PEMKAB-LIPI PETAKAN WILAYAH PESISIR BANGKA BARAT

 

Muntok, Bangka Barat, 12/3 (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung, bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) akan melakukan pemetaan wilayah pesisir di daerah itu untuk menyusun rencana tata ruang wilayah laut.
 
"Kerja sama dengan LIPI dilakukan agar data yang dihasilkan lebih obyektif dan berdasarkan kajian ilmiah, bukan kepentingan pihak mana pun," ujar Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bangka Barat Chairul Amri Rani di Muntok, Senin.
 
Ia menjelaskan, sebagai langkah awal pada awal April 2012 tim peneliti dari LIPI akan memulai kajian kawasan laut dengan jarak kurang dari empat mil di seluruh wilayah perairan Bangka Barat, jika sudah selesai akan diteruskan di jarak lebih dari empat mil.
 
Kabupaten Bangka Barat memiliki luas laut 169.028,1 hektare atau 1.690,281 kilometer persegi dengan panjang garis pantai kurang lebih 273 kilometer yang terdapat di enam kecamatan meliputi Kecamatan Muntok, Simpang Teritip, Tempilang, Kelapa, Jebus dan Parittiga.
 
"Pemetaan wilayah laut Bangka Barat tersebut dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih kepentingan dalam satu wilayah sehingga aktivitas masyarakat tidak terganggu bidang lain," ujarnya.
 
Ia mengatakan, selama ini masyarakat nelayan sering tidak bisa beraktivitas karena daerah tangkapan ikan dipakai untuk pertambangan sehingga banyak terumbu karang sebagai rumah ikan yang rusak sehingga produksi ikan menurun.
 
Dengan adanya kajian dari LIPI diharapkan ada pemetaan jelas seperti daerah tumbuh karang, daerah budi daya dan pengembangbiakan ikan serta daerah lainnya untuk kepentingan masyarakat nelayan.
 
"Kami ingin data pemetaan yang dihasilkan berdasarkan kajian ilmiah dan hasil tersebut nantinya dapat dijadikan acuan dalam menyusun pemetaan wilayah kelautan agar tidak semua wilayah laut Bangka Barat dijadikan wilayah pertambangan," ujarnya.
 
Menurut dia, data yang dihasilkan akan menjadi pembanding data dari analis mengenai dampak lingkungan yang dimiliki Bapedalda Bangka Barat, jika sinkron maka data tersebut akan diajukan untuk keperluan penyusunan pemetaan wilayah laut.
 
"Jika tidak klop dengan data Bapedalda akan dicari solusi baiknya bagaimana berdasarkan berbagai pertimbangan, yang pasti jangan sampai merugikan masyarakat nelayan," ujarnya.
 
Tidak bisa dipungkiri Bangka Barat potensial untuk pertambangan terutama tambang pasir timah, namun katanya, tidak semua kawasan boleh ditambang karena di daerah itu banyak juga warga yang berprofesi sebagai nelayan yang membutuhkan wilayah penangkapan tanpa diganggu pertambangan.
 
"Nelayan butuh tempat menangkap ikan yang tidak diganggu pertambangan, penelitian dari LIPI tersebut diharapkan mampu menghasilkan pemetaan jelas dan menguntungkan berbagai pihak," ujarnya.
Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News