DAMPAK LINGKUNGAN
Sumber: 
BLHD BANGKA BARAT

Artikel

05/04/2017 | Diki Anugrah Hardi
30/01/2017 | Mukti Purwanto, S....
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/03/2016 | Dessy Parlina, S. Pt, NIP: 19821228..., Jabatan: Pengawas...
18/02/2016 | Faizal, NIP...., Auditor Kepegawaian...
04/02/2016 | Eddu Novandaharto.ST, Fungsional Ahli...
04/11/2014 | Harwanti, S. Pt
8,983 kali dilihat
17/03/2015 | Elfriska Damayanti...
4,195 kali dilihat
29/12/2015 | Eddu Novandaharto...., NIP. 19751121..., FUNGSIONAL AHLI...
2,551 kali dilihat
21/01/2016 | Eddu Novandaharto,..., NIP. 19751121..., FUNGSIONAL AHLI...
2,036 kali dilihat
23/08/2013 |
1,722 kali dilihat
13/03/2014 | Dessy Parlina, S. Pt
1,711 kali dilihat
21/01/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
981 kali dilihat
29/12/2014 | PNPM MPd.Kecamatan...
877 kali dilihat
04/09/2014 | Harwanti, S.Pt
853 kali dilihat
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
608 kali dilihat