KEGIATAN KOMUNITAS LOKAL SELAMATKAN KEANEKARAGAMAN HAYATI

         Jakarta, 30/4 (ANTARA) - Kegiatan komunitas lokal di kawasan konservasi mampu mendukung penyelamatan keanekaragaman hayati, sekaligus membantu peningkatan pendapatan masyarakat.

         Menurut Vice Presiden LSM Rare Indonesia, Taufiq Alimi, di Jakarta, Senin, kawasan konservasi bukanlah "penjara yang terlarang dimasuki" untuk usaha ekonomi, terutama oleh masyarakat setempat.

         "Dalam banyak kasus, pengelolaan kawasan konservasi yang melibatkan masyarakat justru berhasil," katanya.

         Rare adalah LSM yang bergerak untuk perlindungan kawasan konservasi dengan pendekatan pemasaran sosial (social marketing) melalui berbagai kampanye iklan, drama radio, atau stiker (gambar tempel) untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan masyarakat.

         Selain itu, LSM ini juga menyelenggarakan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi. Sejak 2002, Rare telah bekerja di 40 kawasan konservasi laut di Indonesia.

         Melalui kampanye yang dilakukan Rare, kata Taufiq, masyarakat pada akhirnya memiliki kesadaran untuk melakukan upaya konservias, seperti penangkapan ikan yang lebih ramah lingkungan. "Rare berhasil menyadarkan masyrakat di beberapa daerah, seperti Kepulauan Karimun, Jawa Tengah, untuk meninggalkan penggunaan alat tangkap yang merusak terumbu karang."
    Dengan berbagai kampanye yang telah dilakukan, katanya, masyarakat di daerah itu juga menetapkan wilayah larang tangkap pada zona inti pada kawasan konservasi. "Mereka juga berhemat dalam penangkapan ikan, demi keberlanjutan sumber daya ikan," kata Taufiq.

        Langkah penghematan tersebut ternyata tak membuat pendapat nelayan berkurang, tetapi justru dalam kurun dua tahun tangkapan cumi di Taman Nasional Karimun Jawa meningkat hingga 50 persen.

         Di Taman Nasional Wakatobi, kata Taufik, berat ikan di sekitar dua wilayah larang tangkap juga meningkat signifikan dari sebelumnya 763,5 kilogram per hektare pada 2010 menjadi dan 928 kilogram per hektare pada tahun 2011.

         "Setelah diberlakukan wilayah larang tangkap, sumber daya ikan ternyata justru meningkat, baik dari sisi berat maupun jumlahnya. Hal itu karena ikan-ikan bisa berkembang biak dengan baik," kata Taufiq.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News