Stop kekerasan Seksual Pada Anak

Belakangan ini kita sering mendengar kasus-kasus kejahatan yang menyangkut tentang kejahatan seksual. Kejahatan seksual merupakan suatu problematika yang kenyataannya terjadi dalam kehidupan masyarakat. Kejahatan seksual ini merupakan tindakan yang melecehkan kehormatan orang lain. Kejahatan seksual sekarang telah menjadi masalah sosial dan sangat memprihatinkan di Indonesia. Tindakan kejahatan ini biasanya sering dialami oleh kaum wanita. Namun belakangan ini, pelecehan seksual tidak hanya dialami oleh wanita dewasa saja,  tetapi juga banyak dialami oleh anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan. Kejahatan seksual itu sendiri mencakup perzinahan, pemerkosaan, pencabulan maupun pelecehan seksual. Di Indonesia, kasus kejahatan seksual merupakan kasus yang semakin darurat dan terus meningkat setiap tahunnya. Dan yang menjadi korbannya pun bukanlah orang dewasa melainkan remaja dan anak-anak. Anak-anak yang masih sangat membutuhkan kasih sayang dan perhatian yang cukup besar dari keluarga maupun masyarakat. Karena perlu diketahui bahwa anak merupakan sebagai generasi muda yang akan meneruskan cita-cita luhur bangsa, calon-calon pemimpin bangsa dimasa mendatang dan sebagai sumber harapan bagi generasi terdahulu, yang dimana perlu mendapatkan kesempatan yang seluas luasnya untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar baik secara rohani, jasmani dan sosial.

Disinilah sangat perlu dilakukan solusi dan pencegahan dalam menangani kasus tersebut. Seperti halnya, masalah ini tidak akan selesai jika hanya di lakukan dengan perubahan peraturan perundang-undangan dengan pemberatan pidana. Tetapi perlu juga dilakukan pencegahan secara terpadu. Dan bukan hanya Negara yang harus bekerja sendirian dalam menyikapi masalah ini, tapi butuh sistem keamanan yang dapat membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat. Jika keluarga mampu memberi pelajaran tentang akhlak yang baik, budi pekerti serta semua hal-hal yang baik di lakukan tentu tidak akan menimbulkan kejahatan seksual. Anak perlu diberikan pemahaman oleh orang tua mengenai  sex education. Sehingga dengan melalui sex education ini diharapkan dapat tercapainya tujuan dalam menjaga keselamatan, kesucian, dan kehormatan anak di tengah masyarakat.  Cara penyampaiannya tentu harus sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang berlandaskan pada agama dan juga tatakrama, sehingga anak laki-laki maupun perempuan dapat terjaga akhlak dan agamanya. Berikut upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah kejahatan seksual dimulai dari lingkungan keluarga :

1. Ajarkan kepada anak tentang bagian tubuh yang pribadi

Sejak usia balita, anak-anak sudah mengetahui nama sebenarnya dari semua anggota tubuh yang umum. Namun, hal tersebut tidaklah cukup untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual anak. Anda harus mengajarinya tentang bagian-bagian tubuh yang bersifat pribadi. Ajarkanlah kepada anak-anak bahwa bagian tubuh pribadi yang utama yaitu vagina atau penis dan bokong.

2. Beritahu tentang batasan terkait bagian tubuh pribadi

Setelah anak-anak mengetahui bagian tubuh pribadinya, selanjutnya adalah memberitahu kepada mereka bahwa bagian tubuh pribadi itu tidak boleh dilihat dan disentuh oleh orang lain. Dan jelaskan pula bahwa mereka juga tidak boleh melihat dan menyentuh bagian tubuh pribadi orang lain. Penting juga untuk menjelaskan kepada anak-anak kalau ayah-ibu dan dokter diperbolehkan untuk melihat dan menyentuh bagian tubuh pribadi mereka sebatas tujuan perawatan harian dan alasan medis. Pelecehan seksual anak bisa segera disadari oleh anak-anak bila ada orang lain yang menyentuh bagian pribadi ini.

3. Ajarkan anak untuk terbuka kepada Anda

Didiklah anak untuk bersikap terbuka kepada Anda. Tanyakanlah kepada anak tentang hari-hari mereka di saat Anda tidak bersamanya. Buat mereka merasa nyaman untuk membicarakan topik apa pun. Selalu berikan respon yang positif dan ramah bagi anak saat mereka sedang berbicara kepada Anda. Hal ini akan memudahkan bagi anak-anak saat mereka baru saja mengalami kekerasan seksual dan Anda bisa segera mengambil tindakan.

4. Ketahuilah informasi terkait aktivitas anak

Anda perlu mengetahui beberapa hal penting terkait aktivitas anak tanpa Anda. Ketahuilah tempat-tempat anak beraktivitas, teman-teman mereka, guru mereka, dan orang dewasa di sekitar mereka. Kenalilah sedikit lebih dalam dari lokasi dan orang-orang terkait aktivitas anak untuk mencegah peluang terjadinya pelecehan seksual anak.

5. Ajarkan mereka waspada sekalipun dengan orang terdekat

Tanamkan pada diri anak untuk selalu waspada akan bagian tubuh pribadi mereka sekalipun dengan orang terdekat mereka. Orang-orang terdekat selain ayah-ibu tidak boleh melihat dan menyentuh bagian tubuh tersebut. Bangunlah sikap waspada mereka terhadap orang terdekat berjenis kelamin laki-laki. Katakan kepada mereka untuk segera melaporkan kepada Anda apabila ada orang terdekat yang melihat dan menyentuh bagian tubuh pribadi tersebut.

6. Ajarkan anak Anda tentang tindakan apabila ada yang ingin melakukan kekerasan seksual

Beritahulah anak Anda tentang tindakan yang harus diambil apabila ada yang ingin melihat atau menyentuh bagian tubuh mereka. Hal ini sangat penting untuk diketahui anak-anak yang sangat bermanfaat apabila ternyata mereka menghadapi tindakan pelecehan seksual.

Ajarkan anak untuk mengatakan “Tidak” kepada siapa pun apabila ada yang ingin melihat dan menyentuh bagian tubuh mereka yang bersifat pribadi itu. Berteriak dan meminta bantuan kepada orang lain harus bisa mereka lakukan untuk segera menghindari tindakan pelecehan seksual anak.

7. Percayalah apa yang anak Anda katakan

Terdapat beberapa kasus orang tua yang tidak mempercayai laporan anaknya bahwa ia telah mendapatkan tindakan kekerasan seksual. Hal ini dikarenakan orang tua lebih percaya bahwa orang yang dilaporkan anak telah melakukan tindakan pelecehan seksual kepadanya adalah orang yang baik dan tidak mungkin melakukannya. Anda tidak boleh bersikap seperti ini karena sering kali anak-anak lebih bisa dipercaya dalam hal ini. Kecil kemungkinan bagi mereka untuk mengarang tindakan seperti ini. Oleh karena itu, percayalah terhadap laporan anak Anda tentang kekerasan seksual yang menimpanya. Ambilah tindakan untuk mengumpulkan bukti dari sisi anak terlebih dahulu seperti visum. Selanjutnya Anda tahu apa yang harus Anda lakukan.

Hal lain yang juga sangat perlu kita sorotin lebih dalam adalah penggunaan internet pada anak. Sebab internet merupakan salah satu 'gerbang' ke konten-konten pornografi. Pembatasan ini bisa disesuaikan dengan kesepakatan antara anak dengan orangtua dan dengan pengawalan orangtua. Misalnya, boleh mengakses internet namun dibatasi hanya tayangan anak, boleh pegang handphone atau gadget lainya pada jam tertentu. Misalnya setelah belajar atau setelah berhasil mengerjakan pekerjaan rumah dan tugas sekolah. Orangtua juga harus tidak kalah pintar dengan anak. Misalnya membatasi aplikasi yang boleh diunduh ponsel anak, yakni dengan memanfaatkan fitur pengunci aplikasi yang ada di setiap gadgetnya.

Berbagai dampak psikologis yang dialami korban membuat terpuruknya kondisi emosional yang berpegaruh terhadap hubungannya dengan orang lain maka dari itu para korban harus segera mendapat pendampingan psikologis agar ia tidak berlarut-larut dalam trauma dan kesedihan. Selain itu peran keluarga menjadi penting sebagai orang yang dekat dengan anak sebagai “psikolog pribadi” yang harus mendukung anak agar tetap terus semangat menjalani kehidupannya, menumbuhkan rasa kepercayaan diri anak, dan menumbuhkan cita-cita anak yang ia inginkan dimasa depan sehingga si anak kembali mempunyai ambisi untuk mencapainya. Kita perlu merubah mindset kita yang menganggap pelecehan seksual sebagai aib yang harus ditutup-tutupi dari masyarakat sehingga menyebabkan kita segan dan malu untuk melaporkan kasus yang anak alami. Dengan tidak melaporkan kasus tersebut tersebut sama saja seperti kita membebaskan pelaku berkeliaran mencari korban lain untuk melakukan pelecehan yang sama. Pemerintah juga perlu lebih mengedukasi masyarakat dengan memberikan informasi apa dan bagaimana bentuk pelecehan seksual pada anak dan yang lebih penting adalah dengan melakukan penyadaran kepada masyarakat terkait upaya pencegahan agar tidak terjadi pelecehan seksual pada anak-anak kita. Intinya semua pihak harus turun tangan dengan penuh kesadaran untuk memberikan perlindungan kepada anak agar mereka tidak menjadi pelaku atau korban.

Penulis : Dwi Kurnia

Fungsional Pekerja Sosial Pertama

Penulis: 
Dwi Kurnia
Sumber: 
Dwi Kurnia, Fungsional Pekerja Sosial Pertama

Artikel

24/08/2020 | Dwi Kurnia
11/04/2018 | Diki Anugrah Hardi
30/01/2017 | Mukti Purwanto, S....
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
30/01/2017 | Mukti Purwanto, S....
13/03/2014 | Dessy Parlina, S. Pt
29/12/2015 | Eddu Novandaharto...., NIP. 19751121..., FUNGSIONAL AHLI...
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
21/01/2016 | Eddu Novandaharto,..., NIP. 19751121..., FUNGSIONAL AHLI...
21/01/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...