NELAYAN TRADISIONAL MUNTOK KELUHKAN TI

Muntok, Bangka Barat, 9/10 (ANTARA) - Nelayan tradisional Muntok, Provinsi Bangka Belitung mengeluhkan aktivitas tambang inkonvensional (TI) yang beroperasi di sepanjang bibir pantai perairan Bangka Barat.

"Kami ingin para TI beroperasi mengisap bijih timah berada minimal dua mil di luar garis bibir pantai," ujar Pais nelayan Desa Batu Rakit Muntok, Minggu.

Ia menjelaskan, selama ini sebagian besar terumbu karang alami dan buatan tertutup sedimen limbah TI sehingga terumbu karang alami dan buatan mati dan tidak ada ikan untuk ditangkap.

Rusaknya terumbu karang terseut, katanya, mengakibatkan hasil tangkapan para nelayan turun karena tempat berkumpulnya ikan mencari makan telah hancur tertutup lumpur dan membutuhkan waktu puluhan tahuh untuk mengembalikan seperti semula.

"Kami mengharapkan masyarakat saling menghormati dan menjaga batasan wilayah penangkapan ikan dan wilayah penambangan agar masyarakat nelatan juga bisa mencari makan," katanya.

Ia menjelaskan, pada zaman dahulu, sebelum kegiatan TI marak seperti saat ini mereka menangkap ikan hanya dengan menggunakan alat bubu dan hasilnya bisa untuk menghidupi seluruh keluarga, namun saat ini untuk mendapatkan ikan sehari sepuluh kilo saja susah.

Menurut dia, Pemkab harus tegas dalam menerapkan zonasi penambangan dan tangkapan nelayan agar para nelayan penghasiannya meniagkat.

"Program Pemerintah Pusat membangun terumbu karang buatan pada 2010 sepertinya sia-sia karena sudah sebagian besar terumbu karang buatan tersebut tertutup lumpur" katanya.

Hal senada juga diungkapkan Wiratmo Koordinator Pengawas dan Sumberdaya di Dinas Kelautan dan Perikanan Bangka Barat, program kegiatan yang dilaksanakan berkala membangun terumbu karang buatan pada 2006 di perairan Tanjung Besayap, 2008 di Teluk Kelabat dan 2010 di Tanjung Besayap sudah tidak berfungsi dengan baik.

Ia menjelaskan, program Pemprov Babel, Pemerintah Pusat dan terumbu karang alami di sebagian besar perairan Pulau Bangka bagian barat saat ini sebagian besar sudah tertutup sedimen lumpur sisa penambangan.

Ia mengatakan, seringkali pihaknya menerima keluhan dari para nelayan karena hasil tangkapan mereka semakin berkurang akibat beroperasinya TI apung.

Menurut dia, sangat disayangkan tindakan para penambangan liar di sekitar perairan Bangka Barat yang menyebabkan rusaknya terumbu karang dan biota laut lain, dan untuk menumbuhkan kembali terumbu karang tersebut membutuhkan butuh waktu yang sangat lama.

"Selain menutupi terumbu karang alami dan buatan, aktivitas TI juga membuat air menjadi keruh dan sianr matahari tidak bisa masuk sampai ke dasar yang mengakibatkan terumbu karang alami menjadi mati," katanya.

Ia mengharapkan, Pemkab bersama pihak keamanan menghenrtikan aktivitas TI di perairan Bangka Barat, atau paling tidak membuat zonasi yang jelas antara wilayah penambaangan dan wilayah tangkapan nelayan yang banyak ditumbuhi terumbu karang.

Kami mengharapkan masyarakat mulai sadar menjaga kelestarian alam untuk diwariskan kepada generasi mendatang, karena laut merupakan potensi sumber daya alam yang tidak akan habis jika dikelola dengan benar," katanya.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News