SAMPAH DAN SUMBER DAYA

SAMPAH DAN SUMBER DAYA

Oleh : Diki Anugrah Hardi

(Fungsional Pengendalian Dampak Lingkungan Kab. Bangka Barat)

 

  1. Pendahuluan

Sampah adalah buangan padat dan setengah padat yang dihasilkan dari aktivitas manusia dan hewan yang tidak disukai atau tidak berguna (Tchobanoglous et al., 1993). Seiring dengan perkembangan zaman sampah tidak hanya terbatas dari sisa-sisa aktivitas manusia dan hewan saja namun juga dari kegiatan industri, bencana alam serta kegiatan konstruksi dan pembongkaran bangunan (Memon, 2009). Sampah menurut Undang-Undang 18 Tahun 2008 adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.

 

Timbulan sampah dipengaruhi oleh jumlah penduduk, pembangunan, dan pendapatan perkapita. Dalam kurung waktu seratus tahun terakhir ketiga aspek diatas meningkat dengan tajam sehingga menyebabkan meningkatnya timbulan sampah. jika tidak dikelola dengan baik, sampah dapat menyebabkan degradasi lingkungan. Berdasarkan kajian-kajian yang telah dilakukan, sampah dapat merusak tanah, air, dan udara. Tanah yang tercemari oleh sampah berpotensi menjadi sumber penyakit jika ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan. Air lindi dari penguraian sampah dapat mencemari air tanah yang berbahaya bagi ekosistem sekitarnya. Selain itu, sampah juga ikut serta meningkatkan gas rumah kaca di atmosfer bumi yang dapat mempengaruhi iklim bumi.

 

  1. Paradigma Sampah

Paradigma sampah berkembang seiring dengan semakin kompleksnya permasalah sampah. Pada awalnya sampah langsung dibuang ke lingkungan tanpa harus dikelola. Seiring semakin meningkatnya timbulan sampah, ternyata hal ini sangat menggangu pemukiman penduduk dan sampah diisolasi ke tempat jauh dari pemukiman penduduk. pada kondisi ini masih kita jumpai di tempat pemrosesan akhir (TPA) menggunakan sistem open dumping. TPA Open dumping adalah sistem penanganan sampah yang menggunakan pendekatan menjauhkan sampah dari pemukiman penduduk dan dikumpulkan pada satu lahan kosong tanpa harus dikelola. Paradigma ini juga tidak mampu menangani sampah dengan baik. Timbulan sampah semakin lama semakin meningkat sehingga sistem open dumping tidak efektif, terutama di kawasan perkotaan yang lahannya semakin terbatas dan dampak lingkungan yang ditimbulkan semakin meningkat.

Berajak dari padaradigma di atas yang menekankan sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang ternyata sangat tidak efektif dan semakin mengancam lingkungan. Di sisi lain perkembangan pengetahuan dan teknologi juga ikut memberikan kontribusi berharga bagi perkembangan pengelolaan persampahan. Dengan semakin terbatasnya sumber daya, teknologi telah berkembang memanfaatkan bahan baku dari bahan-bahan yang dapat didaur ulang untuk dijadikan bahan baku industri. Hal ini secara tidak langsung mempengaruhi paradigma pengelolaan sampah bergeser dari sampah yang harus dibuang menjadi sampah sebagai sumber daya. Mc DOugall dan kawan-kawan dalam buku Integrated Solid Waste Management: a Life Cycle Inventory Second Edition yang diterbitkan tahun 2001 menggambarkan sampah seperti proses produksi pada umumnya. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 1 Elemen Menajemen Sampah Terpadu

Sumber : McDougall et al., 2001

 

Berdasarkan gambar di atas, dapat dijelaskan bahwa sampah yang didukung oleh energi, investasi, dan material pendukung dapat menghasilkan produk berupa kompos, energi, dan bahan material sekunder. Pola ini sama dengan pola pembuatan produk pada umumnya, yang membedakannya adalah bentuk prosesnya. Berdasarkan Gambar di atas, proses yang terjadi adalah sebagai berikut:

  1. Penimbunan (TPA) sekaligus memanfaatkan gas,

Memanfaatkan gas metana pada proses penimbunan sampah kota bukan merupakan teknologi baru. Teknologi ini telah lama digunakan di Negara maju seperti Jerman. Di Indonesia juga telah diterapkan seperti di TPA Bantar Gerbang, Bekasi. Pada prinsipnya teknologi ini adalah memanfaatkan gas yang dihasilkan dari penguraian sampah yang ditimbun dan dialirkan untuk menggerakkan turbin agar dapat dimanfaatkan untuk pembangkit listrik.

  1. Pembakaran

Pembakaran sampah dapat meghasilkan energi panas dan energi listrik. Pembakaran yang dilakukan menggunakan alat insinerator dan harus memenuhi persyaratan yang ramah lingkungan. Salah satu syaratnya adalah pembakaran harus dilakukan minimal pada suhu 8000C. Menurut penelitian, pembakaran pada suhu ≥ 8000C adalah pembakaran sempurna sehingga gas emisi yang dihasilkan tidak mencemari lingkungan. Teknologi insinerator sekala kota pada umunya digunakan di Negara yang memiliki lahan terbatas seperti Singapura dan Jepang. Beberapa Kota di Indonesia pernah menggunakan teknologi insinerator skala kecil, namun pada umunya tidak beroperasi lagi disebabkan oleh tingginya biaya operasional.

  1. Pengolahan secara biologi

Sampah dapat diproses secara biologi dengan memanfaatkan mikroba pengurai. Produk yang dihasilkan adalah pupuk kompos, dan biogas. Pupuk kompos yang dihasilkan adalah pupuk organik dan dapat digunakan untuk nutrisi tanaman. Biogas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk kompor gas dan pembangkit listrik skala kecil.

  1. Material daur ulang

Sampah dapat dijadikan bahan material untuk produk baru. Salah satu contohnya adalah memanfaatkan sampah untuk keperluan kerajinan tangan.

 

Paradigma sampah sabagai sumber daya telah berkembang dan diadopsi oleh stakeholder penanganan sampah di banyak Negara termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia dengan tegas menuangkan paradigma ini ke dalam Undang-Undang No 18 tahun 2008 tentang pengelolaan persampahan yang menjadi dasar aturan pengelolaan sampah di Indonesia. Diharapkan ke depan sampah tidak lagi menjadi persoalan rumit dan dapat mengurangi penggunaan APBD dalam menangani sampah.

 

  1. Bagaimana Mencapai Paradigma Sampah sebagai Sumber Daya?

Paradigma sampah sebagai sesuatu yang harus disingkirkan telah melekat kuat di Indonesia. Sampai saat ini, penerapan pola penanganan sampah di Indonesia masih didominasi sistem konvensional atau sistem “angkut-buang”. Ditinjau dari sisi lain, timbulan sampah semakin meningkat terutama di daerah perkotaan dan daerah penyangga perkotaan. Oleh karena itu harus dilakukan pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Menurut (McDougall et al., 2001) Pengelolaan sampah terpadu yang berkelanjutan harus memenuhi aspek yang efektif pada lingkungan, terjangkau secara ekonomi, dan dapat diterima oleh masyarakat. Kajian ketiga aspek tersebut harus disesuaikan dengan kondisi geografis daerah masing-masing.

 

Sistem pengelolaan sampah di Indonesia yang dibangun seringkali mengabaikan sektor swasta dan masyarakat sehingga pengelolaannya tidak terintegrasi. Padahal sektor swasta telah memanfaatkan sampah sebagai sumber kehidupan dan secara tidak langsung dijadikan lapangan pekerjaan sektor informal perkotaan yang berkontribusi mengurangi angka kemiskinan. Berdasarkan penelitan yang dilakukan Istiqomah bersama kawan-kawannya pada tahun 2011, ditemukan bahwa sektor sampah di Jakarta Selatan dapat menyerap tenaga kerja mencapai 1350 orang. Jenis pekerjaan yang dijalani adalah pemulung sebanyak 1056 orang serta pekerja daur ulang sebanyak 294 orang. Penelitian yang hampir sama juga dilakukan oleh Soimah dan Rahayu pada tahun 2013. Berdasarkan penelitian yang mereka lakukan diketahui bahwa Jumlah pemulung di TPA Bantar Gerbang sebanyak 4112 orang, pelapak kecil sebanyak 225 orang, serta lapak besar sebanyak 15 orang. Penghasilan yang didapat oleh pemulung dalam satu bulan di TPA Bantar Gerbang adalah sekitar Rp.600.000,00–Rp.1.000.000,00, pelapak sebesar Rp.3.000.000,00–Rp. 5.000.000,00,/bulan serta penghasilan bandar sampah setiap bulan menghasilkan Rp.10.000.000,00–Rp.55.000.000,00.

 

Upaya pemanfaatan sampah di kalangan sektor swasta telah berkembang dengan baik. Jika pada awalnya aktivitas dilakukan oleh pemulung dan pelapak, namun saat ini telah dilakukan oleh komunitas bank sampah. Konsep bank sampah menekankan bagaimana sampah dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dalam bentuk uang sehingga dengan sendiri masyarakat akan ikut berpartisipasi. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pada tahun 2012 diketahui bahwa jumlah penabung bank sampah sampai bulan mei tahun 2012 mencapai 84.623 orang dan jumlah sampah yang terkelola sebesar 2.001.788 kg/bulan serta perputaran uang sebesar Rp. 3.182.281.000 perbulan. Angka ini meningkat tajam dibandingkan bulan februari tahun 2012 dengan jumlah penabung sampah sebanyak 47.125 orang dan jumlah sampah yang terkelola adalah 755.600 kg/bulan dengan nilai perputaran uang sebesar Rp. 1.648.320.000 perbulan. Besarnya perputaran uang yang dihasilkan dari aktivitas daur ulang sampah menyebabkan industri ini berkembang tanpa dukungan Pemerintah.

 

Berdasarkan hal di atas, maka pendekatan pengelolaan sampah yang dapat dilakukan Pemerintah adalah dengan mengintegrasikan keinginan masyarakat, swasta, dan Pemerintah dengan mengedapankan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Sistem yang dibangun tidak harus sama dengan Negara maju ataupun negara berkembang lainnya, namun disesuaikan dengan kondisi geografis daerah masing-masing. Penggunaan Insinerator yang mampu mengurangi sampah skala kota sampai 85-90% tidak cocok digunakan di daerah yang memiliki jenis sampah organik yang dominan, karena membutuhkan biaya operasional yang tinggi. Oleh karena itu, kemampuan pembiayaan Pemerintah dan Keinginan masyarakat dan swasta harus terakomodasi, sehingga mampu menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan yang ramah terhadap lingkungan, dapat diterima oleh masyarakat, dan dapat memberikan nilai tambah pada aspek ekonomi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Asisten Deputi Pengelolaan Sampah Deputi Pengelolaan B3, Limbah B3 dan Sampah. (2012, November). Buku Profil Bank Sampah Indonesia 2012. Rapat Kerja Nasional Bank Sampah “Dari Sampah Membangun Ekonomi Kerakyatan” Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Malang, Indonesia.

 

Istiqomah, K., Rahayu, S., Ekawanti, W. (2011). Analisis Nilai Ekonomi Sampah Pada Tempat Pengelolaan Sampah (Studi Empirik Pada Suku Dinas Kebersihan Kota Administrasi Jakarta Selatan). Prosiding Seminar Nasional Multidisiplin Ilmu Universitas Budi Luhur, Jakarta 7 Oktober 2011.

 

McDougall, F., Peter W., Marina F., Peter Hindle. (2001). Integrated Solid Waste Management: a Life Cycle Inventory Second Edition. Oxford: Blackwell Science.

 

Memon, M. (2010). Integrated Solid Waste Management Based on the 3R Approach. Jurnal Mater Cycles Waste Manag 12:30–40

 

Soimah, Rahayu, M. (2013). Karakteristik Kewirausahaan Masyarakat Pemulung Pendekatan Fenomenologi terhadap Komunitas Pemulung di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Bantar Gebang Kota Bekasi. Jurnal Aplikasi Manajemen Vol. 11 Nomor 2 Juni 2013.

 

Tchobanoglous, G., Hilary, T., & Samuel, V. (1993). Integrated Solid Waste Management. Singapore: McGraw-Hill.

 

Penulis: 
Diki Anugrah Hardi

Artikel

05/04/2017 | Diki Anugrah Hardi
30/01/2017 | Mukti Purwanto, S....
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/03/2016 | Dessy Parlina, S. Pt, NIP: 19821228..., Jabatan: Pengawas...
18/02/2016 | Faizal, NIP...., Auditor Kepegawaian...
04/02/2016 | Eddu Novandaharto.ST, Fungsional Ahli...
04/11/2014 | Harwanti, S. Pt
8,983 kali dilihat
17/03/2015 | Elfriska Damayanti...
4,195 kali dilihat
29/12/2015 | Eddu Novandaharto...., NIP. 19751121..., FUNGSIONAL AHLI...
2,550 kali dilihat
21/01/2016 | Eddu Novandaharto,..., NIP. 19751121..., FUNGSIONAL AHLI...
2,036 kali dilihat
23/08/2013 |
1,722 kali dilihat
13/03/2014 | Dessy Parlina, S. Pt
1,711 kali dilihat
21/01/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
979 kali dilihat
29/12/2014 | PNPM MPd.Kecamatan...
877 kali dilihat
04/09/2014 | Harwanti, S.Pt
852 kali dilihat
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
608 kali dilihat