WAMENDIKBUD LUNCURKAN DUA BUKU PENDIDIKAN KARAKTER

     Jakarta, 27/4 (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim meluncurkan dua buku berjudul "Pendidikan Karakter, Mengarusutamakan Nilai-Nilai Toleransi, Antikekerasan, dan Inklusi" untuk siswa sekolah menengah atas (SMA) di Jakarta, Jumat.

     Buku tersebut diterbitkan Maarif Insitute sebagai upaya memutus mata rantai kekerasan di antara para pelajar.

     "Penerbitan buku ini penting karena eskalasi kekerasan di antara para siswa didik di negara kita semakin meningkat," kata Musliar dalam peluncuran buku dan diskusi "Pendidikan Karakter, Merawat Toleransi dan Memutus Budaya Kekerasan".

     Dua buku berjudul sama tersebut ditujukan sebagai bahan ajar guru SMA untuk mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan Pendidikan Agama Islam (PAI).

     Buku PKn berisi tentang ajaran nilai-nilai Bhineka Tunggak Ika, kesetaraan, anti diskriminasi, kebebasan pers, penegakan hukum, keterbukaan pada perbedaan, Pancasila, dan keadilan sosial (Bab 1-9). Sementara buku PAI menuliskan sisi agama Islam yang jarang diajarkan di SMA di antaranya nilai-nilai demokrasi (Bab 7), antikekerasan (Bab 6), dan inklusi sebagai semangat peradaban Islam (Bab 13).

     "Buku ini juga berperan vital dalam menangkal upaya dari berbagai pihak yang dengan sengaja ingin menggerus empat pilar kebangsaan kita," kata Musliar.

     Musliar menceritakan bahwa kunci jawaban kasus lembar kerja siswa yang mengatakan bahwa ideologi negara Indonesia adalah komunis merupakan contoh bagaimana beberapa pihak dengan sengaja ingin menanamkan nilai-nilai yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.

     Sementara itu, aktivis Maarif Institute Fajar Riza Ul Haq mengatakan bahwa penerbitan buku ini adalah upaya untuk memutus mata rantai kekerasan di kalangan para pelajar.

     "Penelitian lembaga kami menunjukkan bahwa kekerasan yang disebabkan oleh intoleransi di kalangan pemuda meningkat, buku ini adalah keikutsertaan kami untuk memutus mata rantai tersebut," ujar Fajar.

     Menurut dia, kekerasan di kalangan pemuda dan siswa SMA bukan hanya tanggung jawab pemerintah melainkan juga organisasi masyarakat sipil dan perusahaan swasta yang peduli terhadap Indonesia.

     Selain sebagai upaya untuk menumbuhkan toleransi yang antikekerasan, Fajar mengatakan bahwa buku ini Benny Ahmad Benyamin dan Jojo Budi Susanto (mata pelajaran PKn), serta Dian Lestari dan Hamid Suprayitno (mata pelajaran PAI), juga merupakan dukungan terhadap program pemerintah untuk mengembangkan pendidikan karakter.

     "Pada 2010 lalu, pemerintah  mencanangkan program pendidikan karakter, namun sampai sekarang belum ada langkah konkrit untuk menurunkan konsep konsep tersebut dalam hal praktis," ucapnya.

     Fajar berpendapat bahwa dua buku tersebut bisa jadi merupakan jawaban mengenai bagaimana bentuk pendidikan karakter yang harus diterapkan kepada siswa SMA.

     Maarif Institute menerbitkan buku ini bekerja sama dengan Kantor Berita ANTARA, Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Kota Yogyakarta, Kabupaten Pandeglang, dan Kabupaten Cianjur.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News