MENRISTEK: PENGEMBANGAN PLTN TUNGGU KESIAPAN MASYARAKAT

          Purwokerto, 15/5 (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan, pengembangan  pembangkit listrik tenaga nuklir masih menunggu kesiapan masyarakat untuk menerima energi alternatif ini.

         "Ini (PLTN) sebenarnya bagus sekali karena dalam jangka panjang, harga operasionalnya murah dan bisa menyediakan dalam jumlah banyak. Hanya saja masalahnya, masyarakat belum siap dan belum berani," katanya di Purwokerto, Selasa sore.

         Menristek mengatakan hal itu kepada wartawan usai menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Teknologi Berkelanjutan 2012 di Graha Widyatama Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.

         Lebih lanjut dia mengatakan, kemampuan uranium yang digunakan PLTN untuk menghasilkan energi listrik jauh lebih besar jika dibandingkan dengan batu bara.

         "Satu gram Uranium dapat menghasilkan satu megawatt dalam 24 jam, sedangkan batu bara untuk menghasilkan satu megawatt butuh berapa ribu ton saja," katanya.

         Selain itu, kata dia, penggunaan PLTN dapat mengurangi efek rumah kaca seperti yang banyak dihasilkan batu bara.

         Akan tetapi dengan  peristiwa di Jepang, lanjutnya, masyarakat justru semakin takut menerima rencana pembangunan PLTN.

         "Oleh karena itu, pengembangan PLTN menunggu kesiapan masyarakat sebab dengan peristiwa di Jepang, masyarakat yang takut malah semakin banyak jika dibandingkan sebelum ada peristiwa tersebut. Padahal sebelum ada kejadian di Jepang, masyarakat yang setuju PLTN telah di atas 50 persen pada saat survei dilakukan," katanya.

         Terkait pemanfaatan energi alternatif lainnya, Menristek mengatakan, pemerintah saat ini tengah mengembangkan energi listrik dari panas bumi.

         Menurut dia, Indonesia merupakan negara yang memiliki 40 persen cadangan panas bumi di dunia tetapi pengembangannya baru sekitar dua persen.

         "Dulu, swasta takut mengembangkan panas bumi karena saat dilakukan eksploitasi ternyata hanya sedikit dan harga jualnya rendah. Sekarang pemerintah melakukan survei mengenai potensi panas bumi untuk disajikan kepada swasta yang akan mengembangkan energi tersebut," katanya.

         Dia mengaku saat masih menjabat Menteri Lingkungan Hidup memberi kemudahan bagi swasta untuk mengembangkan potensi panas bumi karena energi ini dinilai ramah lingkungan
    "Inilah yang akan terus kami dorong sebagai sumber energi bersih yang tidak menghasilkan efek rumah kaca," katanya.

         Terkait upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil atau bahan bakar minyak (BBM), dia mengatakan, Kementerian Riset dan Teknologi (Kemristek) melalui Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengembangkan mobil listrik.

         Menurut dia, saat ini LIPI telah memroduksi mobil yang dinamakan Marlip atau Marmut Listrik.

         "Mobil ini seperti yang biasa digunakan untuk golf. Saya minta LIPI untuk mengembangkan sejenis mikrobus," kata Menristek.

         Ia mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga telah memanggil empat rektor perguruan tinggi, yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi Surabaya (ITS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM), untuk ikut mengembangkan mobil listrik pada 2014.

         Selain itu, kata dia, Kemenristek juga mendorong pemerintah untuk mengalihkan subsidi BBM fosil ke bahan bakar nabati (BBN) dengan harapan harganya dapat terjangkau dan masyarakat tidak bergantung sepenuhnya pada BBM.

         "Saat ini, sebetulnya sudah banyak produksi BBN seperti bioetanol, namun harganya masih terlalu mahal karena mencapai Rp9 ribu per liter, sehingga BBN masih kurang diminati, sebab masih ada BBM yang harganya lebih murah," katanya.

         Menristek mengatakan, dengan  subsidi diharapkan dapat menarik minat swasta untuk memroduksi BBN.

         "Apalagi BBN merupakan energi yang bersih dan 'sustainable' (berkelanjutan). Namun hal ini masih harus dikaji lagi," katanya.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News