WARGA MUNTOK MINTA KEJELASAN WILAYAH RADIASI TINGGI

         Muntok, Bangka Barat, 11/5 (ANTARA) - Warga Muntok, Provinsi Bangka Belitung meminta Pemkab Bangka Barat memperjelas batas wilayah yang memiliki tingkat radiasi tinggi karena dikhawatirkan akan membawa dampak negatif bagi kesehatan manusia.

         "Seperti di Wasray Muntok jika memang ada paparan radiasi tinggi, sebaiknya Pemkab atau perusahaan yang bertanggung jawab membentuk zona bebas dari aktivitas umum, di sana harus ada larangan jangan sampai masyarakat keluar masuk zona radiasi itu," ujar Agus B (34), perwakilan warga Muntok, Jumat.

         Hal ini disampaikan terkait keresahan warga di Muntok karena pernyataan tiga aktivis dan peneliti dari Jepang pada Kamis (10/5) yang menemukan fakta di Pulau Bangka diduga memiliki kadar radiasi di atas normal karena aktivitas pengolahan bijih timah.

         Para aktivis tersebut mengatakan, di Muntok setelah diukur dengan alat pendeteksi radiasi, tercatat kadar radiasi mencapai angka 0,22 mikrosibel.

         Ia mengatakan tingkat radiasi tersebut kalau terjadi di Jepang sudah mencapai tingkat sangat mengkhawatirkan.

         Agus menambahkan, warga juga harus tahu berapa tingkatan radiasi yang dikatakan aman dan masih dibawah ambang batas tersebut karena selama ini mereka hanya tahu Unit Metalurgi dan Wasray Muntok saja yang termasuk lokasi paparan radiasi tinggi di wilayah Muntok.

         Hal senada disampaikan warga lainnya Dewi.

         Menurut dia, meskipun paparan radiasi dinyatakan masih dibawah ambang batas, namun diharapkan pihak dan lembaga yang berkompeten jangan sampai lengah memberikan pengamanan atau larangan masuk dan mendekati lokasi tersebut dengan garis atau pagar pembatas.

         "Sebaiknya ada kajian dan penjelasan secara detail dan transparan mengenai seberapa besar galian tambang dan timah menimbulkan radiasi untuk mencegah keresahan warga seperti saat ini," ujarnya.

         Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Bangka Barat Chairul Amri Rani meminta warga untuk tidak resah dan melakukan aktivitas seperti biasa karena radiasi yang  ditimbulkan sampai saat ini masih dalam batas kewajaran.

         "Kami berkerja sama dengan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) terus melakukan pemantauan tingkat radiasi secara berkelanjutan, dan lebih fokus pada kenaikan radioaktivitas alami sekaligus mencari data pembanding dari pihak Batan yang sedang melakukan uji tapak," ujarnya.

         Ia mengatakan, pengendalian tenorm merupakan upaya terpadu dalam rangka menhilangkan dan mengurangi kemungkinan timbulnya dampak akibat tenorm atau 'Technologi Enhaced Naturally Accuring Radioactive Material' terhadap pekerja, masyarakat dan lingkungan.

         Menurut dia, tingkat radiasi tinggi tidak hanya terdapat di dua tempat tersebut, namun hampir di seluruh Bangka terkena radiasi karena daerah tersebut memiliki kandungan mineral sumber radiasi.

         "Tidak usah jauh-jauh, di rumah kita saja ada radiasinya dan tingkat radiasi tersebut dapat dikurangi dengan memperbanyak ventilasi agar sirkulasi udara lancar, atau dapat juga dengan membiasakan membuka pintu dan jendela setiap pagi," ujarnya.

Sumber: 
Antara News
Penulis: 
Antara News