TEKNOLOGI PENYIMPANAN PAKAN

PENDAHULUAN

 

            Pakan dalam budidaya ternak merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam menunjang keberhasilan usaha peternakan.Sekitar 60 – 80 % dari keseluruhan biaya produksi ditentukan faktor biaya pakan (Djanah, 1985).

Efisiensi terhadap pengolahan pakan mempunyai arti yang sangat penting guna menekan biaya pakan.Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah mengganti bahan pakan yang relatif mahal dengan bahan yang relatif murah namun tetap memperhatikan nilai gizi dan ketersediaan bahan pengganti (Wahyuningsih, 1988).Selain menekan biaya pakan yang biasa dilakukan yaitu menjaga kualitas pakan.  Kualitas pakan yang berbeda akan menyebabkan hasil produksi yang berbeda.  Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kualitas bahan baku yaitu pengelolaan dan kondisi penyimpanan (Kushartono, 2002).

            Pakan yang dihasilkan merupakan pakan berkualitas yang tidak sekaligus digunakan oleh peternak.Untuk itu diperlukan penyediaan tempat penyimpanan agar pakan tersebut tidak terkontaminasi yang dapat mengakibatkan menurunnya tingkat kandungan gizi pakan.

 

PENYIMPANAN BAHAN PAKAN

 

            Teknologi penyimpanan perlu dikembangkan untuk memecahkan masalah dalam penyimpanan bahan pakan maupun pakan jadi.  Teknologi pengendalian hama gudang, pencegahan cemaran mikotoksin, dan sistem penyimpanan sangat diperlukan terutama untuk daerah tropis basah seperti Indonesia (Tangendjaja, 2009).

            Penyimpanan adalah salah satu bentuk tindakan pengamanan yang selalu terkait dengan waktu yang bertujuan untuk mempertahankan dan menjaga komoditi yang disimpan dengan cara menghindari dan menghilangkan berbagai faktor yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas komoditi tersebut.  Menurut Prof. Bhadriraju Subramanyam seperti dikutip dalam Trobos (2013), bahwa penyimpanan biji-bijian bahan baku pakan ditujukan untuk mempertahankan kondisi terbaik dalam waktu yang lama.  Penyimpanan pakan sebaiknya tidak dicampur dengan barang lainnya untuk menghindari pencemaran pakan.

 

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KERUSAKAN BAHAN PAKAN

 

            Pengeluaran pakan dari tempat penyimpanan pakan agar diatur sedemikian rupa sehingga pakan tidak terlalu lama dipenyimpanan.  Penyimpanan pakan yang terlalu lama akan menurunkan kualitas dari pakan tersebut.  Berdasarkan pengalaman dilapangan bahwa kerusakan bahan pakan terjadi setelah satu bulan bahan tersebut disimpan (Kushartono, 1996).Faktor-faktor yang mempengaruhi penyimpanan pakan adalah tipe atau jenis pakan, periode atau lama penyimpanan, metode penyimpanan, temperatur, kandungan air, kelembaban udara dan komposisi zat-zat makanan.

            Menurut Prof. Bhadriraju Subramanyam seperti dikutip dalam Trobos (2013), ada tiga hal yang menjadi perhatian dalam penyimpanan bahan pakanterutama yang berupa biji-bijian yaitu bagaimana mempertahankan kualitas, dan bagaimana mengatur ekosistem penyimpanan.Ekosistem penyimpanan merupakan kombinasi faktor fisik dan biologis atau dikenal juga dengan kombinasi faktor biotik dan abiotik.

            Faktor biotik mencakup organisme hidup seperti serangga, tungau, rodensia (hewan pengerat, contohnya tikus), burung, dan jamur.Faktor biotik terbagi menjadi dua kelompok.Serangga dan tungau termasuk dalam kelompok invertebrate (tak bertulang belakang), sedangkan burung dan rodensia masuk kedalam kelompok vertebrata (bertulang belakang).Kelompok invertebrata dapat merusak biji-bijian secara langsung, meninggalkan kotorannya yang disebut dengan frass, dan merusak kernel (bagian inti) biji-bijian.Begitu pula dengan kelompok vertebrata, bedanya kelompok vertebrata merupakan organisme pembawa penyakit.

            Faktor abiotik meliputi segala hal yang tak hidup, seperti cahaya, suhu, kelembaban, dan benda-benda eksternal lainnya (batu, besi, dan biji-bijian non bahan baku pakan).  Faktor abiotik seperti cahaya, suhu dan kelembaban dapat mempengaruhi faktor biotik.Contohnya mempengaruhi populasi serangga dan jamur, germinasi biji-bijian, dan kerusakan lainnya oleh mikroorganisme.

            Kondisi lingkungan mempengaruhi kadar air bahan pakan (butiran) menentukan tingkat kerusakan dan penyusutan selama penyimpanan.  Lingkungan yang lembab dan kotor merupakan salah satu penyebab kenaikan kadar air, hama, jamur dan jasad pengganggu perusak lain sehingga mempercepat kerusakan.  Kandungan air yang terlalu tinggi mengakibatkan kerusakan mekanis sehingga bahan pakan kurang tahan disimpan, karena mikroorganisme mudah menyerang (Kushartono, 2002).

 

Gambar 1.

Kondisi gudang yang lembab dan kotor salah satu penyebab kenaikan kadar air, hama

jamur dan jasad pengganggu perusak lain sehingga mempercepat kerusakan

 

Daya tahan dan daya simpan pakan dan bahan baku sangat tergantung kadar air yang terkandung didalamnya.  Standard Nasional Indonesia (SNI) menetapkan angka ideal kadar air dalam pakan ternak tak melebihi 14%.  Pengeringan sampai kadar dibawah 13% sangat cocok untuk mempertahankan daya simpan.  Makin tinggi kadar air makin cepat penguapan dan makin banyak CO2, air dan panas selama penyimpanan.  Lingkungan yang lembab dan kotor merupakan salah satu faktor penyebab kenaikan kadar air butiran, hama, jamur dan jasad pengganggu perusak lain sehingga mempercepat kerusakan.

 

JENIS-JENIS KERUSAKAN

 

Menurut Saenong (1988), kerusakan pada jagung yang terjadi selama penyimpanan dan faktor penyebab utama penurunan mutu antara lain :

  1. Kerusakan fisik, yang disebabkan terjadinya perubahan kadar air selama penyimpanan yang diakibatkan oleh perubahan cuaca, butiran menjadi pecah dan mudah diserang hama;
  2. Kerusakan biologis, yang disebabkan kegiatan biologis selama penyimpanan seperti serangan hama, jamur dan mikroba;
  3. Kerusakan kimiawi, yang disebabkan karena adanya dekomposisi kimia selama penyimpanan seperti penurunan kadar karbohidrat, protein dan lemak karena proses metabolisme baik oleh serangga maupun mikroba.

 

Ada empat tipe kerusakan bahan pakan/pakan yang disimpan dalam kondisi yang buruk yaitu :

  1. Kerusakan fisik dan mekanik, yaitu kerusakan yang terjadi jika bahan tidak ditangani secara hati-hati waktu kegiatan panen, transportasi, pengolahan dan penyimpanan;
  2. Kerusakan kimia, yaitu meliputi kerusakan bahan akibat reaksi kimia atau reaksi pencoklatan non enzimatik yang merusak partikel karbohidrat, penurunan kandungan vitamin dan asam nukleat;
  3. Kerusakan enzimatik, yaitu terjadi akibat kerja beberapa enzim seperti protease, amylase dan lipase, misalnya : pemecahan molekul lemak menjadi asam lemak bebas dan glycerol oleh enzim lipolitik dan aktivitas enzim proteolitik memecah protein menjadi polipeptida dan asam amino;
  4. Kerusakan biologis, terjadi akibat serangan serangga, binatang pengerat, burung, dan mikroorganisme selama penyimpanan.  Kerusakan bahan pakan/pakan dalam penyimpanan ditentukan oleh interaksi yang kompleks antara kondisi bahan pakan/pakan, kondisi lingkungan dan organisme (mikroorganisme, serangga dan rodentia) perusak kualitas bahan pakan/pakan.  Kerugian yang ditimbulkan selama penyimpanan adalah kehilangan berat, penurunan kualitas, meningkatnya resiko terhadap kesehatan dan kerugian ekonomis

 

TEKNIK PENYIMPANAN BAHAN PAKAN/PAKAN YANG BAIK

 

            Kualitas pakan sangat menentukan terhadap produktivitas ternak.Penyimpanan tanpa penanganan yang benar dapat menurunkan kualitas pakan, sehingga mutu pakan menjadi rendah (Kushartono, 1996).

            Penyimpanan dalam bentuk biji-bijian berkadar air relative rendah (12-16%) yang dilakukan pada suhu kamar, akan sangat membantu mengurangi resiko kerusakan kimia/biologi dan mikrobiologis.  Eliminasi kerusakan tersebut akan lebih dibantu apabila diruangan penyimpanan memiliki lantai kering (tidak lembab, biasanya lantai beton atau semen, atau bahan yang disimpan tidak kontak langsung dengan lantai), terdapat ventilasi yang cukup untuk sirkulasi udara, dan berdinding (tembok, bilik bambo/kayu, seng) (Purwanto, 2011).

            Menurut Kushartono (2002), untuk menghindari timbulnya jasad-jasad pengganggu selama penyimpanan perlu adanya tindakan pencegahan sebagai berikut :

  1. Menjaga kebersihan gudang;
  2. Bahan pakan jangan disimpan terlalu lama;
  3. Hindari kemasan yang rusak;
  4. Perhatikan kadar air bahan, batas simpan yang baik, kandungan air tidak lebih dari 13%;
  5. Pemakaian bahan baku first in first out (FIFO);
  6. Bahan baku pakan diletakkan diatas pallet.

 

Gambar 2.Penyimpanan pakan diatas falet (√) benar dan tanpa alas falet. (x) salah

 

Toto Laksono dalam Sihombing (2012) menyatakan bahwa yang terpenting bukanlah khusus gudangnya, tetapi pemenuhan syarat seperti temperatur, kelembaban, kebersihan, layout, serta bebas dari kontaminasi.  Beberapa parameter untuk gudang yang baik yaitu : terhindar dari matahari langsung, terhindar dari hujan dan bocor, temperature dikisaran 30oC – 34oC, kelembaban tidak lebih dari 70% dan bebas dari hama kutu dan tikus, tidak bercampur dengan bahan kimia seperti pupuk, pestisida dan racun tikus.  Layout atau desain yang baik adalah cukup luas untuk mengatur FIFO (first in first out).Memiliki catatan stok yang rapi dan cukup jarak antara dinding terhadap tumpukan (atau antar tumpukan).  Sementara untuk bahan baku, keperluan gudang akan sangat bergantung pada jenis bahan tersebut.

 

Gambar 3. Contoh gudang yang baik

 

KESIMPULAN DAN SARAN

 

Pakan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam menunjang keberhasilan usaha peternakan, oleh karena itu penanganan bahan pakan/pakan perlu mendapatkan perhatian yang cukup serius salah satunya penanganan selama proses penyimpanan.  Penyimpanan tanpa penanganan yang benar dapat menurunkan kualitas pakan, sehingga mutu pakan menjadi rendah sehingga dapat mempengaruhi produktifitas ternak.

Kerusakan bahan pakan/pakan yang dapat terjadi selama penyimpanan dapat dibatasi dengan cara menjaga kebersihan gudang dan memperhatikan persyaratan dan ketentuan tata cara penyimpanan yang telah ditetapkan.

 

 

 

 

DAFTAR BACAAN

 

 

                Djanah D.1985.  Beternak Ayam dan Itik.  CV. Yasaguna.  Jakarta.

Kushartono B.  1996.  Pengendalian Jasad Pengganggu Bahan Pakan Ternak Selama Penyimpanan.  Prosiding Lokakarya Fungsional Non Peneliti.Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.Hal. 94-97

 

Kushartono B.  2002.  Manajemen Pengolahan Pakan.  Prosiding Lokakarya Fungsional Non Peneliti.Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.Hal.202-209.

 

Purwanto E.  2011.  Laporan Akhir Praktikum Pengemasan, Penyimpanan dan Penggudangan.  Program Studi Teknologi Hasil pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas.  Padang.

 

Saenong S.  1988.  Teknologi Benih Jagung dalam Jagung.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.Hal.163-184.

 

Sihombing A.  2012.  Gudang Pakan Ayam Yang Baik.Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Dwiguna dan Ayam.Sembawa.

 

Tangendjaja B.  2009.  Teknologi Pakan Dalam Menunjang Industri Peternakan di Indonesia.  Jurnal Pengembangan inovasi pertanian 2 (3).Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan.Hal.192-207.

 

Trobos.Edisi 160 Tahun XIV.Januari 2013.Hal.41-48.

 

               PENULIS :

               Dessy Parlina, S. Pt

               Pengawas Mutu Pakan Pertama

               Pada Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat

 

Sumber: 
Dessy Parlina, S. Pt

Artikel

05/04/2017 | Diki Anugrah Hardi
30/01/2017 | Mukti Purwanto, S....
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/03/2016 | Dessy Parlina, S. Pt, NIP: 19821228..., Jabatan: Pengawas...
18/02/2016 | Faizal, NIP...., Auditor Kepegawaian...
04/02/2016 | Eddu Novandaharto.ST, Fungsional Ahli...
04/11/2014 | Harwanti, S. Pt
10,158 kali dilihat
17/03/2015 | Elfriska Damayanti...
4,359 kali dilihat
29/12/2015 | Eddu Novandaharto...., NIP. 19751121..., FUNGSIONAL AHLI...
3,297 kali dilihat
21/01/2016 | Eddu Novandaharto,..., NIP. 19751121..., FUNGSIONAL AHLI...
2,600 kali dilihat
23/08/2013 |
2,094 kali dilihat
13/03/2014 | Dessy Parlina, S. Pt
1,906 kali dilihat
21/01/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
1,518 kali dilihat
30/01/2017 | Mukti Purwanto, S....
1,409 kali dilihat
04/02/2016 |
1,008 kali dilihat
29/12/2014 | PNPM MPd.Kecamatan...
935 kali dilihat