LIMBAH CPO HARUS DIOLAH SEBELUM DIALIRKAN KE SUNGAI

         Pangkalpinang, 5/6 (ANTARA) - Limbah minyak mentah kelapa sawit atau "Crude Palm Oil" (CPO) seharusnya diolah sebelum dialirkan ke sungai agar tidak mencemari lingkungan.

        Hal tersebut dinyatakan Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Amrullah Harun terkait maraknya kasus pencemaran sungai akibat CPO yang tidak diolah.

        "Guna menghindari pencemaran lingkungan seharusnya perusahaan mengolah terlebih dahulu limbah minyak mentah mereka," kata dia di Pangkalpinang, Selasa.

        Amrullah mengatakan jika diolah dengan baik maka limbah kelapa sawit tidak hanya akan menjaga kelestarian lingkungan tetapi juga dapat memberikan keuntungan secara ekonomis.

        "Dalam kaitannya dengan penghematan cadangan energi dan pencarian alternatif sumber energi baru, biomassa yang dihasilkan dari limbah kelapa sawit dapat dikembangkan," kata dia.

        Amrullah mengatakan biomassa limbah kelapa sawit dapat menghasilkan Biogas yang komponen utamanya adalah gas metan (CH4).

        "Biogas lebih lebih ramah lingkungan daripada bahan bakar minyak (BBM) karena pembakaran biogas yakni gas metan akan menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) dan air (H2O) yang ramah lingkungan," kata dia.

        Amrullah memaparkan gas metan adalah gas yang dihasilkan dari perombakan anaerobik senyawa-senyawa organik, seperti limbah cair kelapa sawit.

        "Perombakan anaerob adalah proses perombakan tanpa melibatkan oksigen sehingga tidak ada reduksi zat organik," kata dia.

        Lebih lanjut Amrullah mengatakan gas metana dapat dihasilkan pada kolam-kolam pengolahan limbah cair di perusahaan kelapa sawit. Limbah cair yang ditampung di dalam kolam-kolam terbuka akan melepaskan gas metan (CH4) dan karbon dioksida (CO2).

        "Kedua gas tersebut adalah emisi gas penyebab efek rumah kaca yang berbahaya bagi lingkungan yang selama ini dibiarkan saja menguap ke udara, seharusnya limbah tersebut ditempatkan di sebuah bioreaktor khusus sehingga dapat dimanfaatkan dengan baik," kata dia.

        Amrullah menilai potensi untuk mengembangkan biomassa tersebut sangat tinggi di wilayah Bangka Belitung karena terdapat banyak perusahaan kelapa sawit.

        Berdasarkan data dari Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Provinsi Bangka Belitung pada 2009, tercatat ada 24 perusahaan, dan pada 2012 jumlah perusahaan sawit diperkirakan terus bertambah seiring semakin diminatinya usaha perkebunan tersebut oleh kalangan swasta.

        Sementara itu, luas perkebunan sawit yang dikuasai swasta di Bangka Belitung mencapai 105.351,65 hektare dengan produksi sawit jenis TBS sebanyak 1.801.720,49 ton, produksi CPO 449,160,51 ton dan produksi sawit jenis karnel 103.182,12 ton.

        Terkait dengan pelanggaran yang marak dilakukan oleh perusahaan kelapa sawit dalam mengelola limbah, BLHD mengatakan telah melakukan beberapa upaya pengawasan antara lain pengawasan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL).

        "Kami selalu mengecek setiap tiga bulan apa IPAL mereka sudah sesuai rekomendasi kami, kalau belum kami akan kenakan sanksi administratif," kata dia.

Sumber: 
Antara
Penulis: 
Antara