MUI BABEL: SUARA ULAMA TIDAK DIDENGAR

          Pangkalpinang, 11/5 (ANTARA) - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), KH Usman Fathan, menyatakan suara ulama sudah tidak lagi didengar umat sehingga penyakit masyarakat (Pekat) berupa pelacuran, narkoba, asusila dan lainnya kian memprihatinkan.

         "Para ulama selalu menyampaikan syiar Islam di berbagai masjid mengajak umat melaksanakan kebaikan sesuai nilai-nilai kitab suci Alqur'an tetapi tidak lagi didengar masyarakat," ujarnya di Pangkalpinang, Jumat, menanggapi maraknya penyakit masyarakat di daerah itu.

         Ia menjelaskan, setiap waktu kami keliling menyampaikan pesan-pesan Islam ke berbagai masjid dengan mengajak umat supaya menjauhi perilaku yang menyimpang dengan nilai Islam, tetapi yang datang ke masjid tidak seberapa dan orangnya itu ke itu saja.

         Namun demikian, masyarakat terutama kalangan generasi muda lebih memilih keluar malam atau menonton tayangan-tayangan asusila di media massa elektronik berupa film porno, sadis, kekerasan, eksploitasi dan yang sejenisnya.

         "Akhirnya masyarakat  terpengaruh tayangan media elektronik televisi yang selalu menampilkan adegan dan pakaian porno tidak menutup aurat atau hanya memakai celana minim hingga di atas lutut dan  asesoris yang vulgar tanpa menutupi aurat," ujarnya.

         Selain itu, katanya, tayangan sadistis dan kekerasan di televisi mempengaruhi perilaku masyarakat dengan tidak berpikir banyak tega melakukan berbagai tindakan kekerasan yang tidak menusiawi dan melukai orang lain.

         Ketua MUI itu menegaskan, media massa  terutama televisi  sebagai penyebab kehancuran moral generasi muda di Bangka Belitung, sehingga banyak kasus pelacuran anak -anak di bawah umur bahkan sejumlah anak sekolah di SMP dan SMA atau SMK serta mahasiswa terlibat seks bebas.

         "Kalau ingin ada perbaikan moral generasi  muda, pemerintah harus mengontrol ketat siaran media massa  yang sadistis, pornografi dan porno aksi tersebut, kalau diharapkan orang tua atau para guru jangan berharap bisa diatasi karena media lebih mempengaruhi jalan pikiran mereka," ujarnya.

         Menurut dia, sejak lama para ulama selalu menentang tayangan pornografi dan pornografi di televisi atau media massa lainnya, namun kenyataannya  tidak pernah berhenti bahkan semakin meningkat intensitas tayangannya.

         Bahkan katanya, institusi yang dibentuk pemerintah untuk mengawasi siaran televisi dan media elektronik lainnya dalam kenyataannya tidak berjalan dengan semestinya, sehingga gaya hidup modern yang serba instan para generasi muda sekarang ini sudah kian memprihatinkan.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News

Berita

19/12/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
23/11/2018 | babel.antaranews.com
04/09/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
14/08/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
13/08/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
07/08/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
03/08/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
15/07/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
14/07/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
14/07/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol