KOTA MUNTOK PADUAN TIGA CORAK BANGUNAN

Muntok, Bangka Barat, 13/5 (ANTARA) - Kota Muntok di Provinsi Bangka Belitung diharapkan mampu memaksimalkan potensi objek wisata karena keunikan kotanya merupakan perpaduan tiga corak bangunan yang layak dikunjungi wisatawan.

"Perpaduan tiga corak bangunan yaitu arsitektur China, Melayu dan Eropa sangat kental terasa di kota kecil ibu kota Kabupaten Bangka Barat tersebut," ujar Ketua Muntok Heritage Community (MHC) atau komunitas peduli sejarah Kota Muntok Chairul Amri Rani, Minggu.

 
Ia menjelaskan, corak bangunan berarsitektur China banyak terdapat di kluster bawah meliputi Rumah Mayor, Rumah Kapiten, Pelabuhan Muntok, Pasar, Kelenteng dan Petak 15, sedangkan corak Melayu berada di kluster tengah meliputi Kampung Tanjung, Kampung Ulu dan Teluk Rubiah.
 
Selanjutnya bangunan bercorak Eropa banyak terdapat di klaster yang dimulai dari Lapangan Gelora hingga Puskesmas, di klaster ini terdapat berbagai bangunan peninggalan Belanda seperti Rumah Dinas Bupati, Kantor Kawilasi, Gedung KPU, Bengkel Timah dan lainnya.
 
"Sampai saat ini bangunan-bangunan yang ada masih dapat kita lihat seperti aslinya, meskipun ada renovasi namun tidak meninggalkan bentuk aslinya," ujarnya.
 
Dengan berbagai peninggalan sejarah tersebut, menurut dia, Kota Muntok ditetapkan sebagai salah satu dari 48 kota pusaka di Indonesia karena terdapat berbagai macam sejarah dan memiliki tiga kriteria kota pusaka, yaitu berupa fisik, bukan benda maupun 'landscape'.
 
Untuk kriteria fisik, Kota Muntok memiliki beragam bangunan cagar budaya, peninggalan pusakaseperti keris, pedang, tenunan dan lainnya. Untuk kriteria bukan benda seperti pantun, syair, puisi, lagu-lagu dan 'landscape' atau perpaduan bangunan dengan alam yang indah semuanya dimiliki kota kecil tersebut.
 
"Selain itu, kota Muntok juga memiliki sejarah penambangan bijih timah dan temapt pengasingan Sukarno di masa kemerdekaan RI, itu merupakan potensi besar yang memiliki daya tarik luar biasa dan perlu terus dikembangkan, " ujarnya.
 
Ia mengatakan, tempat pembuangan Proklamator di masa perjuangan kemerdekaan tersebut masih menyisakan banyak kenangan dan memiliki daya tarik tersendiri dan sayang untuk dilewatkan wisatawan.
 
"Kami dari MHC akan berupaya menggandeng beberapa pihak untuk meningkatkan obyek wisata dan promosinya, namun hal tersebut tidak akan berjalan jika infrastruktur pendukung lainnya tidak ditingkatkan seperti akses jalan dalam Kota Muntok, transpotasi, penginapan, kuliner, hiburan dan berbagai atraksi," ujarnya.
 
Ia mengatakan, saat ini masyarakat Bangka Barat masih menggantungkan perekonomian dari timah sehingga kesadaran untuk mengembangkan pariwisata masih kurang padahal itu peluang yang sangat baik.
 
"Suatu saat timah akan habis, sektor pariwisata disiapkan menjadi unggulan untuk meningkatkan perekonomian pascatimah karena Bangka Barat memiliki potensi wisata dari alam hingga sejarah dan itu diharapkan bisa memberikan kontribusi terhadap pendapatan asli daerah," ujarnya.
 
Ia berharap, seluruh masyarakat dapat bersatu padu untuk memajukan Bangka Barat dengan mencintai, menggali, dan mempelajari  serta menjaga kekayaan seni dan budaya maupun situs sejarah yang ada di Bangka Barat.
Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News