Mencari Ide Pembangunan Melalui Bursa Inovasi Desa

Muntok (30/11/017) Diskominfo – Bursa Inovasi Desa yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Pemerintah Kabupaten Bangka Barat hari Kamis (30/11) mengundang perangkat kecamatan, desa, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat di seluruh desa dan kecamatan, serta perwakilan akademisi.

Bertempat di Graha Aparatur Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, pasar ide dan inovasi itu diselenggarakan atas dasar Surat keputusan Menteri Desa, Pembangunan Daerah  Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2017 tentang Penetapan Pedoman Umum Program Inovasi Desa.

Koordinator Bursa Inovasi Desa, Muhammad Herli, S.AP., mengatakan bahwa Bursa Inovasi Desa yang diselenggarakan itu untuk membantu desa dalam memahami dan merencanakan anggaran desa yang telah dikucurkan oleh Pemerintah Pusat. “Dalam Bursa Inovasi Desa ini, nanti para peserta akan diberikan beberapa contoh program-program yang ada di desa-desa lain di Indonesia. Program-program yang kita ambil, tentunya disesuaikan dengan kondisi dan situasi wilayah Bangka Barat,” ujarnya.

Kepala Desa Kacung, Suhardi, yang hadir bersama Ketua BPD dan Ketua LPM Desa Kacung berkata, “Tujuan kami hadir di acara ini untuk mempelajari program yang dapat memajukan desa kami, Desa Kacung. Semua ide pembangunan desa sebenarnya telah kami ajukan melalui RPJMD dan kami ingin menyelaraskan ide-ide kami itu dengan program pemerintah pusat.”

Bursa Inovasi Desa yang dilaksanakan pada hari itu merupakan salah satu upaya untuk mempercepat proses pemahaman dan pelaksanaan pembangunan desa. Kegiatan ini juga dirancang untuk mendorong peningkatan kualitas dalam pemanfaatan dana desa dengan melakukan beberapa penyesuaian skala prioritas.

Brury Rusadi, salah satu tokoh masyarakat yang diundang, mengungkapkan bahwa Program Inovasi Desa dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah  Tertinggal, dan Transmigrasi Republik Indonesia ini sangat positif mengingat desa-desa sekarang sudah memiliki alokasi anggaran dari APBN untuk bantuan pembangunan desa.

“Kadang fakta yang terjadi, anggaran-anggaran yang diperoleh desa itu sering salah kaprah dalam penggunaannya oleh masing-masing desa. Kebanyakan anggaran itu digunakan untuk membangun kantor desa, padahal seharusnya anggaran itu untuk membangun sektor perekonomian masyarakat,” ujarnya.

“Dengan Program Inovasi Desa ini, diharapkan desa mendapat inovasi dalam membangun sektor ekonomi masyarakatnya sehingga masyarakat tidak memiliki ketergantungan dengan Pemerintah Daerah,” tambah Brury Rusadi.

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Ranto, salah satu perwakilan akademisi yang diundang dalam Bursa Inovasi Desa ini. “Program Inovasi Desa ini merupakan hal yang tidak bisa ditunda-tunda lagi mengingat anggaran yang dikucurkan ke desa-desa itu cukup signifikan. Tentunya anggaran-anggaran itu dimanfaatkan untuk menggali potensi-potensi desa yang ada,” ujar Dosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung itu.

“Saya pikir melalui kegiatan inovasi ini, desa yang memiliki potensi dapat membuat kemasan yang bagus untuk produk-produk desanya sehingga menjadi nilai tambah bagi masyarakatnya. Harapan ke depannya, tentu saja, desa tidak saja seperti disuap nasi untuk makan tetapi dapat mencari makanannya sendiri dengan modal yang sudah ada tadi,” tutupnya.***

 

Sumber: 
Komunikasi dan Informatika Bangka Barat
Penulis: 
Muhammad Erfan

Berita

14/08/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
13/08/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
07/08/2018 | babel.antaranews.com
07/08/2018 | babel.antaranews.com
07/08/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
03/08/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
01/08/2018 | Bagian komunikasi humas dan protokol
31/07/2018 | Bagian Komunikasi Humas dan Protokol