GAPKI: PEMERINTAH HARUS TANGKAL KAMPANYE NEGATIF SAWIT

         Jakarta, 3/5 (ANTARA) - Berbagai kampanye negatif untuk menjatuhkan industri kelapa sawit Indonesia terus dilakukan sejumlah pihak, setelah diterpa masalah moratorium hutan, industri kelapa sawit nasional kini dilanda isu lingkungan.

        "Masalah di industri kelapa sawit itu ada dua macam. Persoalan tata ruang merupakan masalah yang menghambat dari dalam negeri, dan dari luar negeri berupa kampanye yang menyudutkan oleh 'non-governmental organization' (NGO)," kata Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadil Hasan di Jakarta, Kamis.

        Menurut Fadil, pemerintah harus bertindak karena ini akan berdampak besar terhadap kelangsungan industri kelapa sawit. Terlebih kelapa sawit merupakan salah satu komoditas andalan bagi Indonesia.

        "Industri kita masih akan bertumpu pada sumber daya alam seperti kelapa sawit. Pertumbuhan lahan kelapa sawit per tahunnya mencapai 300 ribu sampai 400 ribu hektar, dan paling banyak adalah milik petani kecil yang masing-masing punya lahan antara 2 sampai 3 hektar," paparnya.

        Saat ini terdapat 7,5 juta hektar lahan kelapa sawit. Dari total produksi, sebanyak 36 persen di antaranya adalah hasil petani kecil, 15% dari BUMN, dan sisanya dari swasta.

        "Lahan kelapa sawit telah menciptakan tenaga kerja 4,5 juta orang. Kelapa sawit juga penyumbang devisa terbesar setelah minyak dan gas," tuturnya.

        Dihubungi terpisah, Direktur Produksi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Balaman Tarigan mengatakan bahwa kampanye negatif itu tidak akan mematikan industri sawit nasional.

        Menurut dia, Kebun Pulo Raja dan Kebun Tanah Itam Ulu di Sumatera Utara, yang menjadi awal berdirinya kebun kelapa sawit komersial, masih sangat produktif.

        "Produksi kelapa sawit di Indonesia sebagian besar berasal dari Sumatera Utara. Kejayaan kelapa sawit masih akan eksis dan Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia," katanya.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News