PLTN SOLUSI ATASI KEKURANGAN LISTRIK DAERAH

Muntok, Bangka Barat, 20/10 (ANTARA) - Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Dr Sarwiyana Sastratenaya, menyatakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) merupakan salah satu solusi mengatasi kekurangan pasokan listrik daerah dan nasional.

"Kebutuhan energi listrik semakin meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan ekonomi masyarakat, sementara persediaan minyak dan batubara sebagai bahan bakar PLTU semakin menipis," ujarnya dalam sosialisasi energi nuklir di Gedung Sriwijaya Pusmet, Muntok, Kamis.

Ia menjelaskan, untuk mengatasi kekurangan pasokan listrik daerah dan nasional, Pemerintah pusat berencana membangun dua unit reaktor PLTN di Provinsi Bangka Belitung yaitu di Toboali, Bangka Selatan satu unit dan Di Muntok, Bangka Barat satu unit.

Dengan ekplorasi sumber daya energi dari fosil seperti saat ini, katanya, energi dari fosil akan cepat habis, contohnya energi minyak hanya akan bertahan sampai 21 tahun ke depan, gas 61 tahun dan batubara sekitar 80 tahun.

"Perkiraan tersebut dengan catatan penggunaan normal seperti saat ini, namun jangka waktu akan semakin berkurang seiring meningkatnya jumlah industri yang memanfaatkan energi tersebut," ujarnya.

Ia mengatakan, untuk mengatasi kelangkaan energi tersebut, Pemerintah Pusat mengupayakan adanya energi baru yang dapat menggantikannya dengan biaya operasional yang rendah sehingga dapat menekan anggaran negara dan PLTN menjadi salah satu solusi mengatasi masalah tersebut.

Ia menjelaskan, energi yang dihasilkan satu gram uranium sama dengan satu ton batubara sehingga energi uranium dinilai begitu hemat dan sangat dibutuhkan untuk menekan biaya produksi yang selama ini menjadi salah satu kendala PLN dalam meningkatkan kapasitasnya.

Menurut dia, cara kerja PLTN hampir sama dengan PLTU, yaitu pada PLTU pemanas untuk menggerakkan turbin penghasil energi listrik memakai batubara sedangkan untuk PLTN memakai energi uranium.

Ia mengatakan, begitu hematnya PLTN sehingga banyak negara yang tertarik membangun PLTN, contohnya Taiwan memiliki enam unit PLTN, Jepang 59 unit PLTN dan sedang membangun lagi sebanyak 20 unit PLTN, Pakistan dua unit PLTN, India 15 unit PLTN, Amerika Serikat 105 unit PLTN dan untuk seluruh dunia saat ini sudah beroperasi sebanyak 427 unit reaktor PLTN dan yang baru dalam taraf pembangunan sebanyak 53 unit.

Menurut dia, Indonesia merencanakan pembangunan PLTN dan diharapkan dapat berfungsi dan dioperasikan pada 2020 seperti yang tertuang dalam Undang undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP 2005 sampai 2025).

"Pemerintah bermaksud menerapkan bauran energi optimum yang terdiri dari semua unsur sumber energi yang memungkinkan, seperti yang tertulis dalam Keppres Nomor 5 Tahun 2006 yang menargetkan bauran energi sampai dengan 2025, untuk nuklir sebanyak dua persen energi primer atau empat persen kebutuhan listrik," ujarnya.

Pada 2010, katanya, jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 237 juta jiwa dan membutuhkan konsumsi listrik sekitar 148 terawatt/jam, padahal selama setahun hanya mampu menghasilkan sekitar 35 Gigawatt.

Untuk mengatasi hal tersebut, katanya, Pemerintah Pusat bekerja sama dengan Batan, PT Surveyor Indonesia sedang melaksanakan uji tapak PLTN di Kota Muntok untuk memastikan kelayakan tempat tersebut sebagai lokasi pembangunan reaktor PLTN.

"Kami harap masyarakat tidak perlu khawatir yang berlebihan mengenai hal rencana pembangunan PLTN karena Pemerintah Pusat dan Daerah sudah memikirkan manfaat dan efek yang akan ditimbulkan dari hal tersebut karena Batan Internasional juga akan menggawasi langsung operasional PLTN tersebut," ujarnya.

Menurut dia, proses pengelolaan uranium dalam PLTN memiliki standar khusus yang wajib dilaksanakan dengan pengawasan ketat dari para ahli dalam bidang ketenaganukliran internasional untuk menjamin keselamatan kerja dan masyarakat sekitar agar tidak terjadi radiasi yang dapat merugikan manusia.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News