Kemeriahan Hari Terakhir Pagelaran “Besanje””

Muntok (27/11/2017) Diskominfo - Pagelaran Seni Lintas Budaya “Besanje” yang berlangsung selama dua hari telah usai. Hari kedua pagelaran, yakni hari Minggu (26/11) sekaligus sebagai penutupan pagelaran seni dan budaya lintas daerah di nusantara tersebut. Pagelaran hari terakhir itu berlangsung sangat meriah meskipun sempat diguyur hujan di pagi hari menjelang siangnya.

“Acara sempat diundur sekitar satu jam karena hujan sedikit mengganggu persiapan dari panitia dan penampil,” ujar panitia pagelaran, Anung Yunianto.

Pengunjung mulai berdatangan saat menjelang siang ketika hujan reda. Penonton yang hadir cukup antusias dengan suguhan berbagai acara seni dan budaya. Mulai dari atraksi barongsai, permainan anak tradisional, seni lukis yang dilakoni oleh penggiat seni rupa, penari jalanan yang berkeliling wahana pagelaran, serta pertunjukan tari dan musik.

Di panggung utama, pagelaran di hari terakhir itu dibuka dengan penampilan Sanggar Tari Srijayanasa Dance School dari Palembang dengan menyajikan tarian Gending Sriwijayanya. Dilanjutkan dengan penampilan Sanggar Gong Production dan Sanggar Ikatan Keluarga Minang dari Kota Pangkalpinang. Tak kalah ketinggalan, penampilan panggung dari Bapak Baijuri “Maestro Seni Pertunjukkan Bangka” bersama rekan-rekannya. Seperti diketahui, Bapak Baijuri merupakan pencipta lagu Kute Lame yang sering didendangkan dalam acara-acara budaya di Bangka Barat.

Dua penampilan spektakuler yang telah dinantikan oleh penonton adalah pertunjukkan instrumen tradisional Sasando dan Sape’. Pertunjukan Sasando dari Ganzer Lana yang berasal dari Nusa Tenggara Timur sangat memukau penonton yang menyaksikannya. Pria yang bernama asli Agusto Andreas Naga lana itu merupakan lulusan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia jurusan Etnomusikologi. Pertunjukan musik tradisional lainnya adalah Sape’. Alat musik tradisional suku Dayak itu dibawa apik oleh Uyau Morris. Pria asal Kalimantan Utara itu telah berkeliling dunia untuk mempromosikan budaya asal daerahnya. Mulai dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Jepang, Kanada, Amerika dan beberapa negara di Eropa. Sama seperti Ganzer Lana, Uyau Morris juga merupakan lulusan Institut Seni Indonesia jurusan Etnomusikologi. Tampil di ujung acara adalah tuan rumah yang diwakili oleh Komite Musik Dewan Kesenian Bangka Barat dengan pertunjukan musik etnik Melayu.

Di akhir acara, semua pemusik dan penari berkolaborasi di atas panggung yang menandakan acara silahturahmi seni dan budaya itu telah usai. Kepala Bidang Kebudayaan sekaligus koordinator pagelaran, Bambang Haryo Suseno, mengungkapkan apresiasinya terhadap para pelaku seni dan masyarakat yang hadir di pagelaran.

“Kami sebagai penyelenggara merasa bangga dengan acara pagelaran kemarin mendapat apresiasi dari pelajar, pengamat dan penggiat seni tradisi serta masyarakat umum. Pagelaran kemarin mampu menciptakan atmosfer kesenian yang luar biasa. Para penampil berhasil menghibur penonton dan masyarakat yang hadir juga sangat tertib," ujarnya.

Harapan ke depan, ia mengharapkan kesenian daerah dapat menjadi jati diri anak daerah. "Lestarilah seni tradisi nusantara. Sehingga seni tradisi daerah semakin mendapat perhatian dari berbagai pihak. Minimal seni tradisi menjadi kecintaan bagi kita semua," tutupnya. ***

Sumber: 
Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
Penulis: 
Muhammad Erfan

Berita

25/05/2018 | babel.antaranews.com
25/05/2018 | babel.antaranews.com
24/05/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
24/05/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
23/05/2018 | babel.antaranews.com
22/05/2018 | babel.antaranews.com
21/05/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
21/05/2018 | babel.antaranews.com