LAPAN: SUKHOI JATUH BUKAN SAAT AWAN CUMULONIMBUS

         Jakarta, 16/5 (ANTARA) - Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan, awan tebal di Gunung Salak saat Sukhoi jatuh bukan awan Cumulonimbus tapi hanya awan tinggi biasa.

        "Jadi kesimpulannya sama dengan analisis terakhir BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) bahwa bukan  Cumulonimbus," kata Djamaluddin melalui ponsel di Jakarta, Rabu.

        Pada Senin 14 Mei, ujarnya, diadakan diskusi Lapan-BMKG untuk menyamakan persepsi tentang kondisi cuaca di sekitar Gunung Salak saat kejadian kecelakaan Sukhoi.

        Kesimpulannya, data yang digunakan Lapan dan BMKG sama, yaitu data satelit MTSAT yang menunjukkan adanya liputan awan di sekitar Gunung Salak dan ada awan tinggi.

        Peneliti LAPAN kemudian mengkaji ulang data pendukung lainnya untuk memastikan awan yang terdeteksi benar awan  Cumulonimbus (Cb) atau bukan.

        Hasil analisis albedo (perbandingan radiasi yang dipancarkan awan dan yang diterimanya) di sekitar Gunung Salak pada 9 Mei pukul 15.00 WIB ternyata nilainya rendah, kurang dari 35 persen, padahal untuk Awan Cb  semestinya memberikan nilai albedo lebih dari 90 persen.

        "Semula Lapan meyakini analisis awal karena sejalan dengan informasi awal BMKG yang dikutip media massa," katanya.

        Jadi, kesimpulannya, jelas dia, pada saat Sukhoi melintasi Gunung Salak, ada awan tebal dengan liputan lebih dari 70 persen, terutama terdiri dari awan tinggi yang mencapai ketinggian 37.000 kaki.

        "Namun bukan awan Cb. Yang membedakan dasar awannya. Awan Cb mempunyai dasar awan sekitar 2.000-6.000 kaki. Jadi awan Cb menjulang tinggi dari bawah ke atas. Sedangkan awan tinggi, dasar awannya memang tinggi, jadi massa awan tidak sebesar awan Cb," katanya.

        Sementara itu Kepala Bidang Peringatan Dini Cuaca BMKG, Hariadi, mengatakan, pada saat kecelakaan Sukhoi pada 9 Mei pukul 15.00 WIB, di Gunung Salak memang terdapat liputan awan, namun demikian bukan awan Cb.

        "Awan tersebut tidak membahayakan penerbangan termasuk Sukhoi," katanya.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News