WAMENAG: TAK LANGGAR AYAT JIKA UMAT TERLIBAT SENI

     Kaimana, 27/4 (ANTARA) - Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, tidak ada satu pun ayat yang dilanggar dalam ajaran agama jika umat mengembangkan kesenian yang menunjukkan ciri khas daerah dalam konteks kebhinekaan yang kini berkembang.

     Berkesenian dengan bentuk yang khas kebhinekaan dan dibawakan oleh penyanyi yang dilatih khusus untuk kepentingan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), misalnya pada MTQ IV Papua Barat di Kaimana, sangat membanggakan, kata Nasaruddin Umar dalam silaturahim dengan tokoh agama dan masyarakat Papua Barat di Kaimana, Jumat petang.

     Ikut mendampingi Wamenag pada acara itu Gubernur Papua Barat Abraham Oktavianus Aturari, Kakanwil Kemenag Juliana Leong, anggota DPR dari Partai Demokrat asal Papua Barat Mikael Watimena.

     Esensi berkesenian bagi umat, bukan hanya terbatas pada olah vokal dan menari, tapi juga lebih luas lagi yang dimaksudkan untuk memberikan dukungan menghaluskan rasa, kehalusan budi dan kebersamaan. Nabi Muhammad SAW pun orang yang gemar terhadap kesenian yang dibuktikan membela isterinya, Aisah, yang ditegur Abu Bakar ketika mendengarkan penyanyi di kediamannya, cerita Wamenag.

     Dalam agama mana pun, katanya, ia yakin seni tak dapat dipisahkan untuk mengekspresikan kehalusan rasa dan kehalusan budi bagi seluruh umat.

     Karena itu, ia pun menyambut gembira bahwa di beberapa daerah, seperti di Papua Barat dan Ambon ada kelompok seni menyanyikan mars
MTQ dibawakan umat Nasrani dan sebaliknya ketika  berlangsung paduan suara Pesparawi ada umat muslim memberikan sumbangannya.

     Peristiwa ini tidak melanggar ayat yang ada di Al Quran dan kitab agama lainnya. Karena itu ketika orang Arab bertanya tentang pesta umat Islam, Nasaruddin Umar menjelaskan tidak menyebut MTQ sebagai pesta umat muslim. Tapi justru MTQ merupakan pesta umat dan rakyat karena sumbangannya dan yang menikmati adalah rakyat setempat.

     Para sufi dalam memberikan pemahaman juga lewat kehalusan rasa, yaitu dengan kesenian. Tanpa kesenian ia yakin bakal banyak kekerasan dan justru hal itu harus dihindari.

     "Kita perlu kekuatan kelembutan dan agama telah menawarkan hal itu. Dalam agama mana pun," tambahnya.

     Kegiatan MTQ sesungguhnya juga telah menjadi sarana untuk menghaluskan rasa dan nilai kebhinekaan. Kondisi itu patut dipertahankan dan harus diyakini di situ ada nilai kebersamaan yang bisa dijadikan sumber memajukan kerukunan antarumat beragama, katanya.

     Terkait dengan itu ia pun minta kepada para tokoh agama di Papua untuk menunjukkan keteladanan dan menjadi motivator bagi kemajuan daerah setempat. Peran ulama, pastor dan pedeta dan tokoh masyarakat sangat penting dalam hal ini.

     Sangat sulit pemerintah menjalankan programnya untuk meraih sukses besar jika tokoh agama tak dilibatkan. Sebagai contoh, program KB yang mendapat apresiasi dari PBB, katanya.

     Selain itu, tokoh agama setempat diharapkan pula bisa mengangkat kearifan lokal yang berkembang. Kearifan yang dimiliki para tokoh agama bisa menjadi inspirasi untuk mengembangkan kerukunan bagi umat. Orang arif memang harus mampu mengolah kecerdasan dan spiritualitas yang dimiliki, ia menjelaskan.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News