PEMBERANTASAN NARKOBA BUKAN SEKEDAR SOSIALISASI

Oleh Donatus Dasapurna Putranta

 

          Sebuah lembaga swadaya masyarakat di Bangka Belitung mencoba berkirah dalam upaya memerangi penyalahgunaan narkotika terutama di kalangan generasi muda, antara lain melalui gerakan persuasif.

         "Pelan-pelan kami dekati mereka melalui berbagai cara sekaligus mencari tahu dan mencoba menangkap keinginan mereka, setelah dekat baru kita coba pengaruhi mereka dan berikan latihan keterampilan sesuai minat dan bakat masing-masing, butuh kesabaran untuk melepaskan mereka dari jerat kenikmatan dunia tersebut," ujar Ketua LSM Briliant Bangka Belitung Hardiansyah.

         LSM Briliant Babel mengkhususkan gerakan penanggulangan bahaya penyalahgunaan narkoba di Bangka Belitung, sampai saat ini lebih dari 500 anggotanya merupakan pencandu, pemakai dan mantan pemakai narkoba yang sebagian besar masih usia belia.

         Menurut dia, para pencandu atau pemakai narkoba dapat disembuhkan, namun butuh proses panjang dan kesabaran karena umumnya mereka tidak mau dikekang dan memiliki jiwa memberontak untuk menyembuhkan ketergantungan seorang pemakai atau pencandu narkoba.

         "Perlu pendekatan dari hati ke hati dan diberi keahlian sesuai bakat dan keinginan mereka agar mampu melepaskan kebiasaan buruk tersebut, bukan dengan mengasingkan atau bahkan memusuhi mereka," ujarnya.

         Ia menjelaskan, sebanyak 500 orang lebih anggota LSM Briliant merupakan mantan pencandu dan masih ada sebagian yang masih aktif memakai narkoba, namun pihaknya terus mendorong mereka untuk lepas dari jeratan narkoba dengan memberikan berbagai kesibukan seperti pelatihan perbengkelan, mesin, listrik, seni dan lainnya.

         Selain pelatihan, kata dia, seluruh anggota LSM Briliant juga melakukan pertemuan rutin dua minggu sekali untuk menjalin keakraban antaranggota, bertukar pengalaman sekaligus kontrol perkembangan kebiasaan buruk mereka.

         Menurut dia, sebagian besar anggota LSM tersebut merupakan generasi muda yang wajib diselamatkan sekaligus diharapkan mereka mampu menjadi penggerak atau kader antinarkoba di tempat tinggal masing-masing.

         "Kami mengkhususkan bergerak dalam bidang penanggulangan narkoba dan seks bebas di kalangan generasi muda, seiring keprihatinan kami mengenai jumlah kasus dan peredaran barang tersebut di wilayah Babel," ujarnya.

         Ia mengatakan, berdasarkan survei yang telah dilakukan di beberapa daerah di Babel, pihaknya menemukan satu kasus penyalahgunaan narkoba dari 100 orang, sedangkan untuk seks bebas perbandingannya mencapai 25 dari 500 orang yang disurvei.

         Menurut dia, angka tersebut di luar dugaan dan sangat mengkhawatirkan, dan untuk itu pihaknya berharap berbagai pihak untuk segera menjalin kerja sama untuk menanggulangi perilaku negatif tersebut.

         "Kami harap pemerintah provinsi, kabupaten dan elemen masyarakat lainnya untuk bersama-sama mengantisipasi perilaku menyimpang tersebut karena mereka adalah generasi penerus bangsa yang harus diselamatkan," ujarnya.

         Apa yang telah dilakukan LSM Briliant Babel tersebut mendapatkan apresiasi positif dari Ketua Harian BNK Bangka Barat, Yulizar.

         Dia mengatakan sebaikya LSM yang ada di Bangka Barat melakukan hal serupa untuk menekan jumlah penyalahgunaan narkoba di daerah itu.

         "Kami berharap LSM meningkatkan perannya dengan melakukan pergerakan riil untuk membantu generasi muda dari bahaya narkoba karena masalah narkoba merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah," ujarnya.

         Menurut dia, Bangka Barat sebagai pintu utama masuknya lalu lintas dari Pulau Sumatra sangat potensial dijadikan pintu masuk peredaran gelap narkoba, untuk itu butuh kesadaran untuk terus memantau perkembangan generasi muda dari ancaman kerusakan moral.

         "Apa yang sudah dilakukan LSM Briliant Babel merupakan contoh positif dan akan lebih baik jika banyak LSM yang meniru langkah nyata tersebut sekaligus memberikan sumbangsih bagi pembangunan daerah," ujarnya.

    
              BNK Gagal Tes Urine
    BNK Kabupaten Bangka Barat pada 2012 merencanakan program tes urine kepada para pelajar dan pejabat eselon, namun terancam gagal karena kekurangan anggaran.

         "Pada awalnya kami ingin melaksanakan tes urine pelajar untuk mewujudkan sekolah bebas narkoba, sekaligus memberi contoh agar dapat diikuti sekolah lain di seluruh Bangka Barat," ujar Pelaksana Harian BNK Bangka Barat, Agus Sunawan.

         Sementara rencana tes urine kepada seluruh pejabat eselon 3 dan eselon 2 di lingkungan Pamkab Bangka Barat, katanya, dimaksudkan agar para pejabat memberi contoh nyata yang baik kepada masyarakat, dengan harapan dapat menekan jumlah penyalahgunaan narkoba di daerah itu.

         Berdasarkan data dari Polres Bangka Barat, pada 2011 terdapat 28 kasus narkoba dengan 37 telah ditetapkan sebagai tersangka, jumlah tersebut meningkat tajam dibanding 2010 yaitu 19 kasus, 17 tersangka.

         "Jumlah kasus narkoba di Bangka Barat mengalami peningkatan cukup mengkhawatirkan, karena sejak 2005 sampai 2011 tercatat 121 kasus dengan jumlah tersangka 172 orang," ujarnya.

         Ia menjelaskan, rencana tes urine tersebut kemungkinan ditiadakan karena minimnya anggaran dari Pemkab untuk kegiatan BNK Bangka Barat yaitu Rp250 juta yang disetujui dari Rp850 juta yang diajukan untuk seluruh kegiatan pencegahan narkoba.

         Selain tes urine, katanya, banyak kegiatan lain yang tidak dapat terlaksana seperti sosialisasi UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika kepada seluruh Satgas antinarkoba di setiap kecamatan dan sekolah, sosialisasi Kebijakan strategi nasional (Jakstranas) Program Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) kepada seluruh instansi terkait seperti Dinas Sosnakertrans, Dinas Kesehatan, DPPKB, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga.

         "Rencana advokasi dan sosialisasi ke Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam upaya mewujudkan pencegahan berbasis masyarakat kemingkinan juga tidak akan terlaksana," ujarnya.

         Meskipun mengalami kekurangan anggaran untuk melakukan berbagai kegiatan tersebut, katanya, BNK Bangka Barat akan tetap berupaya melakukan sosialisasi terutama di sekolah-sekolah dan jika memungkinkan akan mewujudkan satu unit sekolah bebas narkoba.

         Selain itu, katanya, pada 2012 BNK juga akan menerbitkan sekolah bebas narkoba yaitu sekolah yang seluruh siswanya bebas dari narkoba yang dibuktikan melalui tes urine, terbentuk kader (anti)narkoba dan siswa mampu menjadi konselor bagi teman di pergaulannya.

         Untuk mengatasi penyalahgunaan dan peredaran narkoba di kalangan remaja, menurut dia, perlu pengawasan, kontrol dan memperbanyak kegiatan positif yang sesuai dengan keinginan dan bakat para remaja sehingga tidak banyak waktu luang bagi mereka ke hal-hal negatif.

         "Kami berharap minimnya anggaran tidak menjadi kendala dalam melakukan pencegahan dengan memberdayakan seluruh eleman masyarakat dalam upaya mewujudkan masyarakat Bangka Barat mandiri dan sejahtera tanpa narkoba," ujarnya.

    
              Dinkes Tertibkan Obat Penenang
    Dalam upaya pencegahan penyalahgunaan obat penenang, Dinas Kesehatan Bangka Barat menggandeng pihak kepolisian menertibkan peredaran obat penenang di apotek dan toko obat agar tidak disalahgunakan masyarakat.

         "Kami berhasil menertibkan satu toko obat di Kecamatan Tempilang yang menjual bebas obat penenang atau penghilang rasa nyeri merk Somadril yang termasuk dalam kategori logo merah," ujar Kepala Bidang Pelayanan Medik pada Dinkes Bangka Barat, Rudi Faizul.

         Ia menjelaskan, upaya tersebut dilakukan agar toko obat dan apotek tidak sembarangan menjual obat penenang karena dapat menimbulkan efek memabukkan dan ketagihan yang pada gilirannya akan menimbulkan kerawanan sosial.

         "Obat kategori tersebut tidak termasuk narkoba, namun tidak boleh dijual bebas untuk mencegah peradaran bebas obat tersebut karena dapat merusak mental masyarakat," ujarnya.  
    Ia mangatakan, saat ini Dinkes bekerja sama dengan Polres Bangka Barat terus berupaya menertibkan obat tidur dan obat penenang yang termasuk dalam obat logo merah di seluruh apotek dan toko obat di Bangka Barat.

         "Kalau di apotek biasanya pasien menggunakan resep dokter untuk menebus obat tersebut dan jumlahnya sesuai yang tertera dalam resep, namun di toko obat kemungkinan penjual tidak kontrol dan yang penting laku dan untung besar," ujarnya.

         Ia berencana untuk menggandeng berbagai lapisan masyarakat seperti orang tua, pamong desa, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, Petugas Kecamatan, Badan Narkotika Kabupaten dan pihak kepolisian untuk selalu waspada dan melaporkan setiap kejadian dan temuan obat tersebut.

         Dengan kerja sama yang baik antarlembaga, diharapkan akan dapat meminimalkan peredaran obat penenang jenis tersebut sekaligus mencegah terjadinya kerawanan sosial seperti pencurian, pemerkosaan, tawuran antarwarga, perampokan dan berbagai kejahatan lainnya.

    
              Sisir Jalan Tikus Sepanjang Garis Pantai
    Sementara itu, Kapolres Bangka Barat AKBP Solihin mengungkapkan seluruh anggota dikerahkan untuk mengantisipasi masuknya peredaran narkoba di daerah itu dari luar daerah yang disinyalir melalui jalur laut.

         "Secara geografis Bangka Barat sangat dekat dengan Pulau Sumatra dan banyak jalur untuk masuk karena memiliki garis pantai cukup panjang sehingga potensi masuknya peredaran narkoba melalui pelabuhan-pelabuhan kecil sangat potensial," ujarnya.

         Untuk itu, pihaknya berusaha memaksimalkan anggota Polsek setyempat untuk terus memantau daerahnya dan mengoptimalkan penjagaan di sepanjang jalur pelabuhan kecil tersebut.

         "Untuk mengatasi kekurangan personil, polisi harus kreatif dengan memberdayakan dan kerja sama dengan seluruh lapisan masyarakat, berbagai lapran dari masyarakat harus segera direspon untuk menciptakan kamtibmas.

         Selain itu, kata dia, upaya yang dilakukan jajaran kepolisian dengan terjun langsung ke sekolah selain memberikan motivasi belajar, sekaligus memberikan sosialisasi penanggulangan bahaya penyalahgunaan narkoba dan kenakalan remaja.

         "Kenakalan remaja, seperti kebut-kebutan di jalan, minuman keras dan perkelahian antarpelajar menjadi perhatian khusus pihak kepolisian dalam mewujudkan suasana kondusif di wilayah tersebut," ujarnya.

         Ia menjelaskan, dalam upaya mempererat komunikasi antara kepolisisan dengan pihak sekolah, pihaknya berupaya memberikan sosialisasi bahaya penyalahgunaan narkoba di tiap sekolah di daerah itu.

         "Generasi muda rentan dengan persoalan tersebut, inilah yang harus diantisipasi sejak dini agar jangan sampai terjadi," ujarnya.

         Menurut dia, para guru memegang peranan penting dalam memerangi persoalan tersebut, namun peran keluarga dalam memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anaknya juga tidak kalah penting.

         "Kami berharap kegiatan seperti ini sering dilakukan karena generasi muda ini lah yang akan meneruskan perjuangan dalam menyukseskan pembangunan, jangan sampai mereka terjerumus dalam hal negatif yang merusak masa depannya," ujarnya.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News

Berita

19/12/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
23/11/2018 | babel.antaranews.com
04/09/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
14/08/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
13/08/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
07/08/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
03/08/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
15/07/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
14/07/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol
14/07/2018 | Bagian Komunikasi, Humas, dan Protokol