PEMERINTAH DIDESAK SIKAPI TEGAS PENEMBAKAN TKI

Jakarta, 27/4 (ANTARA) - Lembaga swadaya masyarakat Migrant Care mendesak pemerintah bersikap tegas menyikapi penembakan tiga orang tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Barat oleh polsisi Malaysia.

"Pemerintah Indonesia harus bersikap tegas dengan tindakan nyata, tidak cukup hanya memberikan pernyataan prihatin tapi WNI yang menjadi korban terus bertambah," kata Direktur Eksekutif Migrant Care pada diskusi "Perspektif Indonesia" di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Jumat.

Pembicara lainnya pada diskusi tersebut, anggota DPD RI dari Provinsi Banten Abdi Sumaithi dan Deputi Bidang Penempatan BNP2TKI Ade Adam Noch.

Menurut Anis, pemerintah Indonesia hendaknya melakukan tindakan nyata seperti melaporkan tindakan polisi Malaysia ini ke Pengadilan HAM Internasional.

Ia menyayangkan pernyataan dari pejabat pemerintah yang melihat kasus penembakan ini hanya sebagai kasus individu dan hanya menyatakan prihatin.

"Pemerintah seharusnya melihat kasus ini sebagai WNI yang menjadi korban pelanggaran HAM di negara lain dan harus direspons demngan tindakan nyata," katanya.

Apalagi, kata dia, belakangan baru terungkap oleh keluarga korban ternyata beberapa organ dalam tubuh mereka sudah tidak ada.

Anis mendesak pihak berwajib mengusut dugaan hilangnya organ dalam tubuh dari korban penembakan tersebut karena ia menilai hal tersebut merupakan kejahatan luar biasa (ordinary crime).

"Saya menyayangkan mengapa ketika jenazah diserahkan melalui KBRI di Kuala Lumpur tidak diperiksa secara detil sebelum diterima," katanya.

Sementara itu, Deputi Bidang Penempatan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Ade Adam Noch, mengatakan, Pemerintah Indonesia melalui BNP2TKI sudah menyampaikan nota protes kepada Pemerintah Malaysia.

Menurut dia, BNP2TKI masih menunggu jawaban dari Pemerintah Malaysia terkait nota protes tersebut.

Ia menambahkan, BNP2TKI juga sedang menunggu hasil autopsi jenazah ketiga TKI asal Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, NTB tersebut.

"Kalau memang ada bukti cukup kuat, kami akan melaporkannya ke Pengadilan HAM Internasional," katanya.

Tiga orang TKI yang tewas tertembak di Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia adalah Herman (34) dan Abdul Kadir (25) asal Dusun Pancor Kopong, Desa Pringgasela Selatan, Pringgasela, Lombok Timur, serta Mad Noor (28) yang beralamat di Dusun Gubuk Timur, Desa Pengadangan, Pringgasela, Lombok Timur.

Hasil penyelidikan BNP2TKI yang berkunjung ke Malaysia, pada 24-25 April lalu, diduga tiga orang TKI tersebut tewas ditembak oleh lima orang polisi Malaysia, di area Port Dickson, Negeri Sembilan, Malaysia, pada 24 Maret 2012.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News