DINKES BANGKA BARAT TETAPKAN MUNTOK KLB DBD

Muntok, Bangka Barat, 7/12 (ANTARA) - Dinas Kesehatan Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung, menetapkan Kota Muntok sebagai daerah berkategori kejadian luar biasa demam berdarah dengue. "Meninggalnya seorang warga Kecamatan Muntok karena serangan DBD pada pertengahan November 2011 sudah menjadikan daerah tersebut masuk kategori KLB DBD," kata Kepala Seksi Surveilans, Imunisasi, dan Kesehatan Matra (Sepimkesma) Dinkes Bangka Barat Arsul Sani di Muntok, Rabu.
 
Ia menjelaskan, untuk mengendalikan penyebaran vektor DBD ke lokasi lain, Dinkes melakukan 'fogging' atau pengasapan dan pembagian bubuk abate kepada warga di sekitar tempat tinggal penderita DBD. "Kami telah melakukan penanganan sesuai standar penanggulangan KLB, seperti pengasapan dengan radius 100 meter dari rumah warga yang dinyatakan positif DBD sebelum 1 x 24 jam agar vektor tidak meluas ke lokasi lain," ujarnya.
 
Ia mengatakan, berperilaku hidup sehat, menjaga lingkungan tetap bersih, dan menerapkan 3M yaitu, menguras, menutup dan menimbun menjadi langkah praktis memutus mata rantai penyebaran DBD sekaligus menekan jumlah penderitanya. Selain itu, menurut dia, tidur dengan menggunakan kelambu juga menjadi salah satu cara ampuh untuk mencegah nyamuk aiges aigepty sebagai salah satu vektor DBD menyerang warga saat tidur.  Menurut dia, mobilitas warga pendatang juga mmenjadi salah satu penyebab meningkatnya jumlah penderita DBD di daerah itu, kemungkinan para pendatang telah terinfeksi DBD sejak dari daerah asal namun tidak terdeteksi.
 
Ia mengatakan, pada 2011 jumlah kasus DBD di Bangka Barat sebanyak 44 kasus, jumlah tersebut berkurang dibandingkan 2010 yang mencapai 62 kasus. Sebanyak 44 kasus pada 2011 tersebut terdapat di Kecamatan Muntok 32 kasus, Simpang Teritip enam kasus, Tempilang dua kasus, Parittiga empat kasus, sementara Kecamatan Kelapa dan Jebus tidak ditemukan. Sementara itu, Petugas Surveilans RSUD Sejiran Setason Lia mengungkapkan pada November sampai awal Desember 2011 pihaknya telah merawat sebanyak 20 pasien yang positif DBD, namun setelah menjalani perawatan selama beberapa hari, mereka dinyatakan sembuh dan boleh pulang.

"Kami hanya merujuk satu pasien DBD agar mendapatkan perawatan di salah satu rumah sakit di Kota Pangkalpinang karena kami tidak sanggup melakukan upaya penanganan karena kondisi pasien sudah mengkhawatirkan," ujarnya. Ia menjelaskan, kondisi pasien yang dirujuk ke RS Pangkalpinang tersebut sudah mengalami gejala seperti demam tinggi, mual, berak berwarna hitam, bahkan sampai sering keluar darah dari hidung atau mimisan. Menurut dia, dengan kondisi pasien seperti itu pihak RSUD Bangka Barat tidak sanggup melayani dan melakukan penanganan lebih jauh sehingga perlu penanganan khusus di rumah sakit yang lebih lengkap.  "Selain satu kasus tersebut, pasien lain yang kami tangani dengan memberikan cairan tubuh dan asupan gizi yang cukup, semuanya sembuh dalam beberapa hari," ujarnya.
    
 
Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News