RSUD-PMI BEKERJA SAMA PEDULI DONOR DARAH

Muntok, Bangka Barat, 15/10 (ANTARA) - Rumah Sakit Umum Daerah Bangka Barat telah menjalin kerja sama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) setempat untuk meningkatkan kepedulian masyarakat mendonorkan darah kepada sesama yang membutuhkan.

"Stok darah di Unit Tranfusi Darah, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangka Barat, saat ini hanya tersedia 27 kantong darah untuk memenuhi kebutuhan pasien," kata Kepala UTD RSUD Bangka Barat, Mika Sasmita di Muntok, Sabtu.

"Rata-rata setiap hari kebutuhan darah sebanyak enam kantong, jadi persediaan saat ini sangat kurang," ujarnya.

Ia mengatakan, stok darah sebanyak 27 kantong tersebut terdiri atas golongan darah A sebanyak 12 kantong, B dua Kantong, O 11 katong dan AB dua kantong.

Menurut dia, kegiatan sosial donor darah kurang diminati masyarakat, terbukti pada saat pameran pembangunan yang dilaksanakan pada 28 September sampai 2 Oktober 2011 di gerai UTD hanya mampu mendapatkan 35 kantong darah dari para pengunjung pameran tersebut.

"Kami harus lebih banyak lagi melakukan kegiatan sosialisasi untuk meningkatkan animo masyarakat berdonor darah melalui kegiatan-kegiatan massal, sekolah-sekolah dan instansi pemerintah dan swasta agar stok darah selalu ada," ujarnya.

Di UTD tersebut, katanya, memiliki anggota donor sukarela sekitar 200 orang yang terdaftar, namun yang rutin setiiap tiga bulan sekali donor hanya sekitar 20 orang, sementara yang lain pasif atau mau mendonor jika dihubungi pihak UTD sewaktu-waktu.

Ia mengatakan, selama ini jika ada pasien di RSUD yang membutuhkan darah, pihak UTD menyarankan untuk berusaha mencari sendiri dari pihak keluarga atau rekan pasien, jika tidak menemukannya dan UTD tidak ada stok, maka harus mencari ke PMI Pangkalpinang atau PMI Sungailiat yang jaraknya sekitar 130 sampai 150 kilometer dari Kota Muntok.

"Jauhnya jarak yang harus ditempuh dan memakan waktu sekitar empat jam untuk sampai lagi ke Kota Muntok, dikhawatirkan akan membahayakan keselamatan pasien, untuk itu kami mohon kesadaran masyarakat untuk berdonor darah rutin tiga bulan sekali," katanya.

Menurut data, pada 2011 penduduk Bangka Barat mencapai 138.869 orang yang terdapat di enam kecamatan meliputi Kecamatan Muntok 48.362 orang, Simpang Teritip 26.816 orang, Jebus 19.239 orang, Kelapa 32.020 orang, Tempilang 25.991 orang dan Parittiga 31.441 orang.

Seementara itu, Direktur RSUD Bangka Barat Dr Mario D Simandjuntak mengatakan, jika 10 persen saja dari seluruh penduduk Bangka Barat peduli untuk berdonor darah rutin tiga bulan, stok darah di UTD pasti mencukupi untuk kebutuhan pasien di RSUD dan tidak menutup kemungkinan rumah sakit lain akan mencari darah kesini.

Ia mengatakan, keengganan masyarakat untuk donor darah juga disebabkan kesadaran masyarakat Babel masih rendah menyumbangkan darahnya kepada orang yang tidak dikenal atau bukan familinya.

Menurut dia, sosialisasi ke masyarakat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat melakukan donor darah dan merubah stigma yang berkembang di masyarakat seperti 'donor darah bikin badan gemuk' atau 'donor darah mengakibatkan ketagihan'.

"Stigma yang berkembang tersebut sebenarnya salah, donor darah itu membuat badan lebih fresh karena dengan donor darah tubuh secara otomatis akan mengganti darah yang hilang dengan darah baru dan tidak ada hubungannya dengan bertambahnya nafsu makan dan ketagihan," katanya.

Ia mengharapkan, pemerintah melalui Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial lebih serius meningkatkan sosialisasi pentingnya donor darah ke sekolah-sekolah dan organisasi kepemudaan mampu menularkannya di lingkungan tempat tinggalnya.

"Jika ingin lebih serius lagi, tidak ada salahnya mewajibkan seluruh pegawai negeri sipil (PNS) untuk donor darah setiap tiga bulan sekali secara bergiliran, dengan banyaknya jumlah PNS yang dimiliki kami yakin stok darah di UTD akan selalu ada," katanya.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News