DINKES TEMUKAN SEMBILAN KASUS BALITA MENINGGAL

          Muntok, 31/5 (ANTARA) - Dinas Kesehatan Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung selama 2012 telah menemukan sembilan kasus balita meninggal dunia seiring rendahnya pengetahuan orang tua merawat anak dan penerapan pola hidup bersih dan sehat.

         "Penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) memegang peran penting dalam upaya meningkatkan derajad kesehatan masyarakat, hal ini juga mempengaruhi tingkat kematian balita," ujar Kepala Dinas Kesehatan Bangka Barat dr Andri Nurtito di Muntok, Kamis.

         Ia menjelaskan, angka kematian bayi dan balita di daerah itu selama 2012 mencapai sembilan orang yang terdiri dari jumlah bayi meninggal saat lahir atau neonatus sebanyak enam kasus, bayi meninggal usia 29 hari hingga 11 bulan satu kasus dan jumlah balita usia satu tahun hingga lima tahun meninggal mencapai dua kasus.

         "Penyebab utama kematian sembilan balita tersebut karena tetanus, gagal nafas, prematur atau lahir kurang bulan dan berat badan lahir rendah (BBLR)," ujarnya.    
    Menurut dia, angka kematian bayi dan balita pada tahun ini mengalami penurunan baik dalam persentase maupun jumlah kasusnya seiring meningkatnya pengetahuan, kesadaran warga akan pola hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari.

         Menurut dia, angka kematian bayi dan balita pada 2011 mencapai 45 kasus, yang terdiri dari kasus neonatus atau bayi meninggal saat lahir atau usia 0-28 hari mencapai 35 kasus, bayi usia 29 hari hingga 11 bulan terdapat 6 kasus dan angka kematian balita atau usia satu hingga lima tahun mncapai empat kasus.

         "Kami prediksikan pada 2012 mengalami penurunan jumlah dan persentasenya seiring meningkatnya pemahaman warga berperilaku bersih dan sehat serta meningkatnya kesadaran tidak menikah pada usia muda," ujarnya
    Ia mengatakan, untuk menekan angka kematian balita pihaknya terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat melalui program mengaktifkan desa siaga, pelatihan bidan desa, cara penanganan kasus dan kemitraan bidan-dukun beranak.

         Menurut dia, banyak faktor yang menyebabkan BBLR dan cacat saat lahir, diantaranya faktor kesehatan ibu, makanan yang dikonsumsi ibu, dan bayi terlahir belum cukup sembilan bulan.

         "Pada temuan kasus selama ini faktor kematian balita lebih banyak disebabkan kurangnya pemahaman menjaga kesehataan ibu dan lingkungan, jika asupan gizi dan kesehatan ibu buruk, kemungkinan BBLR akan lebih tinggi,¿ ujarnya.

         Ia mengimbau kepada ibu hamil untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan seimbang agar pertumbuhan bayi dalam kandungan normal.

         dr Andri menambahkan, untuk menekan angka kematian bayi di Bangka Barat, Pemkab telah mengeluarkan kebijakan, seperti meningkatkan kemampuan, kompetensi dan profesionalisme tenaga kesehatan yang melakukan pelayanan di tingkat desa atau Puskesmas, terutama dalam hal penanganan kasus-kasus gawat bayi.

         "Kualitas SDM kesehatannya ditingkatkan melalui berbagai pelatihan, selain itu pemberdayaan masyarakat dengan memberikan penyuluhan atau promosi kesehatan tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) langsung ke masyarakat," katanya.

Sumber: 
Antara
Penulis: 
Antara