LIPI RESMIKAN PENGHASIL BIOETANOL DARI LIMBAH SAWIT

         Jakarta, 30/4 (ANTARA) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan meresmikan "pilot plant" penghasil bioetanol dari limbah sawit yang mampu menghasilkan etanol dengan kemurnian 99,5 persen sebanyak 10 liter per hari.

        "Limbah sawit yang jadi sumber biomasa lignoselulosa itu adalah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) atau Oil Palm Empty Fruit Bunch dan pelepah kelapa sawit yang sangat melimpah di Indonesia," kata Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, Dr. Agus Haryono dalam siaran pers LIPI di Jakarta, Senin.

        Jika luas perkebunan Indonesia sekitar 8,4 juta hektare maka dihasilkan 21,3 juta ton minyak sawit dengan potensi TKKS 20 juta ton keadaan basah atau 10 juta ton kering.

        "Dengan kandungan selulosa yang cukup tinggi sekitar 41-47 persen, maka satu ton TKKS berpotensi menghasilkan etanol sebanyak 150 liter dan bila dikalikan 10 juta ton tentu jumlahnya sangat besar," katanya.

        Ia menuturkan, selain karena cadangan bahan bakar minyak (BBM) di dunia sudah semakin menipis dan harganya terus meroket, penggunaan etanol sebagai pengganti bahan bakar juga mempunyai keunggulan dibandingkan minyak fosil.

        Di antaranya, kandungan oksigen yang tinggi (35 persen) sehingga bila dibakar sangat bersih, juga ramah lingkungan karena emisi gas karbon mono-oksida lebih rendah 19-25 persen ketimbang BBM sehingga tidak memberikan kontribusi pada akumulasi karbon dioksida di atmosfer.

        Angka oktan Etanol yang cukup tinggi (129) juga menghasilkan kestabilan proses pembakaran, karenanya daya yang diperoleh lebih stabil, tambahnya.

        "Proses pembakaran dengan daya yang lebih sempurna juga akan mengurangi emisi gas karbon monoksida, dimana campuran bioetanol 3 persen saja mampu menurunkan emisi karbonmonoksida menjadi hanya 1,3 persen,¿ imbuhnya.

        Kebutuhan energi Indonesia saat ini sebagian besar masih bertumpu pada bahan bakar fosil yakni minyak bumi sekitar 51,66 persen, gas alam 28,57 persen dan batubara 15,34 persen.

        Persediaan bahan bakar tersebut kian waktu semakin berkurang dimana cadangan minyak bumi akan habis sekitar 12 tahun lagi, gas hanya tinggal 30 tahun dan batubara masih bisa dimanfaatkan hingga 70 tahun.    
   Memanfatkan bioetanol lignoselulosa dari limbah biomassa adalah alternatif terbaik daripada bioetanol dari singkong, tebu atau bahan pangan lainnya, tandasnya..

       Untuk pembangunan pilot plant produksi bioetanol berbasis lignoselulosa ini LIPI bekerja sama dengan KOICA dengan bantuan Korea Institute of Science and Technology (KIST) dan Changhae Energeering, kata Koordinator Kerjasama LIPI-KOICA tersebut.

        Pilot Plant tersebut akan diremikan oleh Menteri Riset dan Teknologi RI Gusti M Hatta, Kepala LIPI Lukman Hakim, Duta Besar Republik Korea untuk RI, President KIST dan President KOICA di Puspiptek Serpong Tangerang Selatan, Banten.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News