PENGEMBALIAN KEJAYAAN LADA BABEL TERKENDALA BUDAYA MASYARAKAT

          Toboali, Bangka Selatan, 8/5 (ANTARA) - Pengembalian kejayaan lada putih atau lebih dikenal dengan istilah 'Muntok White Pepper' terkendala budaya masyarakat yang masih menerapkan teknologi budi daya lada tradisional.

         "Dahulu Babel daerah penghasil lada terbesar di dunia, namun saat ini telah diambil Singapura karena masyarakat petani lada Babel enggan memanfaatkan teknologi terkini dalam mengembangkan lada," ujar Penasehat Forum Musyawarah Keluarga Masyarakat Bangka Belitung (FMKMB), Kafin di Toboali, Selasa.

         Ia mengatakan, untuk merubah pola fikir dan kebiasaan masyarakat Babel dalam budi daya lada secara tradisional tersebut, maka dalam waktu dekat pihaknya akan mendatangkan tenaga ahli tentang lada dari Institut Pertanian Bogor untuk membantu masyarakat menerapkan tekonologi budi daya lada.

         "Kami juga membuka diri bagi masyarakat yang ingin berkonsultasi seputar penanganan tanaman lada dengan harapan ke depannya melalui upaya tersebut dapat mengembalikan kejayaan 'Muntok White Pepper'," ujarnya.

         Masih berkembangnya tradisi masyarakat sistem budi daya dan penanganan pasca panen yang tradisional tersebut telah membuat Indonesia khususnya Babel kehilangan satu produk unggulannya berupa 'Muntok White Pepper' yang pernah paling kesohor di dunia.

         Ia mencontohkan salah satu teknologi tradisional yang masih dianut secara umum petani lada di Babel yakni saat pemisahan antara kulit dengan butiran lada masih menggunakan sistem perendaman di air mengalir (sungai) ataupun air tindak mengalir (kolam).

         Akibat dari itu, kata dia, rendahnya kualitas lada yang dihasilkan karena tercemar kotoran, bakteri dan lainnya sehingga berdampak langsung pada permintaan negara-negara pengimpor lada.

         "Untuk membantu para petani lada ketika penanganan pascapanen seperti saat perendaman, maka pemda dapat membuatkan kolam perendaman yang bebas dari berbagai bakteri, kotoran dan lainnya melalui dana kesejahteraan sosial para perusahaan di daerah itu diantaranya PT Timah Tbk," ujarnya.

         Ia mengatakan, kendala lainnya yang menyebabkan sulitnya mengembalikan kejayaan lada Babel adalah kurangnya kemampuan manajerial masyarakat dalam menjalankan usaha budi daya lada sehingga sistem pengerjaannya tida spesifik yang pada akhirnya berdampak pada hasil produksi.

         Ia mencontohkan petani lada yang telah memiliki konsep manajerial yang baik dan terarah yakni petani lada di Malaysia. Dimana petani lada di negara tersebut mencatat seluruh kegiatan yang akan dilakukan pekerjanya dan dipasang di tengah-tengah areal perkebunan.

         Melalui cara tersebut, kata dia, para pekerjanya memiliki panduan dan konsep seperti apa yang harus mereka lakukan hari ini serta keesokan harinya karena semuanya sudah terjadwal.

         "Satu hal yang telah membuat kita merasa miris melihatnya yakni negara penghasil lada terbesar di dunia selain Singapura yakni Malaysia, dimana sebelumnya negara tersebut belajar kepada Indonesia akan tetapi saat ini justeru malah sebaliknya Indonesia yang belajar dengan Malaysia salah satunya tentang budi daya lada," ujarnya.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News