Sembahyang Rebut Dusun Anyai dan Dusun Air Junguk

Simpangteritip (14/08/2019 ) Diskominfo,  Sembahyang Rebut atau yang sering di sebut Chit Ngiat Pan dalam Bahasa Hakka dimana “Chit” yang berarti “Tujuh”, “Ngiat” yang juga bermakna “Bulan”, dan “Pan” yang berarti “Setengah” atau “Sebagian”. Sehingga Sembahyang Rebut merupakan salah satu warisan budaya Tionghoa yang jatuh pada bulan 7 tanggal 15 penanggalan kalender cina. Adat kepercayaan warga Tionghoa mempercayai bahwa pada Chit Ngiat Pan pintu akherat terbuka lebar dimana arwah-arwah yang berada di dalamnya keluar dan bergentayangan. Arwah-arwah tersebut turun ke dunia ada yang pulang ke rumah keluarganya ada pula yang turun dengan keadaan terlantar dan tidak terawat, sehingga para manusia akan menyiapkan ritual khusus untuk diberikan kepada arwah yang terlantar tersebut. Selain itu juga disediakan rumah-rumahan yang terbuat dari kertas, uang dari kertas dan baju-baju dari kertas pula. Barang-barang tersebut di buat memang diperuntukkan bagi para arwah.

Bupati Bangka Barat, Markus, S.H. mengunjungi dua lokasi berbeda di kecamatan Simpangteritip yakni Kelenteng Amal Bakti, dusun Anyai, desa Air Menduyung dan Kelenteng Bhakti Mulya, dusun Air Junguk ,desa Pelangas, Rabu (14/8) malam untuk memenuhi undangan perayaan sembayang rebut.

Dari dua lokasi perayaan tersebut, terlihat ramai pengunjung baik dari warga Tionghoa maupun warga muslim yang membaur menjadi satu. Ini menunjukan bahwa toleransi masyarakat di Bangka Barat sangat tinggi.

Dalam sambutnya di Kelenteng Bakti Mulya dusun Air Junguk ,desa Pelangas, Bupati Bangka Barat mengucapkan selamat merayakan Chit Ngiat Pan atau sembahyang rebut.

“Tiap tahun disini masyarakat sangat antusias, ramai, yang penting dijaga ketertiban dan keamanan, semua masyarakat bersama-sama kita jaga acara ini sampai selesai,” kata Markus.

Bupati juga memberikan apresiasi kepada masyarakat yang sudah melestarikan adat istiadat dan budayanya. Pada bulan agustus ini ia juga menyampaikan bahwa banyak acara tradisi yang akan dilaksanakan masyarakat, seperti pesta adat desa kacung, pesta adat desa terentang, dan pesta adat desa kundi.

“Karena salah satu ciri khas Bangka Barat, banyak acara tradisinya’” kata Markus.

Sumber: 
Diskominfo Kab. Babar
Penulis: 
Donny
Fotografer: 
Donny
Editor: 
Amrullah