KEMENKEU: PENGENDALIAN SUBSIDI BBM MERUPAKAN KEHARUSAN

         Jakarta, 30/4 (ANTARA) - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan pengendalian anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM) merupakan suatu keharusan antara lain karena perbedaan yang makin besar dengan harga keekonomian.

        Keterangan tertulis Direktorat Jenderal Anggaran Kemenkeu yang diterima di Jakarta, Senin, menyebutkan, harga minyak dunia cenderung terus meningkat yang mengakibatkan beban subsidi akan cenderung meningkat, apalagi perhitungan subsidi didasarkan pada harga.

        Kenaikan harga minyak dunia itu menyebabkan perbedaan harga keekonomian semakin jauh dari harga eceran BBM bersubsidi. Hal ini mendorong timbulnya pemborosan energi, penyelundupan, penyelewengan penggunaan BBM bersubsidi dan praktek-praktek ilegal lainnya.

        Pertimbangan lain keharusan adanya pengendalian subsidi BBM adalah harga eceran BBM bersubsidi baik premium maupun solar di Indonesia merupakan yang termurah di antara negara-negara ASEAN, bahkan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang pendapatan per kapitanya masih di bawah Indonesia.

        Banyak negara lain telah menyesuaikan harga BBM sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia, sementara harga BBM di Indonesia jauh  lebih rendah.

        Sebagai contoh, harga eceran premium di Singapura pada Januari 2012 mencapai Rp14.562 per liter naik dari sebelumnya Rp14.206 per liter. Di Filipina harga premium naik dari Rp11.277 per liter (sejak Juli 2011) menjadi Rp11.715 per liter per Januari 2012.

        Di Thailand, harga premiun sudah mencapai Rp11.380 per liter sejak Januari 2012, di Vietnam mencapai Rp8.792 per liter sejak Juli 2011, dan di Korea Selatan naik dari Rp15.477 per liter (sejak Juli 2011) menjadi Rp15.788 per liter (sejak Januari 2012), sementara di Indonesia masih bertahan pada harga Rp4.500 per liter.

        Pertimbangan lain keharusan pengendalian subsidi BBM adalah subsidi yang salah sasaran. Berdasar hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), subsidi BBM banyak dinikmati oleh kelompok menengah atas (masyarakat berpendapatan tinggi). Konsumsi BBM sepeda motor rata-rata 18,7 liter per bulan sementara pemilik mobil 113,1 liter per bulan. Jadi subsidi BBM lebih banyak dinikmati pengendara mobil yang hanya berjumlah 4,3 persen dari total rumah tangga.

        Kemenkeu juga menyebutkan manfaat pengendalian subsidi BBM antara lain subsidi yang semula tidak tepat sasaran dapat digunakan untuk investasi energi. Selain itu dapat memperbaiki struktur dan efisiensi fundamental ekonomi.

        Pengendalian subsidi BBM juga berdampak pada pelestarian alam/lingkungan karena kendaraan yang menggunakan BBM jenis premium beroktan 88 dibatasi penggunaannya.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News