UPAYA PENYEDIAAN DAGING SAPI YANG SEHAT DAN BERMUTU

UPAYA PENYEDIAAN DAGING SAPI YANG SEHAT DAN BERMUTU

Harwanti, S.Pt

Pengawas Mutu Hasil Pertanian

Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan

Kabupaten Bangka Barat

 

PENDAHULUAN

Pengamanan pangan daging sapi mutlak perlu dilakukan untuk menjamin masyarakat sebagai konsumen dalam mendapatkan daging yang aman untuk dikonsumsi. Sebagai bahan pangan, daging memiliki potensi bahaya yaitu biologi, kimia, dan fisik. Bahaya biologi dapat disebabkan oleh bakteri, parasit, virus, fungi; bahaya kimia dapat ditimbulkan adanya cemaran residu antibiotik, hormon, pestisida, zat pengawet/bahan aditif lainnya, dan bahaya fisik seperti tulang, logam, kayu, plastik, dan lain lainnya. Bahaya-bahaya tersebut dapat terjadi pada daging sapi selama proses penyediaannya dan dapat mengganggu, merugikan serta membahayakan kesehatan manusia.

Pengetahuan masyarakat tentang daging yang sehat dan berkualitas dan aman untuk dikonsumsi masih rendah. Umumnya masyarakat tidak tahu dan sebagian lagi tidak mau tahu apakah daging yang dibelinya berasal dari mata rantai proses penyediaan daging yang menjamin keamanannya. Banyak dari mereka berfikir hanya mendapatkan daging yang murah tanpa berfikir apakah daging yang dibelinya aman. Selain itu, pengetahuan para penjual juga masih rendah.

Daging yang beredar di pasar setiap harinya tentunya memiliki kualitas yang sangat bervariatif. Daging yang diperjualbelikan di pasar tradisional ada yang berasal dari pemotongan sendiri oleh jagal yang dilakukan di rumah sendiri. Beragamnya kondisi ternak, cara pemeliharaan dan umur potong dari ternak tersebut menyebabkan kualitas dari daging yang dihasilkan menjadi beragam. Survey di Yogyakarta menunjukkan tingkat cemaran bakteri pada daging segar yang dijajakan di pasar tradisional melebihi standar angka lempeng total (ALT), yaitu mencapai 2,6 x 106 cfu/g sedangkan standar ALT menurut SNI No. 01-6366-2000 sebesar 1x104cfu/g (Drastini dkk, 2003).

 

KRITERIA UNTUK MEMILIH DAGING SAPI YANG BAIK DAN SEHAT

Daging merupakan salah satu jenis hasil ternak yang hampir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Daging sapi mempunyai peran yang cukup besar dalam konteks ketahanan pangan nasional. Seperti halnya dengan komoditas susu ataupun daging unggas, daging sapi menjadi salah satu komoditas sumber protein hewani yang sangat dibutuhkan tubuh manusia untuk kesehatan dan pertumbuhan. Selain itu, daging bersifat mudah rusak (perisable) akibat proses mikrobiologis, kimia dan fisik bila tidak ditangani dengan baik . Dengan demikian dalam proses pemotongan sampai pengolahan perlu diperhatikan supaya menghasilkan daging yang berkualitas

Daging sapi merupakan komoditas daging yang disukai konsumen Indonesia selain daging ayam, daging kambing/domba, dan lain-lainnya. Alasan konsumen menyukai daging sapi ini antara lain karena, pertimbangan gizi, status sosial, pertimbangan kuliner, dan pengaruh budaya barat (Jonsen, 2004), disamping itu tingkat kecernaan protein daging sapi tinggi mencapai 95-100% dibandingkan kecernaan protein tanaman yang hanya 65 - 75% (Aberle et.al.,2001).

Karakteristik kualitas daging merupakan karakteristik yang dinilai oleh konsumen dalam memenuhi palatabilitasnya (sejauh mana daging dianggap dapat diterima atau menyenangkan untuk rasa dan makan) yaitu berkaitan dengan penilaian sensorik atau organoleptik (menyangkut warna, keempukan, citarasa (flavor), dan kebasahan (juiciness)).

Beberapa kriteria yang dapat dijadikan dasar untuk memilih daging yang baik dan sehat adalah sebagai berikut:

  1. Warna Daging

Warna daging adalah salah satu kriteria penilaian mutu daging yang dapat dinilai langsung. Warna daging ditentukan oleh kandungan dan keadaan pigmen daging yang disebut mioglobin. Warna daging sapi segar yang diingini adalah warna merah cerah. Warna daging sapi yang baru dipotong yang belum terkena udara adalah warna merah-keunguan, lalu jika telah terkena udara selama kurang lebih 15-30 menit akan berubah menjadi warna merah cerah. Warna merah cerah tersebut akan berubah menjadi merah-coklat atau coklat jika daging dibiarkan lama terkena udara atau jika daging dikemas dalam kantong hampa udara  (Cross, dkk., 1986).

  1. pH Daging

Perubahan dari otot menjadi daging dimulai dari penyembelihan hewan. Pengeluaran darah sebagai akibat penyembelihan ternak menyebabkan persediaan oksigen di dalam otot yang berikatan dengan mioglobin makin menurun dan menjadi habis. Akibatnya sistem enzim dari sitokrom tidak dapat beroperasi dan sintesis ATP (adenosine tri fosfat) tidak dapat diproduksi. Tidak berhasilnya mensintesis kembali ATP melalui proses glikolisis anaerob, maka tidak memungkinkan mempertahankan tingkat ATP, sehingga ikatan aktin miosin yang terkunci yang mengakibatkan otot menjadi keras proses ini dikenal dengan rigormortis. Kekakuan otot setelah kematian dan otot menjadi tidak dapat diregangkan disebut rigormortis (Soeparno,2005)

Nilai pH merupakan salah satu kriteria dalam penentuan kualitas daging. Nilai pH otot (otot bergaris melintang atau otot skeletal atau yang disebut daging) saat hewan hidup sekitar 7,0-7,2 (pH netral).  Setelah hewan disembelih (mati), nilai pH dalam otot (pH daging) akan menurun akibat adanya akumulasi asam laktat.  Penurunan nilai pH pada otot hewan yang sehat dan ditangani dengan baik sebelum pemotongan akan berjalan secara bertahap, yaitu dari nilai pH sekitar  7,0-7,2 akan mencapai nilai pH menurun secara bertahap dari 7,0 sampai 5,6-5,7 dalam waktu 6-8 jam postmortem dan akan mencapai nilai pH akhir sekitar 5,5-5,6. Nilai pH akhir (ultimate pH value) adalah nilai pH terendah yang dicapai pada otot setelah pemotongan (kematian).   Nilai pH daging tidak akan pernah mencapai nilai di bawah 5,3 karena pada pH dibawah 5.3 enzim- enzim yang berperan dalam proses glikolisis tidak aktif (Lawrie 1979).

Laju penurunan pH otot yang cepat dan ekstensif akan mengakibatkan : (1) warna daging menjadi lebih pucat (pale soft exudative/ PSE), (2) daya ikat protein daging terhadap cairannya menjadi lebih rendah, dan (3) permukaan potongan daging menjadi basah karena keluarnya cairan permukaan potongan daging yang disebut drip atau weep (Forrest et al. 1975). Air daging segar yang menetes tidak dibekukan = weep, sedang yang dibekukan = drip. Warna pucat ini disebabkan oleh karena banyaknya air bebas yang berada diluar serabut daging. Kandungan air ekstraseluler yang tinggi ini menyebabkan kemampuannya untuk memantulkan cahaya akan meningkat dan penyerapan cahaya menurun sehingga intensitas warna akan menurun (warna terlihat pucat).

Menurut Soeparno (2005) kondisi ternak sebelum penyembelihan akan mempengaruhi tingkat konversi otot menjadi daging dan juga mempengaruhi kualitas daging yang dihasilkan. Sapi yang mengalami stress atau kelelahan sebelum dipotong, maka kandungan glikogen pada otot akan menipis, sehingga konsentrasi asam laktat yang terbentuk tidak bisa membuat pH mencapai angka 5,6, bila pH lebih tinggi misalnya 6,2 maka daging akan terlihat gelap, keras dan kering yang dikenal dengan nama dry, firm, dark (DFD). Warna gelap pada daging ini berhubungan dengan daya ikat air (WHC = water holding capacity) yang lebih tinggi dari normal. WHC = kemampuan daging untuk mempertahankan kandungan airnya selama mengalami perlakuan dari luar seperti pemotongan, pamanasan, penggilingan dan pengolahan. Dengan tingginya daya ikat air tersebut, menyebabkan keadaan serabut otot menjadi lebih besar dan lebih banyak cahaya yang diserap dari yang dipantulkan oleh permukaan daging, hal ini yang menyebabkan daging terlihat lebih gelap. Tetapi, pH yang tinggi akan menyebabkan daging sangat mudah dirusak oleh mikroba sehingga umur simpan menjadi pendek.

pH daging dalam katagori rendah 5,1 - 6,1 maka   daging yang di hasilkan akan memiliki karakteristik sebagai berikut : 1.) struktur terbuka cocok untuk dibuat pengasinan, 2.) Warna merah muda cerah disukai konsumen dan 3.) Flavor menjadi baik setelah dimasak atau diasinkan. pH daging katagori tinggi 6,2 - 7,2 maka akan berdampak  seperti : 1.) Struktur tertutup atau padat , 2.) Warna merah-ungu tua, 3.) Rasa kurang enak , 3.) Peka terhadap kerusakan daging akibat   mikroorganisme, 4.) Kemampuan menahan air tinggi (WHC tinggi).

  1. Kondisi Permukaan Daging

Daging segar memiliki permukaan daging yang lembab, tidak basah, tidak kering dan tidak ada lendir. Selain itu daging yang bermutu ditandai dengan permukaan daging yang bersih, bebas dari kotoran-kotoran yang nampak oleh mata. Daging yang kotor akan mudah rusak atau busuk.

  1. Bau

Bau daging dipengaruhi oleh jenis hewan, pakan, umur, jenis kelamin, lemak, lama waktu, dan kondisi penyimpanan. Bau daging dari hewan yang tua relatif lebih kuat dibandingkan hewan muda. Ternak terlalu tua daging akan liat sedangkan yang terlalu muda daging berbau kurang menarik (berbau amis), yang paling baik tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, demikian pula daging dari hewan jantan memiliki bau yang lebih kuat daripada hewan betina. Pekerjaan ternak, makin berat beban kerja ternak, maka dagingnya juga akan menjadi alot dan keras.  Kualitas pakan, pakan rendah kualitas daging yang dihasilkan kurang baik.  Bagian daging yang dipilih, bagian daging dengan kualitas gizi yang tinggi terdapat pada bagian lutut, paha lamosir dan bistik.

  1. Suhu Penyimpanan Daging

Untuk memproduksi daging yang bermutu, biasanya setelah proses pemotongan dilakukan pendinginan (chilling), dan dilakukan proses pelayuan daging atau “pematangan” daging, atau dikenal dengan istilah aging atau conditioning. Pendinginan daging dilakukan pada suhu –1 sampai 1oC selama 24-36 jam sehingga suhu bagian dalam daging mencapai suhu 4oC.

Pelayuan dilakukan antara proses pendinginan dan pembekuan (freezing). Tujuan pelayuan adalah untuk memberi kesempatan terhadap berlangsungnya reaksi-reaksi kimiawi di dalam daging, sehingga daging akan memiliki mutu yang optimum, karena daging memiliki keempukan yang sangat baik, serta memiliki cita rasa dan aroma yang lebih baik. Selama pelayuan (aging/conditioning) terjadi proses post rigor yang menyebabkan peningkatan aktivitas enzim proteolitik yang menyebabkan peningkatan keempukan dan cira rasa (flavor) daging. Pelayuan pada daging sapi dapat dilakukan pada temperatur 4 ºC selama 12 hari atau pada temperatur kamar (29 ºC) selama 8 – 12 jam, selama proses tersebut terjadi perubahan secara sempurna dari otot menjadi daging (Lukman et al. 2007). Lama pelayuan daging sebelum dibekukan akan meningkatkan jumlah cairan daging segar (weep) dan cairan daging beku (drip) yang keluar pada saat pencairan kembali (thawing), yang akan menyebabkan terjadinya penurunan kandungan gizi daging karena sebagian zat-zat dalam daging ikut terlarut dalam drip. Daging yang membeku dengan cepat akan menghasilkan drip yang lebih sedikit pada saat thawing sehingga penurunan gizi daging dapat dicegah, berbeda dengan pembekuan lambat akan menghasilkan drip yang lebih banyak sehingga akan menurunkan kualitas daging beku.

Proses pelayuan ini sebaiknya dilakukan dengan menggantung daging pada ruang bersuhu 0oC selama 14 hari, atau pada suhu 2-3oC selama 10-12 hari, atau pada suhu 4oC selam 6 hari, atau pada suhu 9-10oC selama 1-3 hari. Pelayuan pada suhu dingin sangat dianjurkan untuk menghambat pertumbuhan dan perkembang-biakan kuman-kuman pada daging. Daging yang disimpan pada suhu 0-2 oC dapat bertahan selama 2-3 hari (daging dikemas). Apabila daging dijual tanpa pendingin (suhu ruang di Indonesia sekitar 27-32 oC), sebaiknya daging tersebut disimpan atau dibiarkan tanpa pendinginan tidak lebih dari 6 jam.

Karaktersitik Daging sapi adalah:

  • Warna merah cerah khas daging sapi (warna gelap, warna keungu-unguan dan akan berubah menjadi merah chery bila daging tersebut kontak dengan oksigen terbatas. Daging sapi yang kaku dan berwarna gelap menunjukkan pemotongan dilakukan pada saat tidak tepat, (dalam keadaan stres atau tidak diistirahatkan sebelum dilakukan pemotongan), daging yang berwarna cokelat menandakan sudah terkena udara terlalu lama).
  • Serat daging halus dan sedikit berlemak tergantung letak daging dalam karkas.
  • Daging sapi yang segar berbau dan rasa aromatis, tidak memiliki bau asam atau berbau busuk.
  • Konsistensi padat, tidak lengket ditangan dan tidak lembek bila dipegang.
  • Lemak berwarna kekuning-kuningan.

UPAYA PENYEDIAAN JAMINAN KEAMANAN DAGING SAPI

Aspek mutu dan keamanan merupakan bagian penting dalam bidang pangan dan perlu mendapat perhatian khusus. Pendekatan preventif seperti halnya penerapan SSOP, higiene dan sanitasi selama proses penanganan/ produksi dianggap paling baik untuk menangani masalah keamanan pangan. Penyediaan pangan asal hewan khususnya daging sapi yang ASUH diharapkan akan meningkatkan nilai jual produk tersebut, sehingga dapat meningkatkan pangsa pasar dan jaminan konsumen terhadap produk yang sehat, aman, utuh dan halal. Adapun yang dimaksud dengan daging yang ASUH adalah :

AMAN  :  daging tidak mengandung bibit penyakit (bakteri, kapang, kamir, virus, cacing parasit atau piron), bahaya biologi, fisik serta residu bahan kirnia yang dapat menyebabkan penyakit atau mengganggu kesehatan manusia.

SEHAT  : daging memiliki zat-zat yang berguna bagi kesehatan dan pertumbuhan tubuh

UTUH   : daging tidak dicampur dengan bagian lain dari hewan tersebut atau bagian hewan lain.

HALAL :  hewan dipotong dan ditangani sesuai syariat Agama Islam.

Beberapa hal yang harus dikerjakan dalam rangka memberikan jaminan keamanan pangan daging sapi bagi konsumen adalah :

  1. Peningkatan Pendidikan dan Pengetahuan Konsumen/ Masyarakat
  • Pendidikan kapada masyarakat merupakan kunci mengubah perilaku seluruh proses produksi daging. Meningkatnya kesadaran dan tuntutan masyarakat akan produk daging yang sehat dan aman akan “memaksa” pelaku usaha penyedia daging untuk berperilaku produksi sesuai tuntutan itu.
  • Pengetahuan masyarakat tentang kualitas daging sapi yang sehat dan potensi bahaya yang dapat ditimbulkan dan tindakan pencegahannya perlu disosialisasikan secara luas dan terus-menerus.
  • Diperlukan dukungan berbagai pihak seperti pemerintah melalui instansi teknis terkait, lembaga konsumen, organisasi masyarakat, lembaga-lembaga non pemerintah, dan lembaga/instansi lain.
  1. Meningkatkan dan Memaksimalkan Peran Rumah Pemotongan Hewan
  • Daging yang aman dan bermutu harus diperoleh dari hasil pemotongan yang sah menurut perundang-undangan yang berlaku yaitu RPH/RPU atau TPA/TPU dan telah mendapatkan izin pemerintah yang berwenang.
  • Rumah pemotongan hewan merupakan salah satu tahapan penting dalam rantai penyediaan daging di Indonesia.
  • Berdasarkan SNI 01-6159-1999 disebutkan bahwa RPH adalah kompleks bangunan dengan

desain khusus yang memenuhi persyaratan teknis dan higien tertentu serta digunakan sebagai tempat memotong hewan potong selain unggas bagi konsumsi masyarakat.

  • Persyaratan teknis RPH telah diatur dalam SK Menteri Pertanian No.13/Permentan/OT.140/1/2010 tentang persyaratan rumah potong hewan ruminansia dan unit penanganan daging (meat cutting plant). Dimana dalam persyaratan tersebut ditetapkan kelas RPH yaitu A, B, C, dan D berdasarkan luas peredaran daging, dan pengelompokan didasarkan pada fasilitas yang harus dimiliki RPH bukan pada persyaratan minimum yang menyangkut aspek teknik higiene, sanitasi, dan kesehatan masyarakat veteriner.
  • Selain itu, rumah potong hewan harus memenuhi beberapa syarat seperti :
  1. Berlokasi didaerah yang tidak menimbulkan gangguan atau pencemaran lingkungan serta mudah dicapai oleh kendaraan;
  2. Komplek RPH harus dipagar yang berfungsi untuk memudahkan penjagaan keamanan;
  3. Memiliki ruangan yang digunakan sebagai tempat penyembelihan, dinding dan lantai kedap air, ventilasi yang cukup;
  4. Mempunyai perlengkapan yang memadai;
  5. Pekerja berpengalaman dalam bidang kesehatan masyarakat veteriner, dan
  6. Bangunan utama RPH, kandang dan tempat penyimpanan alat-alat untuk pemotongan babi harus terpisah dengan alat dan tempat pemotongan sapi, kerbau dan kambing.
  • Jaminan produk daging sehat yang dihasilkan RPH diperoleh dengan menerapkan praktek higiene dan sanitasi atau dikenal sabagai praktek yang baik/ higienis, good manufacuring practice (GMP). Secara umum praktek higiene dan sanitasi tersebut meliputi higiene personal, bangunan, peralatan, proses produksi, penyimpanan, dan distribusi (Luning et.al., 2003)
  1. Tindakan Penegakan Hukum Bagi Para Pelaku Kecurangan Pada Bisnis Daging
  • Produk hukum yang berkaitan dengan bisnis peternakan dan jaminan keamanan pangan sudah ada seperti UU No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Peraturan Pemerintah (PP) no. 22  tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner, PP No. 102 tahun 2000 tentang Standar Nasional Indonesia, UU No. 18 tahun 2012 tentang Pangan, UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan peraturan-peraturan lain misalnya yang berupa surat keputusan menteri atau peraturan daerah.
  • contoh kasus tindakan mengeglonggong sapi sebelum disembelih, tindakan ini dapat dijerat dengan menggunakan Undang-Undang no. 18 tahun 2012 tentang Pangan khususnya pelanggaran pasal 68 ayat (2) yang berkaitan dengan keamanan pangan dan mutu pangan serta ancaman hukumannya dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).
  1. Peningkatan koordinasi dan optimalisasi instansi teknis terkait
  • Para pimpinan daerah seharusnya telah mengetahui segala peraturan termasuk di bidang peternakan yang melekat dengan jabatan yang mereka emban sehingga dapat segera mengambil tindakan apabila terjadi kondisi darurat.
  • Program-program yang meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bagi para pelaku bisnis peternakan juga seharusnya dilakukan terus-menerus dan terprogram menuju ke arah yang lebih baik.
  • Kerjasama dengan instansi teknis terkait misalnya kesehatan, perdagangan, organisasi sosial kemasyarakatan, dan lembaga swadaya masyarakat untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang daging sehat sehingga masyarakat semakin sadar dan tahu tentang daging sehat dan aman sehingga diharapkan mereka akan menuntut ketersediaan bahan pangan yang aman dan berkualitas untuk dikonsumsi karena keamanan pangan daging merupakan jaminan mutlak yang tidak bisa dipungkiri sebagaimana tuntutan aman pangan yang aman dikonsumsi sebagaimana dijelaskan dalam Undang-undang No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Hak konsumen adalah kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsinya. 
  1. Pengawasan Daging Impor
  • Pengawasan daging impor dilakukan mulai dari sejak bahan tersebut berada di Negara asalnya sampai dipasarkan di wilayah Indonesia.
  • Pengawasan tersebut meliputi: a. Penilaian terhadap Negara asal, b. Pengawasan di pelabuhan, c. Pengawasan distribusi daging impor.

PENUTUP

Daging sapi merupakan sumber protein yang baik bagi kesehatan dan pertumbuhan tubuh manusia namun dalam upaya menyediakannya perlu memperhatikan keamanan dan kualitasnya. Daging sapi sehat dihasilkan dari proses produksi yang menerapkan sistem keamanan pangan dengan melaksanakan higene dan sanitasi yang baik sejak dari RPH hingga pengecer. Penegaan hukum juga harus dilakukan untuk memberikan/mengupayakan jaminan keamanan daging sapi di Indonesia.

Daging sapi yang berkualitas, berwarna merah segar. Daging yang berwarna gelap biasanya mempunyai pH tinggi dan rentan dirusak mikroba, daging yang berwarna pucat cenderung ber-pH rendah, pH daging yang baik diantara kisaran antara 5,1 – 6,1 dengan pH akhir sekitar 5.6. Daging segar memiliki permukaan daging yang lembab, tidak basah, tidak kering, tidak ada lendir, bau dan aroma yang khas, keset (tidak nampak kering dan juga tidak berair), konsistensi padat, tidak lengket ditangan dan tidak lembek bila dipegang serta lemak berwarna kekuning-kuningan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Aberle ED, Forrest JC, Gerrard DE, dan Mills EW. 2001. Principles of Meat Science. Fourth

edition. Kendal/Hunt Publishing Company.

 

Cross, H.R. and A.J. Overby 1988. World Animal Science : Meat Science, Milk Science and Technology. Elsevier Science Publisher B.V., Amsterdam.

Drastini Y, Sumiarto B, Indriana J, Bunthara Y, dan Nugroho WS. 2003. Analisa dan Identifikasi Mutu Daging Ayam di Daerah Istimewa Yogyakarta. LPM UGM.

Forrest, J.C., Aberle, E.D., Hedrick, H.B., Judge, M.D dan Merkel, R.A., (1975). Principels of Meat Science. W.H. Freeman and Company.

Jonsen GD. 2004, Prospek dan Preferensi Masyarakat Terhadap Konsumsi Daging Sapi Olahan Di Indonesia. Di dalam: Seminar FGW Food Conference, Jakarta 6-7 Oktober 2004.

Lawrie, R.A. 1979. Meat Science. Pergamon Press, Oxford.

Luning PA, Marcelis WJ, dan Jongen WMF. 2003. Food Management Quality-a Techno Managerial Approach. Wageningen: Wageningen Pers.

Soeparno 2005. Ilmu dan Teknologi Daging. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Penulis: 
Harwanti, S.Pt
Sumber: 
Pengawas Mutu Hasil Pertanian Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Bangka Barat

Artikel

05/04/2017 | Diki Anugrah Hardi
30/01/2017 | Mukti Purwanto, S....
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
08/03/2016 | Dessy Parlina, S. Pt, NIP: 19821228..., Jabatan: Pengawas...
18/02/2016 | Faizal, NIP...., Auditor Kepegawaian...
04/02/2016 | Eddu Novandaharto.ST, Fungsional Ahli...
04/11/2014 | Harwanti, S. Pt
8,983 kali dilihat
17/03/2015 | Elfriska Damayanti...
4,195 kali dilihat
29/12/2015 | Eddu Novandaharto...., NIP. 19751121..., FUNGSIONAL AHLI...
2,551 kali dilihat
21/01/2016 | Eddu Novandaharto,..., NIP. 19751121..., FUNGSIONAL AHLI...
2,036 kali dilihat
23/08/2013 |
1,722 kali dilihat
13/03/2014 | Dessy Parlina, S. Pt
1,711 kali dilihat
21/01/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
981 kali dilihat
29/12/2014 | PNPM MPd.Kecamatan...
877 kali dilihat
04/09/2014 | Harwanti, S.Pt
853 kali dilihat
08/04/2016 | ELFRISKA DAMAYANTI..., NIP. 19820425..., FUNGSIONAL...
608 kali dilihat