BANK SAMPAH “SEPAKAT” DESA AIR LIMAU UPAYA NYATA PELAKSANAAN 3R

BANK SAMPAH “SEPAKAT” DESA AIR LIMAU

UPAYA NYATA PELAKSANAAN 3R

 

 

  1. Latar Belakang

Meningkatnya jumlah penduduk, pembangunan, dan pola konsumsi masyarakat akan menyebabkan meningkatnya timbulan sampah. Timbulan sampah tidak saja meningkat, namun jenis sampahnya pun beranekaragam sebagai akibat dari pola konsumsi masyarakat. Pada tahun 1990-an, penggunaan plastik masih terbatas dan pada masa saat ini penggunaan plastik hampir di seluruh lini kehidupan manusia sehari-hari. Meningkatnya timbulan dan jenis sampah menjadi tantangan sendiri untuk dikelola. Jika dulunya sampah tidak dianggap masalah, namun pada saat ini menjadi masalah yang rumit dan butuh pengelolaan yang baik.

 

Berdasarkan Undang-Undang No 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan persampahan, pengelolaan sampah terdiri atas Penanganan sampah dan pengurangan sampah. Penaganan sampah dimulai atas Pemilahan sampah, pengangkutan dari sumber ke tempat pembuangan sampah sementara (TPS)/ tempat pembuangan sampah sementara terpadu (TPST), pengangkutan dari TPS/TPST ke tempat pemrosesan akhir (TPA), Pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah, dan pemrosesan akhir di TPA. Pengurangan sampah terdiri atas pembatasan sampah, pendaur ulang sampah, dan pemanfaatan kembali sampah. Ketiga jenis pengurangan sampah sering disebut reduce, reuse, dan recycle (3R). Penangan sampah membutuhkan biaya investasi, operasional, dan perawatan yang mahal. Oleh karena itu pengurangan sampah harus digiatkan dengan melibatkan partisipasi masyarakat.

 

Pelaksanaan 3R telah digiatkan dan dikampanyekan secara masif agar pengurangan sampah dapat ditingkatkan. Inovasi terkait 3R telah tumbuh dan diupayakan sesederhana mungkin agar dapat diterapkan oleh masyarakat sebagai penghasil sampah. Salah satu inovasi 3R adalah bank sampah yang telah diterapkan oleh masyarakat, sekolah, institusi, dan lain sebagainya. Bank Sampah memiliki sifat social engineering yang berfungsi untuk mengajarkan dan menumbuhkan kesadaran pada masyarakat agar dapat memilah sampah dari sumber (Konsep Bank sampah menekankan bagaimana sampah dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam bentuk uang (Winarso dan larasati, 2011). Penamaan bank sampah dikarenakan pola pengelolaannya mirip dengan pola menabung di bank konvensional. Perbedaannya terletak pada proses menabung di bank sampah dalam bentuk sampah dan pencairan tabungan dalam bentuk uang. Salah satu yang telah menerapkan konsep bank sampah adalah bank sampah Sepakat di desa Air Limau Kab. Bangka Barat.

 

  1. Sejarah Terbentuknya Bank Sampah Sepakat

Pembentukan Bank sampah sepakat diinisiasi oleh sekelompok anak muda di Desa Air Limau dikarenakan keprihatinan mereka terhadap meningkatnya volume sampah. di sisi lain, Desa Air Limau belum memiliki konsep untuk mengatasi persoalan ini sehingga mereka sepakat untuk melakukan terobosan secepatnya agar persoalan persampahan di Desa Air Limau segera teratasi. Atas dasar pemikiran tersebut, mereka mendorong terbentuknya bank sampah di Desa Air Limau dan pada bulan Januari tahun 2019, Pemerintah Desa Air Limau melakukan pertemuan dan menetapkan Keputusan Kepala Desa tentang pengukuhan kepengurusan pengelola bank sampah Desa Air Limau dengan 7 orang pengurus dan pembina Kepala Desa Air Limau.

 

Nama “Sepakat” dipilih dikarenakan mereka sadar bahwa pengelolaan bank sampah tidak mudah dan membutuhkan waktu serta tenaga yang tidak sedikit dalam menjalankannya. Oleh karena itu, mereka berupaya untuk mencapai kata sepakat di dalam menyelesaiakan setiap persoalan yang akan dihadapi nanti. Prinsip penamaan ini dapat memberi ruh perjalanan bank sampah sepakat yang baru lahir dikarenakan tantangan yang dihadapi di awal pembentukan sangat besar seperti sosialisasi bank sampah ke masyarakat, menemukan pola terbaik (identitias diri), dan tentunya meningkatkan kesadaran dan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.

 

Pada pelaksanaannya bank sampah sepakat bersifat otonom dan dikelola langsung oleh pengurus bank sampah. Adapun tugas dan tanggung jawab pengurus adalah:

  1. Mengkoordinasikan penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi dalam tugas dan pekerjaanya.
  2. Melakukan kegiatan pengelolaan sampah dengan proses 3R, bank sampah, dan pengomposan.
  3. Bertanggung jawab serta melaporkan kegiatan bank sampah kepada lembaga pendamping dan juga Pemerintah Kabupaten Bangka Barat.

 

Berdasarkan hal di atas dapat diketahui bahwa hakikat dari pendirian bank sampah sepakat adalah pengurangan sampah. Bank sampah adalah salah satu jalan yang ditempuh untuk pengurangan sampah dan pemilihan bank sampah dikarenakan adanya faktor ekonomi di dalamnya sehingga partisipasi masyarakat dapat meningkat.

 

  1. Kegiatan Bank Sampah Sepakat

Bank sampah sepakat dibentuk untuk mengurangi timbulan sampah atau 3R. Pada pelaksanaannya kegiatan bank sampah terdiri atas:

  1. Kegiatan menabung dan menjual sampah

Proses menabung sampah dilengkapi degan buku tabungan dan jadwal menabung dilakukan setiap hari rabu. Jumlah penabung aktif sampai dangan bulan Desember tahun 2019 adalah 49 orang yang didominasi oleh ibu-ibu. Untuk memotivasi para penabung, pengelola bank sampah sepakat memberikan penghargaan berupa hasil kerajinan tangan dari sampah yang diproduksi langsung oleh bank sampah sepakat kepada penabung yang rajin menabung. Hal ini efektif untuk memberikan motivasi kepada para penabung. Proses pencairan tabungan dapat dilakukan sepanjang waktu tergantung permintaan para penabung. Secara rata-rata jumlah yang dapat dihasilkan oleh penabung dalam sebulan adalah Rp. 50.000 sampai dengan Rp. 100.000.

  1. Kerajinan tangan

Selain kegiatan menabung dan menjual sampah, Bank sampah sepakat juga mengembangkan kerajinan dari sampah agar adanya penambahan nilai (edit velue) sampah. Beberapa kerajinan tangan yang diproduksi adalah raga, keranjang minuman, lampu hias, pot bunga, hiasan dinding, dan lain sebagainya. Hasil karya ini pernah dipamerankan di pameran Desa Air Limau dan mendapat sambutan positif dari pengunjung.

  1. Menghubungkan TPS 3 R dengan bank sampah

Desa Air Limau memiliki TPS 3R yang dibangun desa. TPS 3R dan Bank sampah merupakan satu menajemen pengelola dan memiliki peran sesuai dengan tugasnya masing-masing. Pada pelaksanaannya, TPS 3R menjemput sampah dari masyarakat dan kemudian dilakukan pemilahan di TPS 3R dan sampah yang memiliki nilai jual, dikumpulkan ke bank sampah. Masyarakat yang diambil sampahnya harus membayar kontribusi pengambilan setiap bulan sebesar Rp. 5.000 rupiah. Jumlah yang dilayani oleh petugas 3R adalah 14 toko dan 54 perumahan.

  1. Masyarakat menjual langsung dan bukan nasabah

Bank sampah sepakat memberikan nilai postif kepada masyarakat desa air limau. Salah satunya adalah meningkatnya pengetahuan dan keinginan masyarakat untuk memanfaatkan sampah yang bisa di recycyle untuk dijual kembali seperti beberapa pelajar yang mengumpulkan sampah sekitar untuk dijual ke bank sampah sepakat.

  1. Pengomposan

bank sampah Sepakat baru melakukan uji coba pengomposan pada bulan November 2019 dan akan terus dikembangkan ke depannya. Besarnya volume sampah organik menjadi dasar pertimbangannya dan jumlah masyarakat yang berprofesi sebagai petani juga menjadi peluang untuk mendistribusikan pupuk kompos ke masyarakat.

 

Secara garis besar proses kerja bank sampah sepakat dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

 

 

 

 

 

Gambar Pelaksanaan Kegiatan Bank Sampah Sepakat Desa Air Limau

 

  1. Dampak Bank Sampah Sepakat Terhadap Pengelolaan Sampah di Desa Air Limau

Bank sampah merupakan salah satu kebijakan nasional yang diatur oleh Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, Dan Recycle Melalui Bank Sampah. Kebijakan ini lahir untuk mempercepat proses 3R yang bertumpu pada bank sampah. Walaupun bank sampah memiliki kelebihan dan telah menjadi agenda nasional, namun pelaksanaan di lapangan belum begitu efektif. Pendirian bank sampah semakin meningkat namun pada pelaksanaannya banyak yang gagal atau mati suri seperti yang terjadi di yogyakarta. Menurut pengelola Bank Sampah Lintas Winongo di Yogyakarta, dari seluruh Bank Sampah yang terbentuk hanya sekitar 10% (40 Bank Sampah) yang aktif dan konsisten melayani masyarakat nasabah (Amalia, 2017). Hal ini disebabkan oleh masih rendahnya komitmen dari pengelola Bank Sampah sehingga jadwal menabung dan pelayanan tidak dilaksanakan secara rutin. Beranjak dari itu hal tersebut, maka perlu diapresiasi pendirian bank sampah sepakat desa Air Limau yang masih konsisten dalam malakukan aktivitasnya sejak bulan januari tahun 2019. Jumlah kepala keluarga (KK) yang terhubung langsung dengan bank sampah sepakat adalah 117 KK dan total jumlah KK Desa Air Limau sebanyak 545 KK. Artinya bahwa 21,5 % sampah di Desa Air limau telah terkases oleh Bank Sampah sepakat dan telah terjadi proses 3R.

 

Pada pelaksanaannya bank sampah sepakat melakukan penjualan selama 3 bulan sekali dan telah dilakukan penjualan sebanyak 3 kali dari awal terbentuk sampai awal bulan Desember 2019. Pada periode 3 bulan pertama jumlah sampah yang ditampung oleh bank sampah sepakat adalah 422,5 Kg, meningkat menjadi 586 kg (38,7%) pada periode kedua, dan diperiode ke tiga mencapai 822 Kg (56%). Berdasarkan data ini dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan yang signifikan sampah yang ditabung di bank sampah sepakat. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan bank sampah sepakat dapat diterima oleh masyarakat desa Air Limau dan secara tidak langsung meningkatkan kesadaran, kepedulian, perubahan perilaku dan partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah.

 

Keberhasilan bank sampah sepakat tidak lepas dari dedikasi para pengelolanya. Anak-anak muda yang menjadi pengelolanya dapat menjaga konsistensi dan terus berupaya melakukan inovasi menjadi faktor kunci keberhasilannya. Atas dedikasi dan konsistensi tersebut, Pemerintah Desa Air Limau memberikan bantuan TPS 3R, tonk sampah untuk pelaksanaan 3R, Kantor bank sampah sepakat, dan mesin pencacah kompos. Pengomposan adalah inovasi terbaru yang dilakukan oleh pengelolaa bank sampah sepakat. Mereka sudah melakukan uji coba pada bulan November. Mereka sadar bahwa sampah organik adalah sangat besar di Desa Air Limau, sehingga apabila pengomposan dapat dijalankan dapat memberikan dampak yang sangat signifikan dalam pelaksanan 3R di Desa Air Limau. Pupuk hasil dari pengomposan dapat dijual kepada masyarakat sekitar atau pun pemerintah Desa dan ini cocok dengan karakteristik wilayah Desa Air Limau yang mayoritasnya adalah petani.

 

  1. Kesimpulan dan Saran

Bank sampah sepakat lahir dari inisiasi anak muda di Desa Air Limau. Bank sampah sepakat sudah menjadi bagian penting dalam pengelolaan sampah di Desa Air Limau melalui dedikasi dan inovasinya. Jika kita mengacu kepada Kebijakan Staregis Daerah Pengelolaan Persampahan di Kab. Bangka Barat yang menargetkan 30% sampah harus dikurangi pada tahun 2025, maka konsep seperti bank sampah sepakat relevan untuk dikembangkan. Oleh karena itu, kehadiran bank sampah sepakat lainnya harus didorong terbentuk di seluruh Desa di Kab. Bangka Barat dengan menjadikan bank sampah sepakat sebagai percontohan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

-----------, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

 

-----------, Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Pedoman Pelaksanaan Reduce, Reuse, Dan Recycle Melalui Bank Samp

 

 

Asisten Deputi Pengelolaan Sampah Deputi Pengelolaan B3, Limbah B3 dan Sampah. (2012, November). Buku Profil Bank Sampah Indonesia 2012. Rapat Kerja Nasional Bank Sampah “Dari Sampah Membangun Ekonomi Kerakyatan” Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Malang, Indonesia

 

Winarso, H., & Annisa L. (2011). Dari Sampah Menjadi Upah: Inovasi Pengolahan Sampah di Tingkat Akar Rumput Kasus Progam Bank Sampah 'Sendu' di Kelurahan Pasar Minggu Jakarta Selatan. Jurnal Manusia dan Lingkungan, Vol. 18, No.1: 43 – 59.

 

Amalia S. (2017).  Analisis Implementasi Program Bank Sampah di Kota Yogyakarta. Jurnal Analis Kebijakan | Vol. 1 No. 2.

 

Sumber: 
Pemerintah Desa Air Limau

Artikel

11/04/2018 | Diki Anugrah Hardi
30/01/2017 | Mukti Purwanto, S....
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/03/2016 | Dessy Parlina, S. Pt, NIP: 19821228..., Jabatan: Pengawas...
29/12/2015 | Eddu Novandaharto...., NIP. 19751121..., FUNGSIONAL AHLI...
21/01/2016 | Eddu Novandaharto,..., NIP. 19751121..., FUNGSIONAL AHLI...
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
21/01/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
13/03/2014 | Dessy Parlina, S. Pt