PERUSAHAAN PERTAMBANGAN BELUM SERIUS LAKUKAN REVITALISASI

          Muntok, Bangka Barat, 7/5 (ANTARA) - Sebanyak 24 perusahaan pertambangan di Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung, sampai saat ini belum ada yang serius menggarap revitalisasi lahan bekas tambang di daerah itu.

         "Baru PT Timah Tbk yang melakukan revitalisasi di beberapa lokasi, namun itu pun jumlahnya sangat terbatas dan banyak di antaranya dirusak kembali dengan penambangan bijih timah yang dilakukan warga," ujar Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Bangka Barat, Chairul Amri Rani, di Muntok, Senin.

         Ia menjelaskan, pihaknya sedang mencoba menghubungi seluruh perusahaan pertambangan tersebut untuk pendataan ulang lokasi izin usaha pertambangan (IUP) mereka, seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan dan lauas lahan yang telah direvitalisasi.

         Menurut dia, pendataan tersebut dimaksudkan agar Pemkab dapat menyusun kegiatan revitalisasi yang rencananya akan melibatkan Pemkab, perusahaan bersangkutan dan masyarakat sekitar lokasi agar kelestarian lingkungan terjaga.

         Selama ini terjadi carut marut penanganan pertambangan karena pengurusan izin kepemilikan IUP langsung dilakukan ke Pemerintah Pusat tanpa melalui Pemkab, sehingga Pemkab kurang paham detail lahan mana saja yang sudah menjadi kawasan produksi perusahaan pertambangan di daerah itu.

         Amri mengharapkan, ke depan Pemkab dilibatkan langsung dalam pengurusan izin tersebut sehingga pihaknya mampu mengontrol kewajiban perusahaan pascapenambangan dengan melakukan revitalisasi lahan dan kewajiban pertanggungjawaban sosial.

         "Kami lebih senang menyebutnya reinvestasi dibandingkan revitalisasi atau reklamasi, karena dari kegiatan itu diharapkan tumbuh sektor ekonomi baru yang dapat menyejahterakan masyarakat," ujarnya.

         Menurut dia, berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan, seluruh perusahaan pertambangan wajib melakukan perbaikan lahan bekas tambang untuk kesejahteraan warga di sekitarnya.

         "Meskipun belum ada perusahaan yang serius menggarap lahan bekas tambangnya, namun mereka tertib menyetor ke Bank Sumsel Babel anggaran untuk program revitalisasi tersebut," ujarnya tanpa menyebutkan besarnya anggaran yang sudah terkumpul untuk program tersebut.

         Ia mengatakan, untuk langkah awal pihaknya menggandeng Muntok Heritage Community (MHC) mencoba membuat proyek percontohan seluas 2 hektare di Menjelang, Muntok, dengan mengembangkan berbagai tanaman dan peternakan di lahan bekas tambang lainnya.

         "Kami bersama MHC dan BPPT sedang mencoba menggarap satu lokasi untuk dikembangkan dengan penanaman berbagai tanaman seperti pohon jarak, berbagai tanaman pangan, sayuran, buah-buahan, bumbu dapur dan pengembangan ternak sapi.

         Menurut dia, penanaman pohon jarak dan peternakan sapi tersebut diharapkan mampu menyediakan energi ramah lingkungan yang bermanfaat untuk menjawab kekurangan energi kelistrikan dan bahan bakar rumah tangga di daerah itu, sekaligus meningkatkan kesejahteraan dengan hasil tanaman lainnya.

         "Di tempat itu kami prioritaskan pengembangan energi listrik dan gas kebutuhan rumah tangga dengan memanfaatkan tanaman jarak dan kotoran sapi untuk mewujudkan kemandirian energi, sementara tanaman lainnya diharapkan dapat menjadi contoh dalam upaya meningkatkan pendapatan warga," ujarnya.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News