Pengelolaan Limbah

Limbah baik itu berupa air, sampah atau tinja selalu menjadi masalah bagi kota baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Namun jika limbah dapat dikelola dengan baik akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Salah satu permasalahan limbah yang dihadapi suatu kota adalah masalah air limbah adalah genangan air  yang mengundang bau busuk, sampah yang tidak dikelola akan menyebabkan penyakit, limbah tinja (kotoran manusia ) yang dibuang sembarang juga akan menimbulkan bau tidak sedap dan membawa bibit penyakit.

Surabaya dan Malang adalah salah satu kota di Indonesia yang sudah berhasil menerapkan pengelolaan limbah baik itu limbah berupa air, tinja ataupun sampah. Bahkan Surabaya berhasil mengelola boezem (bendungan ) dari limbah sampah yang ada disekitar Boezem. Di Surabaya terdapat Boezem Morokrembangan yang berada di kecamatan Krembangan, sebelum dikelola dengan baik Boezem Morokrembangan banyak tumbuh tanaman eceng gondok dan tumpukan sampah rumah tangga yang menimbulkan bau tidak sedap.

  Setelah Pemerintah kota Surabaya berhasil mengelola Boezem dengan baik masyarakat disekitar boezem tidak merasakan bau tidak sedap lagi bahkan mereka dapat menggunakan boezem sebagai ladang untuk menambak ikan lele dan ikan air tawar lainnya yang hasilnyadapat mereka jual  dapat menambah penghasilan mereka.

Desa Gundih , Kecamatan Bubutan merupakan desa yang berada di di bantaran rel kereta api. Sebelum adanya kesadaran masyarakat desa Gundih terkenal dengan desa yang kumuh, pemukiman yang tidak sehat dan tidak layak dihuni.

Semenjak tahun 1998 masyarakat desa Gundih kecamatan Bubutan mempunyai kesadaran untuk membenahi desa mereka. Mereka mulai menata pemukimantempat tinggal mereka dengan  membangun rumah didekat bantaran rel , mereka juga telah berhasil mengelola air limbah yang semula berbau busuk dan dapat menyebarkan penyakit menjadi air limbah yang dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman mereka.

Mayarakat desa Gundih melalui  PNPM telah berhasil mengelola air limbah menggunakan sisten filterisasi yang mereka buat dari  alat  yang sangat sederhana. Mereka membuat alat filterisasi untuk pengelolaan air limbah dengan menggunakan 3 tabung yang mereka buat sedemikiann rupa. Tabung pertama mereka isi dengan arang, tabung kedua mereka isi sabut kelapa , dan tabung ketiga mereka isi dengan pasir, dan batu krikil.

Air limbah mereka alirkan ke tabung pertama, setelah itu mereka alirkan ke tabung dua yang berisi sabut kelapa kemudian mereka alirkan ke tabung ketiga berisi pasir dan batu kerikil setelah itu air  yang keluar dari tabung ketiga atau tabung terakhir dapat digunakan untuk menyiram tanaman disetiap pekarangan warga, mencuci motor

Seperti halnya kota-kota besar di Indonesia , masalah banjir juga menjadi salah masalah yang dihadapi oleh kota Surabaya. Salah satu penyebab banjir 9di kota Surabaya adalah karena limpasan air hujan tidak dapat mengalir ke laut. Untuk mengatasi masalah tersebut kota Surabaya membangun rumah pompa.

 Kota Surabaya juga telah memiliki 54 rumah pompa yang berfungsi untuk memompa air disaat musim hujan agar tidak terjadi banjir yang diawasi oleh 3 hingga 4 orang petugas yang terus memantau air disaat musim hujan. Para petugas juga harus senantiasa menjaga pompa agar tetap berjalan disaat musim kemarau pun mereka harus mengadakan pemeliharaan terhadap genset- genset di rumah pompa banjir agar disaat musim hujan tiba genset tetap berjalan .

Surabaya juga memiliki IPLT yakni Intalasi Pengolahan Limbah Tinja seluas 3,1 Hektar  yang berada  di  Surabaya Timur yang  dibangun sejak tahun 1989 hingga 1990. IPLT yang beroperasi sejak tahun 1991 tersebut mempunyai kapasitas penampungan 400 meter3 perhari. IPLT  tidak memiliki mobil pengakut tinja karena hanya menerima pembuangan tinja dari mitra dan diolah menjadi pupuk.

Cara kerja IPLT

  1.  Limbah tinja dari rumah tangga dibawa dengan menggunakan truck tangki.
  2. Limbah tinja yang dibawa oleh truk dimasukkan kedalam bak pengumpul fitrat dan jika sudah melampau batas dialirkan melalui pintu air ke balancing tank
  3. Dari balancing tank disalurkan ke dalam oxidation ditch kemudian dibuang ke bak pengeras lumpur.
  4. Bila lumpur pada drying ares sudah kering dengan waktu pengeringan selama 30 hari  maka lumpur tersebut sudah dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.

Saat ini di Kabupaten Malang ada 14 TPS ( Tempat Pembuang Sampah ), tapi masih belum semaksimal seperti TPST ( Tempat Pembuangan Sampah Terpadu), Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang,

TPST Mulyoagung, Peran Aktif Meraih Award Energi

Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) TPST Mulyoagung Bersatu di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang ini dapat menjadi contoh bagu  desa atau KSM lainnya. Bila sebelumnya selama 20 tahun sampah dari masyarakat terbuang percuma, maka setelah ada TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu), sampah itu dikelola dan malah bisa menghasilkan uang.  Sebelum ada TPST Mulyoagung yang beroperasi sejak 2 Februari 2011 lalu, desa ini memiliki tempat pembuangan sampah yang berada di pinggir sungai Brantas. Sehingga sampah-sampah kadang juga terbuang di sungai, sehingga mencemari lingkungan. Sampai akhirnya ada pemikiran pengolahannya dan merintisnya sejak 2009 untuk mendapat bantuan.  
Pada 2010 ada pembiayaan pembangunan TPST ini, dari empat mata anggaran yaitu PNPM, APBN, ABPD dan desa. Setelah terbentuk dan dioeprasikan TPST yang kini menjadi binaan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Malang ini menampung volume sampah dari masyarakat sebanyak 15-20 meter kubik per harinya. “Begitu sampah datang, kemudian ada pekerja yang melakukan pemilahan atas sampah yang datang,” jelas Mulyadi dari Divisi Pengolahan, TPST Mulyoagung Bersatu.  Dia melanjutkan, setelah sampah dipilah sesuai jeninya, untuk sampah organik atau hijau kemudian diolah menjadi pupuk.  

 Sedangkan sampah plastik, besi, maupun sampah lainnya yang masih bisa terpakai, akan didaur ulang menjadi berbagai kerajinan. Sedangkan sampah yang tidak bisa diolah maupun didaur ulang, akan dihancurkan dengan dibakar. “Jadi, yang kami hasilkan dobel. Yang pertama pupuk organik dan yang kedua yakni beberapa kerajinan hasil daur ulang. Semua kegiatan maupun prosesnya, dilakukan sendiri oleh warga desa sini,” tukasnya. Diperkirakan, dari volume sampah warga, petugas TPST bisa menghasilkan pupuk organik hingga 300 kilogram setiap harinya.
“Selama dua tahun beroperasi, TPST ini banyak menghasilkan manfaat kepada warga di sekitar desa ini. Terutama untuk meningkatkan perekonomian mereka, sekaligus mencegah pencemaran lingkungan sungai,” urainya. Untuk itu, dia berterimakasih kepada Pemkab Malang yang sebelumnya mendukung penuh TPPST ini. Sehingga saat ini terdapat ratusan warga Desa Mulyoagung Kecamatan Dau yang menggantungkan hidupnya pada TPST tersebut, seperti menjadi pekerja, perajin, maupun mengumpulkan barang bekas untuk dijual kembali. (lmyusuf)

 

Oleh           : Laksamana Muhammad Yusuf

 

 

Sumber: 
Humas dan Protokol
Penulis: 
Humas dan Protokol