Friday, March 15, 2013 - 10:19

Sejarah Kelapa

“ Kelapa merupakan salah kecamatan yang ada di Kabupaten Bangka Barat yang berbatasan dengan kecamatan Bakam Kabupaten Bangka . Konon nama Kecamatan Kelapa berasal dari kisah tumbuhnya sebuah pohon kelapa yang memiliki keunikan, pohon kelapa tersebut hanya berbuahkan satu buah kelapa tidak lebih. “

Menurut ketua lembaga adat kecamatan Kelapa, Johari  dahulu di Kelapa ada 2 Puak atau suku yaitu Puak Sepang dan Puak Puak Sepanak, Puak Sepang menempati bagian hillir sedangkan dibagian hulu dihuni oleh Puak Sepanak

Oleh pemerintahan Belanda sekitar tahun 1800 an kedua Puak tersebut dijadikan satu menjadi Puak Empang, penyatuan dua Puak tersebut karena untuk memudahkan pemerintah Belanda mengawasi kedua Puak tersebut.

Sejak masuknya Belanda  maka terbentuklah aparat  pemerintahan di Bangka dengan dibentuknya Gegading yang  berhubungan langsung  dengan masyarakat, Lebay dibidang keagamaan  yang saat ini adalah penghulu  dan  Demang yang berhubungan langsung dengan pemerintahan colonial Belanda. ( saat ini adalah Camat ) Demang yang terkenal di Kelapa pada saat itu adalah Demang Imam.

Puak Empang yang dibentuk oleh pemerintahan Belanda berbatasan dengan Jerieng di sebalah barat  dengan Kedale disebelah timur,  dan dengan Pusuk atau pada saat itu puak Maras disebelah utara.

Sejak meletusnya gunung Krakatau tahun 1883  Puak empang berubah namanya menjadi Kelapa,  dirubahnya nama puak Empang oleh pemerintah Belanda karena pada waktu itu Aparat Belanda yang melakukan perjalanan dari Muntok menuju Pangkalapinang menggunakan kereta kuda  beristirahat selama 2 atau 3 malam di Kelapa, kuda mereka tambatkan di sebuah pohon Kersana. Ditempat perisitirahatan para Demang Belanda atau aparat Belanda disebut dengan kamar Bola. Mereka melakukan permainan biliar untuk mengisi waktu senggang mereka.

Disimpang tiga (simpang Gedung serbaguna) tempat berdirinya kamar bola tempat perisitirahatan mereka tumbuh sebuah pohon kelapa, dari daun sampai buah semuanya hijau dan berbuah selalu tungal atau satu tidak ada yang dua sebesar bola kaki. Awalnya pohon ditananm oleh masyarakat Puak Empang namun entah kenapa akhirnya hanya tertinggal satu pohon kelapa. Karena keunikan itu maka Puak Empang berubah menjadi Kelapa.

Kelapa ada tiga desa Tebing, Beruas dan Kelapa. Beruas asimilasi suku kedale dan Empang, Tebing asli puak Empang yang menyendiri, Kelapa . Tempat perkampungan Puak Empang diperkirakan seluas 4 empat hektar yang  terbukti dengan adanya perkuburan yang berada di hutan seluas 4 hektar lebih.

Peranan dukun pada saat itu dirasakan masih memegang peranan penting karena setiap acara taber kampung dilakukan oleh seorang dukun. Semenjak disebarkannya agama Islam oleh para pendakwah  dan lebay mengajarkan penduduk Kelapa cara mengerjakan sholat, ilmu agama Islam.

Bukti penyebaran agama Islam di Kelapa dapat terlihat disebelah hulu  adanya salah satu pohon yang tumbuh condong seolah –olah layaknya orang yang sedang sujud maka kelekak itu kelekak menyembah .

Surau yang pertama dibangun adalah surau Al Awal yang  berlokasi  disebelah kanan  dari arah Muntok sebelum simpang empat. Surau tersebut diperkirakan   dibangun tahun 1900 , surau Al Awal tersebut terakhir  direnovasi tahun 1956 .

Kecamatan Kelapa  yang seluas 664,47 km 2sekarang termasuk salah satu kecamatan di kabupaten Bangka Barat, yang dihuni oleh 33.661 orang. Kecamatan Kelapa yang awalnya hanya terdiri dari 3 desa atau Puak sekarang telah ada 13 desa .

Seperti halnya daerah di Propinsi Kepualauan Bangka Belitung kecamatan Kelapa juga mempunyai potensi sumber daya alam berupa timah yang masih menjadi andalan bagi masyrakat kecamatan Kelapa. Selain timah Kecamatan Kelapa juga terdapat ratusan hectare pohon sawit, dan pohon lada atau sahang   yang juga menjadi andalan masyarakat Kelapa sebagai sumber mata pencaharian mereka.

Desa Tuik yang merupakan salah satu desa di kecamatan Kelapa juga dicanangkan sebagai salah satu lumbung padi di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung oleh gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Setiap tahunnya desa Tuik mengadakan pesta panen raya yang dihadiri oleh gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Bupati  Bangka Barat  merupakan salah satu bukti kesuburan tanah di desa Tuik kecamatan Kelapa.

Disusun oleh                                 : Laksamana Muhammad Yusuf

Nara Sumber                                : Bapak Johari Ketua Lembaga Adat Kecamatan Kelapa

Pengirim: 
LM Yusuf
Sumber: 
Humas dan Protokol
Articles
13/03/2014 | Dessy Parlina, S. Pt
TATALAKSANA PAKAN TERNAK RUMINANSIA (SAPI POTONG)
15/11/2013 | lmyusuf
Menuju Pasar Sehat
22/08/2013 | lmyusuf
Chiong Si Ku atau Sembahyang Rebut
11/08/2013 | lmyusuf
Masjid Sebagai Rumah Umat Islam
02/08/2013 | LMYusuf
Puasa adalah Benteng
02/08/2013 | LMYusuf
Puasa dan Kesabaran
29/07/2013 | LMYusuf
Pembunuh 99 Orang
29/07/2013 | lmyusuf
Puasa yang Berkualitas