PRESIDEN YUDHOYONO KURANGI VONIS CORBY LIMA TAHUN

        Jakarta, 22/5 (ANTARA) - Mensesneg Sudi Silalahi membenarkan bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atas pertimbangan MA, telah menandatangani keputusan untuk mengurangi masa pidana Schapelle Corby, warga negara Australia yang manjadi narapidana dalam kasus penyelundupan mariyuana, selama lima tahun.

        "Presiden sudah menandatangani pengurangan hukumannya," kata Sudi ketika ditemui di komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa.

        Menurut Sudi, berkas keputusan itu sudah dikirim ke Pengadilan di Denpasar untuk kemudian diteruskan kepada Corby.

        Sudi menjelaskan, keputusan pengurangan hukuman itu sudah melalui proses dan prosedur yang sesuai dengan aturan perundang-undangan tentang grasi yang berlaku di Indonesia.

        "Kita juga meminta pertimbangan dari Ketua MA, juga menteri-menteri terkait," tuturnya.

        Menurut Sudi, Mahkamah Agung memberikan pertimbangan yang pada intinya mengarah pada pemenuhan permohonan grasi yang diajukan oleh Corby. Salah satu pertimbangan itu adalah mengurangi masa hukuman warga negara Australia itu.

        Selain itu, keberadaan beberapa warga negara Indonesia di Australia yang terjerat kasus hukum juga menjadi salah satu pertimbangan.

        Sudi membenarkan ada dua warga negara asing lain yang juga mendapatkan pengurangan hukuman. Namun, Sudi menolak menjelaskan identitas kedua orang itu. Dia hanya menyebutkan salah satu dari kedua orang itu adalah warga negara Jerman.

        Corby ditangkap pada 8 Oktober 2004 karena berusaha menyelundupkan 4,2 kg mariyuana di bandara Ngurah Rai, Bali. Saat itu, Corby baru saja terbang dari Australia dengan menumpang pesawat Australia Airlines AQ 7829.

        Pengadilan Negeri Denpasar menjatuhkan vonis penjara selama 20 tahun terhadap Corby pada pertengahan 2005. Selama menjalani masa pidana, Corby juga mendapat beberapa remisi atau pengurangan hukuman.

Sumber: 
Antara
Penulis: 
Antara