BKSDA TERTIBKAN PERUSAK HUTAN GUNUNG MENUMBING

          Muntok, Bangka Barat, 18/6 (ANTARA) - Badan Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan segera menertibkan para pelaku perusakan wilayah hutan konsevasi Gunung Menumbing, Muntok.

         "Polisi Kehutanan BKSDA dari Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Sumsel sudah melayangkan surat resmi ke Dishutbun Bangka Barat, yang intinya meminta kesediaan polhut setempat membantu kegiatan penertiban yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini," ujar Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bangka Barat Kemas Arfani Rahman di Muntok, Senin.

         Upaya penertiban ke Gunung Menumbing tersebut, kata dia, menindaklanjuti laporan dari Dishutbun Bangka Barat tentang indikasi tindak pidana kehutanan seperti perambahan liar, penambangan liar, dan kegiatan tanpa izin lainnya di Gunung Menumbing serta sejumlah kawasan pelestarian alam dan kawasan suaka alam di daerah itu.

         Badan Konservasi Sumber Daya Alam Sumsel yang berada di Palembang, kata dia, merupakan tempat berkumpul polhut yang memiliki kewenangan untuk melakukan penindakan dan pengawasan wilayah hutan konservasi di seluruh Sumsel dan Babel.

          "Mereka tidak hanya turun di wilayah Bangka Barat, namun akan meninjau langsung ke seluruh Babel. Dalam penindakan dan penyidikan nanti, semua jenis pelanggaran yang ditemukan akan ditindak tegas," ujarnya.

         Ia menjelaskan, BKSDA tidak akan main-main dalam penertiban kali ini, apakah pelaku melakukan pelanggaran di kawasan hutan produksi, hutan lindung, atau hutan konservasi. Jika ada yang tertangkap, mereka akan ditindak sesuai pelanggaran dan kewenangan BKSDA.

         Kedatangan Polhut BKSDA Sumsel tersebut, menurut dia, merupakan jawaban atas permintaan Dishutbun Bangka Barat yang sudah melayangkan surat sebanyak dua kali agar BKSDA segera melakukan penindakan dan penyidikan terkait perambahan hutan konservasi terutama di Gunung Menumbing.

         "Memang harus ada tindakan nyata dari Polhut BKSDA untuk turun langsung, karena menurut pengawasan kami di hutan konservasi Gunung Menumbing, saat ini 30 persen dari luas total sekitar 4.000 hektare sudah rusak oleh berbagai aktivitas," ujarnya.

         Ia menjelaskan, sebagian besar kerusakan hutan konservasi tersebut di kaki Gunung Menumbing.

         Hal itu, katanya, disebabkan masih maraknya penambangan bijih timah liar atau yang biasa disebut tambang inkonvensional dan pembalakan liar, sementara untuk bagian atas gunung tidak ditemukan kerusakan yang berarti.

        "Kedatangan Polhut BKSDA tersebut diharapkan mampu mengendalikan dan meminimalkan kerusakan kawasan hutan konservasi di seluruh Bangka Barat, karena mereka memiliki kewenangan untuk itu, sementara kami hanya memiliki kewenangan sebatas pengawasan, penindakan, dan penyidikan di wilayah hutan lindung dan hutan produksi," kata Kemas.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News