PENGELOLAAN PASAR TRADISIONAL MASIH BERMASALAH

         Jakarta, 22/5 (ANTARA) - Kementerian Perdagangan menilai bahwa pengelolaan pasar tradisional masih bermasalahan sehingga memberikan persepsi negatif kepada masyarakat.

        "Kami mendapati tujuh masalah pasar tradisional, tapi persoalan utama adalah pengelolaan yang bermasalah sehingga pasar tradisonal tidak berjalan optimal," kata Dirjen Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Gunaryo di Jakarta, Selasa.

        Contoh dari pengololaan pasar yang bermasalah menurut Gunaryo adalah pasar yang belum memiliki pembukuan keuangan, dana pemeliharaan pasar yang minim, gang pasar sempit dan sesak serta jalan di depan pasar yang macet dan dipenuhi pedagang.

        "Tata kelola pasar masih kurang baik sehingga ada pasar yang dalam tiga bulan pertama dibangun masih beroperasi tapi pada bulan keempat pedagang sudah meluber keluar pasar," jelas Gunaryo.

        Masalah lain adalah logistik dalam pasar seperti disparitas harga pasar tradisional dengan pasar modern dan jaringan sarana distribusi pasar.

        "Tapi kami sudah mengeluarkan aturan pembatasan barang impor agar pengusaha ritel tidak menjual produk jadi impor langsung ke konsumen," jelas Gunaryo.

        Pada Kamis (3/5), Kemendag mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 27 Tahun 2012 tentang ketentuan angka pengenal importir yang menetapkan bahwa perusahaan hanya boleh memiliki satu angka pengenal importir sehingga barang jadi yang diimpor itu juga akan terbatas.

        "Masalah lain adalah ketepatan tapak pasar, apakah jumlah kios di pasar tersebut sudah tepat dengan kebutuhan, kami sempat salah memprediksi kebutuhan pasar di Bantul dengan membangun 800 kios padahal hanya ada 500 pedagang sehingga sisa kios terbengkalai," ungkap Gunaryo.

        Hasil dari survei Kemendag terhadap 9.559 pasar di Indonesia menunjukkan bahwa 95 persen pasar tersebut sudah berumur lebih dari 25 tahun dan 1 persen berumur antara 10-20 tahun.

        "Padahal fisil pasar berumur di atas 10 tahun sudah tidak memadai dan rusak, hanya 3 persen pasar yang umurnya berada di bawah 10 tahun," ungkap Gunaryo.

        Untuk mengatasi kondisi pasar tersebut, Kemendag sudah melakukan revitalisasi pasar-pasar di Indonesia, termasuk membangun pasar percontohan agar dapat memberdayakan usaha mikro, kecil dan menengah.

        "Tahun lalu kami mengalokasikan dana Rp650 miliar untuk revitalisasi pasar tradisional sedangkan tahun ini ada sekitar Rp600 miliar, termasuk di dalamnya pembangunan pasar percontohan," tambah Gunaryo.

        Pada periode 2011-2014, pemerintah menargetkan pembangunan 79 pasar percontohan.

Sumber: 
Antara
Penulis: 
Antara