TOKOH MASYARAKAT NTT APRESIASI KERUKUNAN MASYARAKAT BABEL

          Muntok, Bangka Barat, 17/6 (ANTARA) - Tokoh masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) Paulus Demon Kotan mengapresiasi kerukunan masyarakat di Provinsi Bangka Belitung.

         "Masyarakat Babel multietnis, namun kerukunan hidup sangat terasa. Mereka tidak membedakan suku ras dan agama serta terbuka terhadap warga pendatang. Ini perlu dijaga dan ditingkatkan sebagai modal berharga untuk membangun daerah," kata dia di Muntok, Minggu.

         Paulus Demon datang ke Muntok menghadiri undangan Panitia Napak Tilas Rekam Jejak Sejarah Perjalanan Soekarno-Hatta. Dia datang bersama rombongan keluarga para pejuang perintis kemerdekaan RI seperti keluarga Bung Karno, M Hatta, Alisastro Amidjojo, M Roem dan keluarga besar Yayasan Bung Karno yang diselenggarakan Pemkab setempat.

         Menurut dia, kebersamaan tersebut merupakan salah satu nilai-nilai jati diri bangsa yang sudah ada sejak zaman dahulu dan kebersamaan juga sebagai modal perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

         "Kebersamaan tanpa memandang latar belakang suku, ras, agama dan golongan, menjadi modal para pejuang meraih kemerdekaan, nilai-nilai kebersamaan tersebut saat ini sudah memudar sehingga perjuangan dalam melaksanakan pembangunan nasional tersendat," ujarnya.

         Ia mengatakan, kendala kurangnya kebersamaan yang ditunjukkan para pemimpin sebaiknya segera disingkirkan dan kembali menumbuhkan rasa nasionalisme demi kejayaan negeri.

         "Kepentingan dan keutuhan bangsa dan negara di atas segalanya, untuk itu kami minta para pemimpin negeri untuk menyadari dan kembali menggelorakan semangat nasionalisme," ujarnya.

         Menurut dia, kerukunan yang terjadi di Babel, khususnya kehidupan warga Kabupaten Bangka Barat yang penduduknya multientnis dapat dijadikan salah satu contoh mengembangkan rasa kebersamaan, saling menghargai dan menghormati.

         Ia yakin, ke depan Kabupaten Bangka Barat mampu menjadi salah satu daerah yang disegani, maju dan berkembang jika masing-masing individunya mampu menjaga, mempertahankan dan mengembangkan kebersamaan yang ada saat ini.

         "Kebersamaan dan gotong royong merupakan modal besar, ditambah potensi sumber daya alam yang melimpah yang ada di Bangka Barat tentu akan membawa dampak positif pada perkembangan pembangunan daerah," kata dia.

         Sementara itu, terkait Kegiatan Napak Tilas yang dihadiriya, Paulus Demon juga memberikan masukan kepada Pemkab untuk terus dijaga dan dikembangkan karena kegiatan tersebut mampu menumbuhkembangkan nilai-nilai nasionalisme.

         "Kami mendukung kegiatan seperti ini dan kami juga ingin di NTT diadakan kegiatan sejenis karena selama ini kami belum pernah menyelenggarakan kegiatan sepertui ini, padahal Bung Karno pernah tiga kali mengunjungi NTT," ujarnya.

         Ia mengatakan, Soekarno pernah diasingkan pada masa penjahahan Belanda di Ende, NTT pada 1934 sampai 1938, kemudian dia datang lagi sebagai kepala negara ke NTT pada 1955 dan pada 1957 datang kembali ke Larantuka, ujung timur Pulau Flores dengan menggunakan Kapal Katalina.

         "Itu catatan sejarah penting yang terjadi di NTT, kami akan mencoba mengangkatnya menjadi sebuah kegiatan yang diharapkan mampu menggelorakan semangat kebangsaan dan nasionalisme masyarakat NTT, dengan harapan warga NTT bangga akan daerahnya karena daerah itu memiliki peran penting dalam catatan sejarah kemerdekaan Indonesia, " ujarnya.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News