PERUSAHAAN AS BERMINAT INVESTASI DI SEKTOR INFRASTRUKTUR

         Jakarta, 1/5 (ANTARA) - Sejumlah perusahaan Amerika Serikat berminat untuk berinvestasi di Indonesia, khususnya di sektor infrastruktur.

        "Indonesia dianggap memiliki pembangunan ekonomi yang pesat dan para pengusaha Amerika Serikat tertarik untuk berinvestasi pada sektor infrastruktur," kata Dirjen Kerja Sama Industri Internasional Kementerian Perindustrian Agus Tjahajana di Jakarta, Selasa.

        Agus mengungkapkan hal tersebut setelah bertemu dengan delegasi pengusaha AS di gedung Kementerian Perindustrian bersama Duta Besar AS untuk Indonesia Scot Marciel.

        "Dubes AS tadi membawa banyak perusahaan di bidang infrastruktur seperti industri rekayasa, radar dan alat berat yang dapat digunakan untuk membangun pelabuhan, jalan, bandara dan infrakstruktur lain," kata Agus.

        Salah satu anggota delegasi bisnis yang berminat untuk berinvestasi adalah perusahaan penerbangan Lockheed Martin dan industri rekayasa GE Transportation.

        "Masih ada perusahaan lain seperti perusahaan otomotif General Motors yang berinvestasi 150 juta dolar AS, perusahaan ritel P & G sebesar 100 juta dolar AS dan perusahaan alat berat Caterpillar sebesar 150 juta AS di Batam," jelas Agus.

        Investasi GM tersebut adalah dengan pembangunan pabrik di Bekasi yang akan beroperasi pada 2013 untuk memproduksi mobil dengan merek Chevrolet dengan kapasitas produksi 40 ribu kendaraan per tahun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 800 orang.

        Perusahaan Lockheed Martin pada Februari 2012 juga menandatangani kerja sama tentang peningkatan pengawasan, keamanan dan manajemen lalu lintas udara dengan perusahaan teknologi Indonesia PT CMI Teknologi.

        Dalam kesepakatan itu, kedua pihak menyetujui untuk mendukung pengembangan National Airspace Surveillance Republic of Indonesia (NASRI) dengan memproduksi 40 radar jarak jauh TPS-77 dan FPS-117.

        Namun, menurut Agus, pengusaha AS masih ingin memahami aturan usaha di Indonesia sebelum berinvestasi lebih besar.

        "Mereka membandingkan aturan di negaranya atau aturan di negara lain, keinginan mereka lainnya juga masuk ke industri yang mereka suka seperti energi, penerbangan, infrastruktur," tambah Agus.

        Staf Khusus Menperin John A Prasetyo mencontohkan kasus pencabutan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 39 tahun 2010 tentang Ketentuan Impor Barang Jadi oleh Produsen.

        "Lalu bagaimana aturan baru yang akan dibuat pemerintah? Mereka berharap aturan bisnis 'friendly' tapi tegas agar tidak membuat investor bertanya-tanya," kata John.

        Agus menambahkan bahwa dengan semakin banyak investor yang datang ke Indonesia maka pemerintah akan mendorong mereka untuk berusaha di luar Pulau Jawa, khususnya infrastruktur.

        "Misalnya peluang untuk industri mobil, jangan hanya melihat mobil di Pulau Jawa, tapi juga di luar Pulau Jawa dengan jumlah 400 kabupaten, apalagi bila pemerintah  membangun infrakstruktur, jadi peluang akan lebih besar," jelas Agus.

        Menurut catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal, hingga akhir 2011, nilai investasi AS ke Indonesia mencapai 1,49 miliar dolar AS, sedangkan pada kuartal pertama 2012, investasi AS baru 17,9 juta dolar AS

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News