Kepala Kantor Kemenag Bangka Barat Sosialisasikan Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri Tahun 2020

 

Muntok- Kepala Kantor Kemenag Bangka Barat, H. Syarifudin, S. Ag., M. Pd. I memberikan paparan pada Kegiatan Penguatan Kapasitas Pembinaan Kewilayahan Kabupaten Bangka Barat Triwulan II Tahun 2020 yang dihadiri oleh Bupati Bangka Barat, Ketua DPRD Bangka Barat, Forkopimda Bangka Barat, Pj. Sekretarias Daerah Kabupaten Bangka Barat, Asisten Sekretaris Daerah, Kepala OPD, Ketua MUI, Ketua FKUB. Kegiatan bertempat di OR II Sekretariat Daerah Kabupaten Bangka Barat pada Selasa, 28 April  2020. 

Dirinya mengatakan bahwa Kementerian Agama melalui Menteri Agama RI telah membuat Surat Edaran nomor 6 tahun 2020 tentang Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri Tahun 2020.

“ Pelaksanaan ibadah Ramadhan tahun ini tidak seperti biasa karena pandemik covid-19. Saya sependapat dengan Bupati bahwa Bangka Barat bukan zona hijau karena ini wilayah pulau Bangka. Oleh karena itu, risiko penyebaran perlu diantisipasi,” katanya.

“Yang saya maksudkan adalah bagaimana kita sama2 bisa berperan aktif dari seluruh pihak. Dalam hal pencegahan covid-19. Kemenag sudah mensosialisasikan melalui KUA dan membuat spanduk terkait panduan ibadah,” katanya lagi. 

H. Syarifudin juga mengatakan bahwa dalam tujuan mencegah covid-19 ini, peran semua pihak luar biasa untuk tujuan menyamakan persepsi. Akan tetapi, dirinya mengatakan bahwa yang dibatasi bukan pada ibadahnya. 

“jadi titik fokusnya bukan pada ibadahnya, melainkan pembatasan kumpulan orang banyaknya. Hal ini tidak bertentangan dengan Fiqih Islam,”jelasnya. 

Berikut adalah Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 H di tengah Pandemi Wabah Covid-19:

1. Umat Islam diwajibkan menjalaskan ibadah puasa di bulan Ramadan dengan baik berdasarkan ketentuan fikih ibadah

2. Sahur dan buka puasa dilakukan oleh individu atau keluarga inti tidak perlu sahur on the rood atau ifthor jama’i (buka puasa bersama)

3. Shalat Tarawih dilaksanakan secara individual atau berjamaah bersama keluarga inti di rumah;

4. Tilawah atau tadarus Al-Qur'an dilakukan di rumah masing-masing berdasarkan perintah Rasulullah  SAW untuk menyinari rumah dengan  tilawah Al-Quran.

5. Buka puasa bersama baik dilaksanakan di lembaga  pemerintahan, lembaga swasta, masjid maupun musala ditiadakan;

6. Peringatan Nuzulul Qur'an dalam bentuk tablig dengan menghadirkan penceramah  dan  massa  dalam  jumlah  besar,   baik   di   lembaga pemerintahan, lembaga swasta, masjid maupun musala ditiadakan;

7. Tidak melakukan iktikaf di 10 (sepuIuh) malam terakhir bulan Ramadan di masjid / mushala;

8. Pelaksanaan Shalat Idul Fitri yang lazimnya dilaksanakan secara berjamaah, baik di masjid atau di lapangan ditiadakan, untuk itu diharapkan terbitnya Fatwa MUI menjelang waktunya;

9. Agar tidak melakukan kegiatan sebagai berikut:

a.  Shalat Tarawih Keliling (tarling).

b. Takbiran keliling, kegiatan takbiran cukup dilakukan di masjid/ musala dengan menggunakan pengeras suara.

c. Pesantren Kilat kecuali melalui media elektronik.

10. Silaturahim atau l1alal bihalal yang lazim dilaksanakan ketika hari raya Idul Fitri bisa diIakukan melalui media sosial dan Video call / conference;

11. Dalam menjalankan ibadah Ramadan dan Syawal, seyogyanya masing-masing pihak turut  mendorong, menciptakan  dan menjaga kondusifitas kehidupan keberagamaan dengan tetap mengedepankan ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah;

12. Senantiasa memperhatikan instruksi  Pemerintah  Pusat  dan  Daerah setempat terkait pencegahan dan penanganan Covid-19.

Protokol Pengumpulan Zakat Fitrah dan Atau ZIS (Zakat, Infaq, Shadaqah)

H. Syarifudin dalam paparannya juga menyampaikan tentang pedoman pengumpulan zakat fitrah dan atau ZIS sesuai dengan Surat Edaran Menteri Agama Nomor 6 Tahun 2020, diantaranya:

1. Menghimbau kepada segenap umat muslim agar membayarkan zakat Hartanya segera sebelum puasa Ramadan sehingga bisa terdistribusi kepada Mustahik lebih cepat.

2. Bagi Organisasi Pengelola Zakat untuk sebisa mungkin meminimalkan pengumpulan zakat melalui kontak fisik, tatap muka secara langsung dan mem buka gerai di tempat keramaian,  Hal tersebut diganti melalui sosialisasi pembayaran zakat  melalui layanan jemput zakat dan transfer layanan perbankan

3. Organisasi Pengelola Zakat berkomunikasi melalui unit  pengumpul zakat (UPZ} dan panitia Pengumpul Zakat Fitrah yang berada di lingkungan masjid, musala dan tempat pengumpulan zakat  lainnya yang berada di lingkungan masyarakat untuk  menyediakan sarana untuk cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan  alat  pembersih  sekali pakai {tissue} di lingkungan sekitar.

4. Memastikan satuan  pada  Organisasi   Pengelola   Zakat,   lingkungan masjid,  musala dan tempat lainnya  untuk  melakukan  pembersihan ruangan dan lingkungan penerimaan zakat secara rutin, khususnya handel pintu, saklar lampu, Computer, papan ketik (keyboard), alat pencatatan, tempat penyimpanan dan fasilitas lain  yang  sering terpegang oleh tangan . Gunakan petugas yang terampil menjalankan tugas pembersihan  dan  gunakan  bahan   pembersih   yang   sesuai untuk keperluan tersebut

5. Mengingatkan para  panitia  Pengumpul Zakat  Fitrah  dan  atau  ZIS untuk meminimalkan kontak fisik langsung, seperti berjabat tangan ketika melakukan penyerahan zakat

Demikian halnya dengan penyaluran zakat fitrah dan atau ZIS. H. Syarifudin juga memaparkan lebih lanjut pedoman penyaluran zakat sebagai berikut:

1. Organisasi Pengelola Zakat, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dan panitia Pengumpul Zakat Fitrah dan / atau ZIS yang berada di lingkungan masjid, musala dan tempat  pengumpulan  zakat lainnya yang  berada di lingkungan masyarakat untuk menghindari penyaluran zakat fitrah kepada  Mustahik  melalui  tukar  kupon  dan  mengadakan pengumpulan orang.

2. Organisasi Pengelola Zakat  Fitrah  dan/atau ZIS yang berada di lingkungan masjid, musala dan tempat pengumpulan zakat lainnya yang berada di lingkungan masyarakat untuk  menghindari penyaluran zakat fitrah kepada Mustahik melalui tukar kupon dan mengumpulkan para penerima zakat fitrah

3. Organisasi Pengelola Zakat, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dan panitia Pengumpul Zakat Fitrah dan /atau ZIS yang berada di lingkungan masjid, musala dan tempat pengumpulan  zakat lainnya yang berada  di lingkungan masyarakat  untuk  melakukan  penyaluran  dengan memberikan secara langsung kepada Mustahik.

4. Organisasi Pengelola Zakat, Unit Pengumpul Zakat (UPZ) dan panitia Pengumpul Zakat Fitrah atau ZIS yang berada di lingkungan masjid, musala dan  tempat  pengumpulan  zakat  lainnya yang berada di lingkungan masyarakat untuk pro aktif dalam melakukan pendataan Mustahik dengan berkoordinasi kepada tokoh Masyarakat maupun Ketua RT dan RW setempat.

5. Petugas yang melakukan penyaluran zakat fitrah dan/atau ZIS agar dilengkapi dengan alat pelindung kesehatan  seperti masker,  sarung tangan dari alat pembersih sekali pakai (tissue).

Sumber: 
Diskominfo
Penulis: 
Wahyu Pratiwi
Fotografer: 
yogie
Editor: 
wahyu pratiwi